Saturday, April 2, 2011

Sengsara karena tidak memberi

Siapa yang menanam, dia akan menuai. Inilah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan manusia.
Seorang yang banyak memberi, ia pasti akan banyak menerima. Kita bisa menyaksikan fenomena ini pada orang-orang di sekitar kita.
Biasanya, mereka yang dermawan hidupnya terasa damai, lapang, dan banyak kemudahan. Mereka dekat di hati orang-orang di sekitarnya.
Harta mereka berkah dan membawa kebaikan bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Kalau pun suatu saat mereka menghadapi kesulitan, ada sekian banyak pintu yang terbuka siap memberikan pertolongan.
Karena itu bila ingin banyak jalan kemudahan, orang harus banyak memberi. Terlebih, dengan memberi kita akan selalu dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surga, serta jauh dari neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, Sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat pada Allah, dekat pula pada manusia dan dekat dengan surga, jauh dari neraka. (Riwayat Tirmidzi dan Daruquthni)
Tamak Bikin Sengsara
Sayangnya saat ini banyak orang yang berkecukupan tapi masih saja mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bila kebutuhan makan sudah terpenuhi, sandang dan papan pun bisa dibeli, seharusnya ia sudah bisa berbagi.
Tapi orang sering diperbudak keinginannya yang bermacam-macam. Apa yang diterima tidak disyukuri. Yang dirasakan selalu kurang.
Kalau sikap serakah ini yang dikembangkan, maka kita akan terpuruk. Kita akan dikuasai syahwat duniawi. Menjadi budak nafsu. Nabi SAW menasehati:
Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Seorang yang serakah seperti itu, di samping tidak bersyukur, sebenarnya ia telah mengingkari bahwa Allah Ta’ala telah melimpahkan karunia kepada dirinya. Padahal alam semesta sesungguhnya telah dirancang oleh Allah Ta’ala untuk banyak memberi. Matahari yang tanpa batas memancarkan cahayanya. Berapa uang yang harus kita keluarkan andai harus membayarnya?
Di tangan manusia yang serakah, karunia yang berlimpah itu bukan disebarkan, tapi ingin dikuasai sendiri. Bahkan banyak pula yang mengomersialkannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Mungkin andai matahari bisa dikuasai, cahayanya pun akan dimonopoli untuk diambil keuntungannya.
Padahal, orang yang serakah pada akhirnya akan kecewa saat apa yang diambilnya itu ternyata sama sekali tidak membahagiakan dirinya. Bahkan, penyesalan itu kadang datang lebih cepat sebelum ia menikmati keserakahannya.
Sebanyak apapun harta yang dimiliki, kalau harta itu akan memperbudak dirinya sampai melalaikan Allah Ta’ala, pastilah kerugian yang akan diterima. Allah Ta’ala berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun [63]: 9)
Bagi orang-orang yang tamak, harta yang direbut dengan segala cara tidak bisa menyelamatkannya dari siksa neraka. Ia akan terpisah dari harta yang dicintainya itu ketika ajal sudah menjemput.
Bahkan, harta yang ditimbunnya itu akan menjelma menjadi beban yang teramat berat. Pertanggungjawaban di hadapan Ilahi telah menanti. Niat bersedekah dan berbagi pun terlambat. Firman Allah Ta’ala:
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”(Al-Munafiqun [63]: 10)
Karena itu, bersegeralah bersedekah sebelum terlambat. Jangan sampai harta membuat kita terhalang mendekat pada Allah Ta’ala. Kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan Dia ridha sesungguhnya tujuan hidup kita.
Tulus Karena Allah
Makna hidup bukanlah apa yang telah kita terima, tetapi apa yang telah kita berikan. Inilah cara berpikir yang mesti kita jadikan pegangan.
Cobalah merenung sejanak! Siapa orang yang kita kenang dalam hati kita? Bayangkan wajahnya dan apa yang telah ia lakukan?
Pasti kita akan menyadari, nama baik mereka bukan dari seberapa banyak yang telah mereka dapatkan, tapi apa yang telah mereka berikan.
Para pahlawan, orang-orang yang harum namanya, adalah orang yang telah banyak memberi, bukan orang yang banyak memperoleh. Mereka yang banyak memperoleh dari pada memberi, akan memiliki nilai negatif.
Seorang yang memberi dengan tulus ikhlas karena Allah Ta’ala semata, sebenarnya selaras dengan sunnatullah. Apa yang ia berikan bukan terbuang percuma. Tetapi menjadi tabungan positif di dunia ini sampai kelak di akhirat.
Ia bisa memanen saat dibutuhkan. Allah Yang Maha Pemberi Karunia, tak akan membiarkan hidup dalam kesempitan bagi hamba-Nya yang mau berbagi. Dia Yang Maha Mengatur.
Karena itu, jangan sampai malakukan hal yang justru mengundang murka-Nya. Firman Allah Ta’ala:
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Baqarah [2]: 243)
Agar bisa memberi, kita hendaknya bersikap qanaah. Rasakan betapa cukup dan banyaknya karunia Allah Ta’ala dilimpahkan kepada kita. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, tiada terhitung nikmat Allah Ta’ala. Setiap tarikan dan hembusan nafas adalah karunia-Nya.
Sejauh mata memandang dan hamparan bumi yang membentang adalah pemberian-Nya. Rezeki dan penghasilan yang telah kita terima adalah rezeki dari-Nya.
Orang yang merasakan berkelimpahan seperti ini akan berpikir, “Betapa banyaknya karunia Allah. Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain?”
Sikap memberi lebih cocok dengan fitrah nurani kita. Kita mungkin pernah menyaksikan tayangan tentang orang yang mendapat pertolongan atau pemberian. Saat ada orang yang peduli dan mau berbagi, ia demikian terharu. Kita yang menyaksikan juga ikut tergetar. Nikmat rasanya. Terjadi resonansi.
Itu menunjukkan lubuk sanubari kita sesungguhnya juga memiliki getaran yang sama ingin memberi. Memberi selaras dengan karakter suci kita ini.
Apa yang membahagiakan orang lain itu akhirnya memantul menjadi kebahagiaan kita. Jiwa kita selaras dengan sunnatullah yang berkelimpahan ini.
Berbagai karunia pasti akan diterima oleh orang yang mau memberi. Jiwa pun kian sehat dan teguh dengan berbagi. Firman Allah Ta’ala,”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah [2]: 265)
Wallahu a’lam bish-Shawab.***

No comments:

Post a Comment