Hingga saat ini kehidupan manusia terus bertambah canggih. Gedung-gedung bertingkat dibangun semakin tinggi. Rekornya saat ini dipegang oleh Burj Khalifah, Dubai, yang mencapai ketinggian 828 meter atau 6 kali tinggi Tugu Monas, lengkap dengan balutan teknologi terhebat di muka bumi. Dengan kehebatan teknologinya, manusia juga sudah bisa membuat pesawat yang bisa mengangkut 1.000 penumpang (Airbus A380-900), setara penumpang 200 bis, lengkap dengan segala kemewahan dan kecanggihannya.
Belum lagi teknologi informasi yang bisa membuat manusia di seluruh dunia terhubung dalam hitungan detik. Hidup terasa lebih mudah dan nyaman.
Sayangnya, berbagai kehebatan itu bukannya membuat manusia bertambah bahagia, malah membuat sengsara. Di beberapa negara maju, seperti Jepang, angka bunuh diri justru sangat tinggi. Begitu juga angka kriminalitas dan berbagai penyakit sosial sangat memprihatinkan, meroket di mana-mana.
Meski hidup berbalut kemewahan, manusia tetap gundah gulana tak tertahankan. Hidup mereka terasa kosong. Ada sesuatu yang hilang dari jiwa. Mengapa manusia modern sekarang ini gelisah tak terperikan?
Petaka Peradaban Materi
Biang keladi penderitaan manusia di zaman modern ini adalah hegemoni peradaban materi, yakni peradaban yang menjadikan materi sebagai orientasi dasar. Ukuran kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan selalu dinilai dengan materi. Akibatnya, manusia terus berlomba-lomba mengejar materi.
Peradaban itulah yang telah membuat manusia hanya memiliki satu logika, yakni ketamakan. Mereka selalu bertanya-tanya, “Apa yang bisa saya ambil sebanyak-banyaknya untuk memuaskan diri saya?”
Setelah banyak memiliki, bukannya bertambah puas, malah bertambah haus untuk mengambil dan mengambil lebih banyak lagi. Persis seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), “Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam peradaban materi, yang ditanam memang ‘biji’ keserakahan. Biji inilah yang kemudian tumbuh kian besar, menjelma dalam diri, masyarakat, negara, sampai ke penjuru dunia. Segala aspek selalu termanifestasi dari energi cinta materi. Sedihnya, justru kebanyakan manusia telah menjadi bagian dari peradaban ini.
Padahal, materi adalah dimensi paling rendah dalam kehidupan manusia. Materi adalah alat, bukan tujuan. Tapi, dalam peradaban materi, potensi-potensi yang dimiliki manusia justru digunakan untuk mengabdi pada materi. Tenaga dan umurnya untuk materi. Akal pikirannya untuk materi. Manusia sebagai makhluk ruhani justru terbelenggu potensi spiritualnya.
Jadi sesungguhnya, kegelisahan yang melanda manusia modern saat ini adalah akibat tidak tercukupinya kebutuhan ruhani. Dan, bodohnya, untuk menghilangkan kegelisahan itu mereka malah mencari kepuasan materi yang tak pernah ada habisnya. Alih-alih terbebaskan, mereka malah kian tepenjara.
Sayangnya, umat Islam belum bisa memberi solusi terhadap krisis kemanusiaan itu. Bahkan, bukannya menawarkan jalan keluar, kita malah banyak ang mengikuti kaum yang melahirkan peradaban bobrok itu.
Keadaan kita bahkan lebih menyedihkan dari mereka. Keunggulan teknologi dan materi belum dikuasai, tapi efek negatifnya telah meracuni umat ini. Akibatnya umat ini pun menjadi bulan-bulanan umat lain.
Kondisi seperti ini sejak jauh hari telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Tidak ada dua ekor srigala yang dikirimkan ke kelompok kambing akan lebih banyak membuat kerusakan melebihi kerusakan agama seorang Muslim yang ditimbulkan oleh terlampau cintanya seseorang kepada kehormatan, harta, dan pangkat,” (Riwayat Nasa’i).
Berkah Peradaban Rabbani
Kalau kita menanam biji buah yang pahit, maka yang tumbuh pasti pohon yang akan berbuah pahit juga. Kalau kita ingin memetik buah yang manis, yang kita tanam haruslah pohon yang berbuah manis pula.
Kalau kita menanam ‘biji’ cinta dunia, maka yang akan tumbuh adalah peradaban materi. Tapi jika ingin peradaban Rabbani yang tumbuh, ‘biji’ imanlah yang harus ditanam dan dirawat.
‘Biji’ iman yang bisa membuahkan peradaban Rabbani itu sebenarnya telah ada dalam diri setiap manusia, yakni berupa potensi fitrah. Tapi, seringkali potensi ini tidak mendapat aktualisasi yang semestinya, sehingga ‘biji-biji’ cinta dunialah yang ditaburkan oleh setan dalam diri manusia.
Kesadaran bahwa peradaban Rabbani harus ditanam dari ‘biji’ iman itulah yang dimiliki Rasulullah SAW. Dengan gigih dan penuh kasih, beliau menanamnya ke dalam lubuk hati para Sahabat melalui kalimat agung laa ilaaha illallah.
Dengan perawatan yang sempurna, kian hari dan kian waktu, ‘biji’ iman ini tumbuh dan kian besar. Ia tumbuh dalam diri, dalam keluarga, dan masyarakat.
Sampai suatu saat beliau akhirnya diperintahkan berhijrah, karena Makkah tak memungkinkan lagi menjadi tempat berseminya iman dalam komunitas kaum Muslim yang jumlahnya sudah kian besar. Maka, dengan izin Allah, di Madinahlah bersemi dan tumbuh peradaban Rabbani dalam masyarakat yang lebih luas.
Sejak itu, peradaban Islam kian berkembang meliputi berbagai aspek kehidupan. Pada masa kejayaannya, peradaban ini memayungi penjuru bumi. Ibarat pohon, akarnya menghujam ke bumi, dan batang serta cabangnya menjulang rindang ke langit. Buahnya lebat dan dipetik setiap saat.
Bila penganut peradaban materi berpikir, ‘apa yang bisa saya ambil’, maka peradaban Rabbani berpikir, ‘apa yang bisa saya berikan’. Mengapa? Karena, sebaik-baik manusia bukannya yang mengambil banyak tapi yang memberi banyak. Banyak menolong dan memberi manfaat. Jadi, bukan nafas serakah yang digunakan, melainkan sikap qanaah dan zuhud.
Dengan qanaah akan tumbuh rasa syukur atas karunia Allah Ta’ala dan menggunakan sebesar-besarnya nikmat itu untuk menyebar kebaikan. Dengan zuhud, hati akan menguasai harta untuk alat kebaikan, bukan malah diperbudaknya.
Inilah yang membuat jiwa seorang mukmin akan berdaya dan mampu berbagi dengan sesama. Semua ini merupakan wujud takwa kepada Allah Ta’ala. Spirit inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sosial kita.
Teguhkanlah iman! Jangan terpenjara oleh materi dunia! Lepaskan belenggu dunia dengan berkorban harta dan jiwa di jalan Allah Ta’ala. Inilah perniagaan yang lebih baik dan menyelamatkan, sekaligus mengundang ampunan dan surga-Nya, serta pertolongan dan kemenangan dari-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Ash-Shaaf [61]: 10-13)
Bukalah hati dan jiwa kita untuk menerima bimbingan-Nya! Ingatlah, tujuan perjalanan jiwa lebih tinggi dari materi duniawi!
Karena itu, peradaban yang harus kita hidupkan adalah peradaban Rabbani, peradaban yang lebih tinggi dari peradaban materi. Umat manusia yang sedang mengalami nestapa menunggu kehadiran peradaban Rabbani.
Mari bebaskan diri dari perbudakan materi. Mari nikmati kebebasan jiwa memasuki dimensi yang tertinggi demi mengabdi pada Ilahi.Wallahu a’lam bish shawab.*
Saturday, April 2, 2011
Menegakkan yanh haq panggilan fitrah
Kata al-insan (manusia) berasal dari akar kata al-uns yang artinya harmonis. Manusia cenderung merasa senang dengan segala kebaikan yang dikenali hati (al-ma’rufat) dan benci dengan segala kejahatan yang diingkari hati (al-munkarat).
Apabila seseorang berhenti sejenak dari kesibukan dunia, terdengarlah suara hati (dhamir) yang mengajak dia berdialog dengan totalitas wujud Yang Maha Mutlak (wajibul wujud), wujud yang tak bisa ditangkap oleh panca indera. Ini berbeda dengan objek-objek yang sehari-hari bisa ditangkap oleh panca indra, yang sesungguhnya adalah sangat relatif (mumkinul wujud).
Suara hati (dhamir) mengantar manusia pada kesadaran bahwa betapa lemah dirinya di hadapan-Nya, betapa Maha Kuasa dan Perkasa Dia Yang Maha Agung itu. Itulah suara hati nurani (hati yang bersinar).
Setiap manusia, dengan berbagai kedudukannya, memiliki fitrah itu. Sekalipun seringkali, karena kesibukan, manusia mengikuti hawa nafsu, cinta dunia dan dosa-dosa, fitrah itu terabaikan dan tertutupi. Suaranya demikian lemah sehingga nyaris tak terdengar lagi.
Tetapi, bila suara hati itu berusaha didengarkan dengan serius, kemudian benar-benar ditancapkan dalam jiwa, maka hilanglah unsur-unsur ketergantungan lain kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Tiada menitipkan harapan, tempat bergantung, tempat mengabdi, kecuali kepada Allah SWT. Tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari Yang Maha Perkasa.
Hanya saja, bagaimana berkomunikasi dengan-Nya? Jawabnya adalah lewat wahyu. Wahyu yang terangkum dalam al-Qur`an dan al-Hadits akan membimbingnya dan mendefinisikannya.
Setelah suara hati didengarkan dengan seksama, maka tidak ada lagi perasaan gundah gulana. Lenyap pula ketakutan yang menghantui dan mencengkeram. Tiada pula rasa sedih yang akan mencekam.
Semua Manusia Punya
Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi (Riwayat Muslim).
Hadits di atas diawali dengan kalimat fitrah, kemudian diakhiri dengan kata-kata Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Maka, arti fitrah yang benar adalah Islam. Jadi, fitrah manusia adalah patuh kepada Dinul Haq (Islam). Kebutuhan berislam, patuh kepada aturan Allah SWT, adalah fitrah yang permanen. Sedangkan mengingkari Islam bersifat temporal (sementara saja).
Memang ada saat-saat fluktuasi di mana manusia mengalami keraguan tentang wujud Allah SWT, memusuhi-Nya, bahkan menolak kehadiran dan interfensi-Nya. Hal ini bisa dilihat dalam Qur`an Surat Al-Jasiyah [45]: 24.
Akan tetapi, keraguan dan kebimbangan itu pasti beriringan dengan kegelisahan, kecemasan, ketidaktenteraman, kegersangan spiritual, khususnya ketika merenung dan dihadapkan dengan kenyataan pahit (bencana).
Ini karena di dalam diri manusia terdapat nafsu lawwamah (gugatan batin) jika melanggar aturan-Nya. Manusia akan merasa bersalah (inhizamun nafsi) jika menyimpang dari panggilan jiwanya. Coba simak Qur`an Surat Yunus [10]: 22.
Bukti pernyataan yang lahir dari sikap keras kepala adalah pengakuan Fir’aun ketika ruhnya akan terlepas dari jasadnya. Al-Qur`an menjelaskan sikap Fir’aun yang ketika itu kembali kepada fitrah, tetapi terlambat. Allah SWT menerima taubat seseorang kecuali jika nyawanya sudah berada di ujung tenggorokan. Perhatikan Qur`an Surat Yunus [10]: 90-91.
Mengapa manusia bisa seperti itu? Jawabnya, karena fitrah manusia mudah terkontaminasi dengan berbagai penyakit. Awalnya, fitrah manusia adalah sehat. Tetapi, karena manusia jauh dari syariat Allah SWT, dengan pergiliran zaman, tanpa terasa fitrah manusia menjadi sakit. Inilah yang terjadi dengan Fir’aun.
Iqamatul Haq
Syariat Islam merupakan tuntunan yang dihajatkan oleh fitrah manusia agar terarah dan berdaya. Al-Qur`an menegaskan bahwa jika manusia menggali potensi spiritual, intelektual, dan emosionalnya, maka manusia akan dapat memahami bahwa di atas langit, di tengah dirinya, di bawah bumi dan seisinya, berlaku aturan-aturan, tanda-tanda, dan bukti yang menunjukkan wujud ‘Rabb’.
Dialah Yang memelihara dan mengendalikan semua itu dengan undang-undang-Nya – yang dikenal dengan sunnatullah. Tiada satu pun mahluk yang terlepas dari undang-undang tersebut. Coba perhatikan Qur`an Surat Fushshilat [41]: 53.
Aturan Allah SWT dikenal dengan qadha’ tasyri’i dan aturan ciptaan Allah SWT (khalqullah) disebut qadha’ takwini (sunnah kauniyah). Kepatuhan kepada aturan syariat dan menegakkannya dalam realitas kehidupan (iqamatul haq) akan mempengaruhi keteraturan dan keharmonisan alam semesta.
Misalnya, perbuatan zina dapat memperpendek usia, sedekah bisa menolak bencana (bala’), senang bersilaturrahim bisa memperpanjang umur dan melipat gandakan rizki, menghormati tamu membawa rizki dan melempar dosa pemilik rumah ke laut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tidak berani mengubah hukum Allah SWT. Dahulu ada seorang wanita makhzumiyah yang meminjam perhiasan, namun ia mengingkarinya. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk memotong tangan wanita yang berasal dari suku terpandang itu.
Seketika itu keluarganya pun datang kepada Usamah bin Zaid RA dan mendiskusikan kasus tersebut dan meminta dispensasi hukuman. Lalu Usamah melaporkannya kepada Rasul SAW.
Spontan Rasulullah SAW menolak permintaan tersebut. Beliau berdiri dan berkhutbah:
“Sesungguhnya kehancuran generasi sebelum kalian adalah manakala orang terhormat mencuri, mereka membiarkannya. Dan apabila yang mencuri pada mereka adalah orang-orang yang lemah, mereka memotong tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya, andaikata Fatimah puteri Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya.” Maka dipotonglah tangan wanita Makhzumiyah itu. (Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasai dari Aisyah)
Kisah Ja’far
Pada zaman Nabi Muhammad SAW orang-orang Arab Jahiliyah beramai-ramai memenuhi seruan Islam dan meninggalkan agama nenek moyang. Mereka yakin bahwa dinul haq yang dibawa Rasulullah SAW mampu memandu mereka pada kehidupan yang bermartabat, mensucikan, memakmurkan (maddana), dan lebih cemerlang.
Ketika Hijrah Pertama ke negeri Ethiopia, umat Islam yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib ditanya oleh para pembesar kerajaan itu tentang kebenaran agama yang dipeluknya.
“Mengapa Anda meninggalkan agama nenek moyang dan memeluk agama baru yang dibawa oleh Muhammad,” tanya Raja Habsyi.
“Tuan Raja, kami dahulu adalah bangsa yang sangat bodoh. Kami pemuja berhala, pemakan bangkai (hewan yang disembelih tidak menyebut nama Allah SWT). Kami juga melakukan semua perbuatan yang keji (berjudi, mencuri, minum arak, main perempuan, membunuh jiwa yang tidak bersalah), kami saling bermusuhan satu sama lain, kami mengganggu dan merampok tetangga. Siapa yang kuat di antara kami selalu menelan yang lemah, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terhina.”
“Kemudian datanglah Muhammad sebagai utusan Allah SWT. Kami ketahui sifat kebenaran dan kejujurannya, serba amanah dan terhormat. Ia mengajak kami untuk mengabdikan diri ke hadirat Allah SWT, tanpa membuat sekutu apapun kepada-Nya. Ia menyeru agar kami bersikap benar, amanah, bersatu, saling menghormati sesama penduduk, tidak melakukan dosa dan menjauhi pertumpahan darah. Ia larang kami berlaku keji, dusta, memakan harta sesama dengan cara yang tidak sah. Ia ajari kami shalat, puasa, dan kebajikan lainnya, lalu kami membenarkan dan meyakini kebenaran ajarannya.”
Demikianlah, dengan menegakkan syariat Islam dalam skala kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat, akan memperoleh kehidupan yang penuh kenikmatan, hayatan thayyibah, qaryatan mubarakah, baladan amina, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Manusia bisa diselamatkan dari berbagai penyakit moral, dan derajat manusia ditinggikan dengan kebenaran Islam.
Wallahu A’lamu bish-Shawab.
Apabila seseorang berhenti sejenak dari kesibukan dunia, terdengarlah suara hati (dhamir) yang mengajak dia berdialog dengan totalitas wujud Yang Maha Mutlak (wajibul wujud), wujud yang tak bisa ditangkap oleh panca indera. Ini berbeda dengan objek-objek yang sehari-hari bisa ditangkap oleh panca indra, yang sesungguhnya adalah sangat relatif (mumkinul wujud).
Suara hati (dhamir) mengantar manusia pada kesadaran bahwa betapa lemah dirinya di hadapan-Nya, betapa Maha Kuasa dan Perkasa Dia Yang Maha Agung itu. Itulah suara hati nurani (hati yang bersinar).
Setiap manusia, dengan berbagai kedudukannya, memiliki fitrah itu. Sekalipun seringkali, karena kesibukan, manusia mengikuti hawa nafsu, cinta dunia dan dosa-dosa, fitrah itu terabaikan dan tertutupi. Suaranya demikian lemah sehingga nyaris tak terdengar lagi.
Tetapi, bila suara hati itu berusaha didengarkan dengan serius, kemudian benar-benar ditancapkan dalam jiwa, maka hilanglah unsur-unsur ketergantungan lain kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Tiada menitipkan harapan, tempat bergantung, tempat mengabdi, kecuali kepada Allah SWT. Tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari Yang Maha Perkasa.
Hanya saja, bagaimana berkomunikasi dengan-Nya? Jawabnya adalah lewat wahyu. Wahyu yang terangkum dalam al-Qur`an dan al-Hadits akan membimbingnya dan mendefinisikannya.
Setelah suara hati didengarkan dengan seksama, maka tidak ada lagi perasaan gundah gulana. Lenyap pula ketakutan yang menghantui dan mencengkeram. Tiada pula rasa sedih yang akan mencekam.
Semua Manusia Punya
Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi (Riwayat Muslim).
Hadits di atas diawali dengan kalimat fitrah, kemudian diakhiri dengan kata-kata Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Maka, arti fitrah yang benar adalah Islam. Jadi, fitrah manusia adalah patuh kepada Dinul Haq (Islam). Kebutuhan berislam, patuh kepada aturan Allah SWT, adalah fitrah yang permanen. Sedangkan mengingkari Islam bersifat temporal (sementara saja).
Memang ada saat-saat fluktuasi di mana manusia mengalami keraguan tentang wujud Allah SWT, memusuhi-Nya, bahkan menolak kehadiran dan interfensi-Nya. Hal ini bisa dilihat dalam Qur`an Surat Al-Jasiyah [45]: 24.
Akan tetapi, keraguan dan kebimbangan itu pasti beriringan dengan kegelisahan, kecemasan, ketidaktenteraman, kegersangan spiritual, khususnya ketika merenung dan dihadapkan dengan kenyataan pahit (bencana).
Ini karena di dalam diri manusia terdapat nafsu lawwamah (gugatan batin) jika melanggar aturan-Nya. Manusia akan merasa bersalah (inhizamun nafsi) jika menyimpang dari panggilan jiwanya. Coba simak Qur`an Surat Yunus [10]: 22.
Bukti pernyataan yang lahir dari sikap keras kepala adalah pengakuan Fir’aun ketika ruhnya akan terlepas dari jasadnya. Al-Qur`an menjelaskan sikap Fir’aun yang ketika itu kembali kepada fitrah, tetapi terlambat. Allah SWT menerima taubat seseorang kecuali jika nyawanya sudah berada di ujung tenggorokan. Perhatikan Qur`an Surat Yunus [10]: 90-91.
Mengapa manusia bisa seperti itu? Jawabnya, karena fitrah manusia mudah terkontaminasi dengan berbagai penyakit. Awalnya, fitrah manusia adalah sehat. Tetapi, karena manusia jauh dari syariat Allah SWT, dengan pergiliran zaman, tanpa terasa fitrah manusia menjadi sakit. Inilah yang terjadi dengan Fir’aun.
Iqamatul Haq
Syariat Islam merupakan tuntunan yang dihajatkan oleh fitrah manusia agar terarah dan berdaya. Al-Qur`an menegaskan bahwa jika manusia menggali potensi spiritual, intelektual, dan emosionalnya, maka manusia akan dapat memahami bahwa di atas langit, di tengah dirinya, di bawah bumi dan seisinya, berlaku aturan-aturan, tanda-tanda, dan bukti yang menunjukkan wujud ‘Rabb’.
Dialah Yang memelihara dan mengendalikan semua itu dengan undang-undang-Nya – yang dikenal dengan sunnatullah. Tiada satu pun mahluk yang terlepas dari undang-undang tersebut. Coba perhatikan Qur`an Surat Fushshilat [41]: 53.
Aturan Allah SWT dikenal dengan qadha’ tasyri’i dan aturan ciptaan Allah SWT (khalqullah) disebut qadha’ takwini (sunnah kauniyah). Kepatuhan kepada aturan syariat dan menegakkannya dalam realitas kehidupan (iqamatul haq) akan mempengaruhi keteraturan dan keharmonisan alam semesta.
Misalnya, perbuatan zina dapat memperpendek usia, sedekah bisa menolak bencana (bala’), senang bersilaturrahim bisa memperpanjang umur dan melipat gandakan rizki, menghormati tamu membawa rizki dan melempar dosa pemilik rumah ke laut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tidak berani mengubah hukum Allah SWT. Dahulu ada seorang wanita makhzumiyah yang meminjam perhiasan, namun ia mengingkarinya. Lalu Rasulullah SAW memerintahkan untuk memotong tangan wanita yang berasal dari suku terpandang itu.
Seketika itu keluarganya pun datang kepada Usamah bin Zaid RA dan mendiskusikan kasus tersebut dan meminta dispensasi hukuman. Lalu Usamah melaporkannya kepada Rasul SAW.
Spontan Rasulullah SAW menolak permintaan tersebut. Beliau berdiri dan berkhutbah:
“Sesungguhnya kehancuran generasi sebelum kalian adalah manakala orang terhormat mencuri, mereka membiarkannya. Dan apabila yang mencuri pada mereka adalah orang-orang yang lemah, mereka memotong tangannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di dalam genggaman-Nya, andaikata Fatimah puteri Muhammad mencuri, maka akan aku potong tangannya.” Maka dipotonglah tangan wanita Makhzumiyah itu. (Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasai dari Aisyah)
Kisah Ja’far
Pada zaman Nabi Muhammad SAW orang-orang Arab Jahiliyah beramai-ramai memenuhi seruan Islam dan meninggalkan agama nenek moyang. Mereka yakin bahwa dinul haq yang dibawa Rasulullah SAW mampu memandu mereka pada kehidupan yang bermartabat, mensucikan, memakmurkan (maddana), dan lebih cemerlang.
Ketika Hijrah Pertama ke negeri Ethiopia, umat Islam yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib ditanya oleh para pembesar kerajaan itu tentang kebenaran agama yang dipeluknya.
“Mengapa Anda meninggalkan agama nenek moyang dan memeluk agama baru yang dibawa oleh Muhammad,” tanya Raja Habsyi.
“Tuan Raja, kami dahulu adalah bangsa yang sangat bodoh. Kami pemuja berhala, pemakan bangkai (hewan yang disembelih tidak menyebut nama Allah SWT). Kami juga melakukan semua perbuatan yang keji (berjudi, mencuri, minum arak, main perempuan, membunuh jiwa yang tidak bersalah), kami saling bermusuhan satu sama lain, kami mengganggu dan merampok tetangga. Siapa yang kuat di antara kami selalu menelan yang lemah, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terhina.”
“Kemudian datanglah Muhammad sebagai utusan Allah SWT. Kami ketahui sifat kebenaran dan kejujurannya, serba amanah dan terhormat. Ia mengajak kami untuk mengabdikan diri ke hadirat Allah SWT, tanpa membuat sekutu apapun kepada-Nya. Ia menyeru agar kami bersikap benar, amanah, bersatu, saling menghormati sesama penduduk, tidak melakukan dosa dan menjauhi pertumpahan darah. Ia larang kami berlaku keji, dusta, memakan harta sesama dengan cara yang tidak sah. Ia ajari kami shalat, puasa, dan kebajikan lainnya, lalu kami membenarkan dan meyakini kebenaran ajarannya.”
Demikianlah, dengan menegakkan syariat Islam dalam skala kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat, akan memperoleh kehidupan yang penuh kenikmatan, hayatan thayyibah, qaryatan mubarakah, baladan amina, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Manusia bisa diselamatkan dari berbagai penyakit moral, dan derajat manusia ditinggikan dengan kebenaran Islam.
Wallahu A’lamu bish-Shawab.
cara jitu agar ummat bersatu
Umat Islam yang diberi gelar terhormat sebagai khairu ummah (umat terbaik) ini ternyata masih banyak termarjinalkan dalam peradaban dunia. Terbukti kita masih tidak berdaya menghadapi 5 juta kaum Yahudi yang berbuat zalim terhadap kaum Muslim di Palestina. Jumlah sebesar ini juga belum berhasil menyelamatkan nasib kita dari kungkungan kehinaan, kebodohan, dan kemiskinan.
Padahal, banyak di antara kita merupakan intelektual, pemimpin, pengusaha, dan orang-orang shaleh. Tetapi, mereka belum memiliki alasan yang sama untuk bergandengan tangan, bekerja sama dan bersinergi. Mereka lebih menonjolkan perbedaan yang bersifat furu’iyah (cabang/tidak prinsip), dan mengesampingkan banyak persamaan yang bersifat prinsip (aqidah).
Mengherankan
Seharusnya kita merasa heran dengan kondisi ini, sebagaimana herannya Ali Radhiyallahu Anhu saat mengomentari perpecahan di kalangan umat Islam. Beliau berkata, “Aku heran.. Aku heran.. Kalian berselisih dalam kebenaran, sedangkan musuh bersatu dalam kebatilan. Kekeruhan dalam persatuan lebih baik daripada kebersihan tapi sendirian.”
Beliau juga berkata, “Allah Ta’ala tidak akan pernah memberikan kemuliaan kepada siapa pun, bangsa mana pun, dalam perpecahan. Tidak kepada umat terdahulu, tidak pula kepada umat di akhir zaman.”
Sementara Imam Syafi’i mengatakan, “Perkara batil terkadang bisa memperoleh kemenangan karena bersatu, sebaliknya kebenaran kadang-kadang menderita kekalahan, kelemahan, dan kehinaan disebabkan perpecahan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, juga memperingatkan umatnya akan pentingnya persatuan. Beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah, dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (Riwayat Muslim)
Berdasarkan dalil-dalil di atas kita meyakini bahwa Allah Ta’ala hanya memberikan pertolongan kepada kaum Muslim yang unggul dalam kualitas, bukan sekadar mayoritas.
Lantas bagaimanakah cara membebaskan umat Islam dari kungkungan perpecahan yang menguras energi serta mengubahnya menjadi persatuan yang indah? Berikut kiat-kiatnya.
Bangun Ukhuwah di Level Bawah
1. Salamatush shadr min afatil qalb. Ungkapan ini berarti lapang dada menyelamatkan hati. Amalan ini terlihat sepele tapi efeknya dalam membangun persatuan sungguh luar biasa. Mengapa? Sebab sikap lapang dada melahirkan kenyamanan dalam kebersamaan.
2. Saling memberi hadiah. Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian saling memberi hadiah niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan,” (Riwayat Malik). Sementara ahli sastra Arab mengatakan, ”Jika hadiah datang maka permusuhan akan terbang (idza jaal hada thorol ‘ida).”
3. Ucapkan salam dan jabatlah tangan. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah dua orang Muslim yang bertemu dan saling berjabat tangan, kecuali dosa mereka berdua akan diampuni sebelum berpisah,” (Riwayat Abu Daud).
4. Menyatu dengan perasaan kaum Muslim yang lain. Rasulullah SAW bersabda, ”Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kecintaan mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan panas tubuhnya meninggi,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
5. Bergaul sesama Muslim dan bersabar atas gangguannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Seorang Muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik dari pada seorang Muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka,” (Riwayat Tirmidzi).
6. Saling menguatkan dan memasukkan rasa bahagia di hati. Rasulullah SAW bersabda, ”Seorang mukmin yang satu dengan yang lain bagaikan suatu bangunan. Sebagiannya memperkuat sebagian yang lain,” lalu beliau menyilangkan jari-jarinya, (Riwayat Bukhari dan Muslim).
7. Memaafkan kesalahan, mengingat kelebihan, melupakan sisi gelap, dan menolak untuk melanggar kehormatan mereka. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa menolak untuk melanggar kehormatan saudaranya (misalnya ghibah), maka Allah memalingkannya dari api neraka pada hari kiamat,” (Riwayat Tirmidzi).
8. Mendoakan kebaikan tanpa sepengetahuan mereka.
9. Bersilaturrahim ke rumahnya. Syauqi Beik mengatakan, “Jagalah dirimu sebelum kematianmu dengan menjaga sebutan baik (silaturrahim). Sesungguhnya sebutan baik merupakan umur kedua bagi manusia.”
10. Bertemu dan berpisah karena Allah Ta’ala.
11. Saling berdiam maksimal tiga hari. Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak dihalalkan bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam. Mereka bertemu, yang satu berpaling ke kiri dan yang lainnya berpaling ke kanan. Yang terbaik di antara mereka berdua adalah yang mengawali member salam,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Bangun Ukhuwah di Level Atas
1. Al-Itsar, atau mengutamakan saudara sekalipun dirinya kekurangan (al-Hasyr [59]: 9).
2. Mencintai saudara Muslim melebihi kecintaannya terhadap dirinya sendiri.
3. Akrab, dekat, dan erat kepada sesama seperti dengan saudara seketurunan (al-mawaddata fil qurba).
4. Memandang saudara Muslim sebagai anugrah, bukan sebagai pesaing.
5. Meluruskan saudara yang bengkok bukan selalu membenarkannya.
6. Rela mati demi keselamatan saudara (kisah dalam perang Yarmuk).
Resep Nabi Menyatukan Madinah
1. Menyebarkan salam.
2. Memberi makan kepada yang lapar.
3. Memperkuat jalinan silaturrahim.
4. Shalat malam.
Kisah Persaudaraan Hingga ke Kubur
Dalam perang Uhud, kaum Muslim mengalami kekalahan setelah pada perang-perang sebelumnya mengukir kemenangan demi kemenangan. Kaum Muslimin kehilangan 70 sahabat yang syahid. Di antara mereka terdapat Hamzah, paman Nabi SAW sekaligus saudara sepersusuannya.
Rasulullah SAW kemudian memberi instruksi agar setiap dua sahabat yang meninggal dikubur dalam satu liang lahat saja. Saat kaum Muslim mulai menggali makam untuk para syuhada tersebut tiba-tiba Rasulullah berteriak menghentikan mereka.
Para sahabat bertanya, “Ada apa ya Rasulullah?”
Rasulullah SAW menjawab, “Carilah dua orang di antara korban peperangan ini, Amru bin Jamuh dan Abdullah ibn Haram.”
“Mengapa mereka berdua ya Rasulullah?” tanya para sahabat lagi.
Rasulullah SAW menjawab, “Kuburlah mereka berdua di dalam satu lubang karena mereka berdua ketika di dunia saling mengasihi dan menyayangi karena Allah (Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat Al Kubra: 3/106).
Wallahu a’lam bishshawab. ***
terbelenggu masa lalu
Setiap manusia terlahir dalam keadaan merdeka, bahkan merdeka dari kehendak ibu yang melahirkannya. Seorang ibu tidak bisa mengatur kapan bayinya lahir, siang atau malam, sekarang atau besok. Jika sang bayi hendak lahir jam satu malam, maka lahirlah jabang bayi itu pada jam tersebut, sekalipun sang ayah harus pontang-panting mencari kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit, meskipun sang ibu lagi asyik-asyiknya tidur, sekalipun dokter dan bidan sedang terlelap tidur.
Kemerdekaan yang menjadi hak semua manusia itu sering terkikis seiring dengan perjalanan waktu. Semakin dewasa bertambah banyak penjara atau belenggu yang mengekang kebebasannya. Lebih aneh lagi, ternyata sebagian besar penjara itu dibuat oleh mereka sendiri. Penjara-penjara itu diciptakan oleh pikiran mereka sendiri.
Sebutlah penjara “masa lalu”, siapa yang menciptakan. Betapa banyaknya orang yang menyia-nyiakan waktunya hanya untuk menyesali masa lalunya. Sebagian merasa menjadi korban, mereka mengeluh; mengapa saya dilahirkan dalam keluarga yang broken home. Seandainya saya dilahirkan oleh ayah dan ibu yang kaya raya, sekiranya saya dilahirkan dari garis keturunan bangsawan.
Masa lalu merupakan himpunan peristiwa yang terjadi sebelum sekarang. Masa lalu tidak bisa diulang, kecuali sekadar rekaman peristiwanya. Karenanya, masa lalu tidak boleh disesali, diratapi, apalagi dijadikan kambing hitam. Orang yang gagal (pecundang) selalu menjadi masa lalunya sebagai kambing hitam (alasan pembenaran), sedangkan orang sukses menjadikan masa lalu sebagai cermin untuk menciptakan masa depan.
Adakalanya orang terbelenggu oleh masa lalunya, sebagian yang lain justru terpenjarakan oleh masa yang akan datang. Mereka dihantui oleh perasaan takut, gelisah, dan gundah gulana. Mereka merasa belum cukup bekal untuk menghadapi masa depannya. Mereka khawatir bersaing dengan sesamanya. Apalagi menyadari tentang pendidikannya yang rendah, keterampilannya yang belum bisa diandalkan, sedangkan modal finansial belum memadai.
Akibat kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan ini, mereka tidak berbuat apa-apa. Mau memulai langkah saja sudah takut. Mereka merasa kalah sebelum bertanding. Menyerah sebelum berbuat apa-apa. Inilah gambaran orang-orang yang dipenjara oleh masa depannya sendiri.
Bagi kita, yang ada di hadapan kita sekarang adalah “masa kini”, kita juga tidak tahu apakah besok atau nanti masih hidup dan memiliki kesempatan. Kita tidak tahu jatah umur kita, pendek atau panjang. Kita tidak tahu kapan kematian itu bakal menjemput. Yang pasti kita sudah berada dalam antrian. Di sana, nama kita sudah tercatat dalam “daftar tunggu” yang mau tidak mau harus diikuti dan diterima dengan ikhlas dan lapang.
Kematian bukanlah suatu yang menakutkan, karena kematian itu adalah sesuatu yang sudah pasti. Kematian hanyalah proses perpindahan alam, dari alam dunia menuju alam akhirat. Kematian merupakan salah satu stasiun dari beberapa stasiun kehidupan kita. Satu per satu stasiun itu kita lalui.
Hari ini akan menjadi masa lalu bagi hari berikutnya, dan hari berikutnya adalah masa depan hari ini. Untuk itu, jalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Jangan menunda-nuda pekerjaan, jangan sia-siakan kesempatan. Kalau bisa diselesaikan hari ini, mengapa disisakan untuk hari esok.
tiga lubang dalam jalan dakwah
“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (At-Taubah [9]: 93). Muqaddimah
Dalam kehidupan, segala usaha dan program manusia memang butuh harta, tetapi harta bukan segalanya. Harta hanyalah salah satu sarana saja untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Realitasnya tak sedikit di antara mereka yang tertipu dengan ujian harta ini. Mereka terbuai dan lalai dalam tugas memperjuangkan Islam.
Terkait dengan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) menceritakan dampak yang ditimbulkan dari meninggalkan ketaatan dalam perjuangan. Pertama, sebut sebagai contoh, ujian berupa sungai yang akan dilalui tentara Thalut ketika berperang melawan Jalut. Kedua; turunnya beberapa pasukan pemanah pada perang Uhud. Ketiga; keengganan kaum Muslimin tahallul (memotong rambut) sebagai syarat membatalkan umrah pasca perjanjian Hudaibiyah.
Sejarah tak lain adalah peristiwa yang berulang, hanya konteksnya saja yang berbeda dengan kondisi kita saat ini. Karenanya, ketiga kisah bersejarah ini patut kita renungkan sebagai ibrah (pelajaran) agar kita tetap istikamah di jalan dakwah hingga ajal menjemput.
Sungai Thalut
Peristiwa ini terjadi tatkala Thalut dan tentaranya berada di tengah padang pasir yang tandus dan tiada sumber air, sementara terik matahari sangat menyengat. Allah menguji kesabaran mereka dengan sumber air tawar yang dingin, sedang mereka sendiri dalam kehausan yang sangat.
Dalam kondisi seperti itu, Thalut memperingatkan, siapa yang meminum air sungai banyak-banyak, bukanlah termasuk tentaranya. Itu tanda jika ia bukan orang yang sabar. Sebaliknya, orang yang tak meminum dan orang yang meminum sepenuh telapak tangan saja termasuk tentara Thalut. Mereka termasuk orang-orang yang sabar. Terbukti, meski dengan jumlah yang sedikit tapi didukung dengan kesabaran serta izin Allah, tentara Thalut memenangkan peperangan melawan Jalut dan pasukannya yang jauh lebih kuat.
Saudaraku…, ilmu yang belum memadai, fasilitas yang tak ada, dana perjuangan yang tidak jelas sumbernya, sementara kebutuhan keluarga menuntut harus tercukupi, tidak boleh membuat kita belok haluan apalagi mundur dari jalan dakwah. Janganlah kita berada di barisan dakwah ini karena adanya materi atau jangan pula meninggalkannya gara-gara tiada materi. Keikhlasan berbuah kesabaran yang membuat kita teguh dan konsisten dalam perjuangan ini.
Kini, berbagai macam ”sungai” akan terus menguji kita. Mungkin ada yang beralasan di balik kata-kata manis bahwa kita butuh ”air” (baca: harta) secukupnya. Namun, kenyataannya yang diambil bukan seteguk, bahkan berteguk-teguk air. Ujungnya? Gaya hidup mulai berubah. Sumber kenikmatannya yang selama ini adalah dakwah dan jihad berubah ke materi. Ketika diajak bicara tentang dakwah, beralasan lagi, “Aduh maaf saya sibuk, tidak bisa hadir.” Kita harus ekstra hati-hati dengan ujian “sungai-sungai” yang akan memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah.
Perang Uhud
Peristiwa yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah ini patut menjadi renungan buat kita. Pasukan pemanah yang sedianya menjaga Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam di bukit Uhud meninggalkan tugasnya turut memungut harta rampasan perang (ghanimah). Apa daya, rupanya kaum musyrikin balik menyerang kembali. Pasukan kaum Muslimin kocak-kacir, Rasulullah berlumuran darah hingga beberapa giginya tanggal, serta 70 sahabat yang lain menjadi syuhada.
Meskipun Rasulullah telah mewanti-wanti pasukan pemanah agar tak turun, namun sebagian mereka tak tahan guna saling berebut memungut ghanimah. Sebenarnya, hal ini manusiawi karena memang manusia butuh harta. Namun, karena ketidaktaatan menjaga amanah -gara-gara harta- justru berakibat fatal, baik terhadap diri maupun kawan seperjuangan.
Terlepas dari benar tidaknya persepsi tersebut, dalam konteks kekinian, seyogyanya hal ini menjadi tanggung jawab organisasi dakwah. Misalnya, lembaga ZIS (zakat, infaq, dan sedekah), dan warga masyarakat yang berkecukupan, untuk lebih memerhatikan kesejahteraan para dai secara adil dan merata.
Adil seiring pengabdian dan pengorbanan. Merata berarti jangan sampai ada dai yang merasa dizalimi oleh yang lain. Baik dai maupun umat binaan harus mendapat perhatian yang sama. Jangan sampai hanya mau membina di tempat-tempat tertentu dan mengabaikan wilayah yang lain.
Tahallul Rasulullah
Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah beserta 1.400 sahabatnya hendak melakukan umrah. Namun kaum Quraisy menolak kedatangannya, dan akhirnya terjadi perjanjian damai antara kaum Quraisy dan Rasulullah, yang dikenang sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Salah satu isinya adalah Rasulullah dan kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tiga hari kemudian dan baru boleh memasuki Makkah tahun depan. Demi memenuhi isi perjanjian ini, Rasulullah menyuruh sahabatnya membatalkan umrahnya dengan tahallul dan menyembelih qurban. Namun, tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya memenuhi perintah tersebut meski Nabi sampai mengulanginya hingga tiga kali.
Atas saran istrinya, Ummu Salamah, Rasulullah melakukan tahallul lebih dahulu dibantu salah seorang sahabatnya dan menyembelih untanya sendiri. Melihat hal itu seluruh kaum Muslimin akhirnya ramai-ramai mengikuti langkah Rasulullah tersebut.
Apakah hikmah dari keengganan kaum Muslimin untuk tahallul? Tentu para sahabat bukan tak memiliki rambut, namun tak lebih karena memerlukan contoh dan keteladanan. Inilah metode membina umat dan jamaah. Setiap diri dituntut tidak hanya dapat menyampaikan namun harus memperagakannya terlebih dahulu.
Perintah berkorban berupa “memotong rambut” (baca; harta, atau apa saja ) meskipun hanya beberapa helai akan mandeg bila tidak diikuti contoh. Butuh keberanian untuk memulai. Tak cukup dengan perintah tapi ia butuh keteladanan.
Sebaliknya, akan semakin bermasalah jika masing-masing pelaku dakwah berlomba memanjangkan rambut dengan berbagai modelnya, tidak mau memendekkan apalagi mencukur. Sungguh ketaatan hanya akan menjadi cerita kosong.
Sesungguhnya, yang dikendaki bukanlah sekedar memotong rambutnya, namun subtansi yang diharapkan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasulnya dengan mengorbankan sedikit kehormatan diri. Dan ini tidak akan terjadi manakala tidak memiliki kemauan kuat untuk taat.
Agar ketaatan menjadi kepribadian rijal ad-dakwah (para dai) khususnya, harus ada proses internalisasi fikrah (pemikiran), kesadaran akan tanggung jawab terhadap penyelamatan umat. Juga penanaman nilai-nilai tauhid yang disertai keteladanan pelaku dakwah. Wallahu a’lam.
Dalam kehidupan, segala usaha dan program manusia memang butuh harta, tetapi harta bukan segalanya. Harta hanyalah salah satu sarana saja untuk mewujudkan cita-cita perjuangan. Realitasnya tak sedikit di antara mereka yang tertipu dengan ujian harta ini. Mereka terbuai dan lalai dalam tugas memperjuangkan Islam.
Terkait dengan ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) menceritakan dampak yang ditimbulkan dari meninggalkan ketaatan dalam perjuangan. Pertama, sebut sebagai contoh, ujian berupa sungai yang akan dilalui tentara Thalut ketika berperang melawan Jalut. Kedua; turunnya beberapa pasukan pemanah pada perang Uhud. Ketiga; keengganan kaum Muslimin tahallul (memotong rambut) sebagai syarat membatalkan umrah pasca perjanjian Hudaibiyah.
Sejarah tak lain adalah peristiwa yang berulang, hanya konteksnya saja yang berbeda dengan kondisi kita saat ini. Karenanya, ketiga kisah bersejarah ini patut kita renungkan sebagai ibrah (pelajaran) agar kita tetap istikamah di jalan dakwah hingga ajal menjemput.
Sungai Thalut
Peristiwa ini terjadi tatkala Thalut dan tentaranya berada di tengah padang pasir yang tandus dan tiada sumber air, sementara terik matahari sangat menyengat. Allah menguji kesabaran mereka dengan sumber air tawar yang dingin, sedang mereka sendiri dalam kehausan yang sangat.
Dalam kondisi seperti itu, Thalut memperingatkan, siapa yang meminum air sungai banyak-banyak, bukanlah termasuk tentaranya. Itu tanda jika ia bukan orang yang sabar. Sebaliknya, orang yang tak meminum dan orang yang meminum sepenuh telapak tangan saja termasuk tentara Thalut. Mereka termasuk orang-orang yang sabar. Terbukti, meski dengan jumlah yang sedikit tapi didukung dengan kesabaran serta izin Allah, tentara Thalut memenangkan peperangan melawan Jalut dan pasukannya yang jauh lebih kuat.
Saudaraku…, ilmu yang belum memadai, fasilitas yang tak ada, dana perjuangan yang tidak jelas sumbernya, sementara kebutuhan keluarga menuntut harus tercukupi, tidak boleh membuat kita belok haluan apalagi mundur dari jalan dakwah. Janganlah kita berada di barisan dakwah ini karena adanya materi atau jangan pula meninggalkannya gara-gara tiada materi. Keikhlasan berbuah kesabaran yang membuat kita teguh dan konsisten dalam perjuangan ini.
Kini, berbagai macam ”sungai” akan terus menguji kita. Mungkin ada yang beralasan di balik kata-kata manis bahwa kita butuh ”air” (baca: harta) secukupnya. Namun, kenyataannya yang diambil bukan seteguk, bahkan berteguk-teguk air. Ujungnya? Gaya hidup mulai berubah. Sumber kenikmatannya yang selama ini adalah dakwah dan jihad berubah ke materi. Ketika diajak bicara tentang dakwah, beralasan lagi, “Aduh maaf saya sibuk, tidak bisa hadir.” Kita harus ekstra hati-hati dengan ujian “sungai-sungai” yang akan memalingkan kita dari ketaatan kepada Allah.
Perang Uhud
Peristiwa yang terjadi pada tahun ketiga Hijriyah ini patut menjadi renungan buat kita. Pasukan pemanah yang sedianya menjaga Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam di bukit Uhud meninggalkan tugasnya turut memungut harta rampasan perang (ghanimah). Apa daya, rupanya kaum musyrikin balik menyerang kembali. Pasukan kaum Muslimin kocak-kacir, Rasulullah berlumuran darah hingga beberapa giginya tanggal, serta 70 sahabat yang lain menjadi syuhada.
Meskipun Rasulullah telah mewanti-wanti pasukan pemanah agar tak turun, namun sebagian mereka tak tahan guna saling berebut memungut ghanimah. Sebenarnya, hal ini manusiawi karena memang manusia butuh harta. Namun, karena ketidaktaatan menjaga amanah -gara-gara harta- justru berakibat fatal, baik terhadap diri maupun kawan seperjuangan.
Terlepas dari benar tidaknya persepsi tersebut, dalam konteks kekinian, seyogyanya hal ini menjadi tanggung jawab organisasi dakwah. Misalnya, lembaga ZIS (zakat, infaq, dan sedekah), dan warga masyarakat yang berkecukupan, untuk lebih memerhatikan kesejahteraan para dai secara adil dan merata.
Adil seiring pengabdian dan pengorbanan. Merata berarti jangan sampai ada dai yang merasa dizalimi oleh yang lain. Baik dai maupun umat binaan harus mendapat perhatian yang sama. Jangan sampai hanya mau membina di tempat-tempat tertentu dan mengabaikan wilayah yang lain.
Tahallul Rasulullah
Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-6 Hijriyah, Rasulullah beserta 1.400 sahabatnya hendak melakukan umrah. Namun kaum Quraisy menolak kedatangannya, dan akhirnya terjadi perjanjian damai antara kaum Quraisy dan Rasulullah, yang dikenang sebagai Perjanjian Hudaibiyah.
Salah satu isinya adalah Rasulullah dan kaum Muslimin harus kembali ke Madinah tiga hari kemudian dan baru boleh memasuki Makkah tahun depan. Demi memenuhi isi perjanjian ini, Rasulullah menyuruh sahabatnya membatalkan umrahnya dengan tahallul dan menyembelih qurban. Namun, tak seorang pun yang beranjak dari tempatnya memenuhi perintah tersebut meski Nabi sampai mengulanginya hingga tiga kali.
Atas saran istrinya, Ummu Salamah, Rasulullah melakukan tahallul lebih dahulu dibantu salah seorang sahabatnya dan menyembelih untanya sendiri. Melihat hal itu seluruh kaum Muslimin akhirnya ramai-ramai mengikuti langkah Rasulullah tersebut.
Apakah hikmah dari keengganan kaum Muslimin untuk tahallul? Tentu para sahabat bukan tak memiliki rambut, namun tak lebih karena memerlukan contoh dan keteladanan. Inilah metode membina umat dan jamaah. Setiap diri dituntut tidak hanya dapat menyampaikan namun harus memperagakannya terlebih dahulu.
Perintah berkorban berupa “memotong rambut” (baca; harta, atau apa saja ) meskipun hanya beberapa helai akan mandeg bila tidak diikuti contoh. Butuh keberanian untuk memulai. Tak cukup dengan perintah tapi ia butuh keteladanan.
Sebaliknya, akan semakin bermasalah jika masing-masing pelaku dakwah berlomba memanjangkan rambut dengan berbagai modelnya, tidak mau memendekkan apalagi mencukur. Sungguh ketaatan hanya akan menjadi cerita kosong.
Sesungguhnya, yang dikendaki bukanlah sekedar memotong rambutnya, namun subtansi yang diharapkan adalah ketaatan kepada Allah dan Rasulnya dengan mengorbankan sedikit kehormatan diri. Dan ini tidak akan terjadi manakala tidak memiliki kemauan kuat untuk taat.
Agar ketaatan menjadi kepribadian rijal ad-dakwah (para dai) khususnya, harus ada proses internalisasi fikrah (pemikiran), kesadaran akan tanggung jawab terhadap penyelamatan umat. Juga penanaman nilai-nilai tauhid yang disertai keteladanan pelaku dakwah. Wallahu a’lam.
Sudan diincar karena menegakkan syari'ah
Hari-hari di Sudan selatan pada paruh Januari lalu menjelma sibuk. Jutaan warga datang berduyun-duyun ke kotak suara untuk melakukan Referendum. Siara televisi pemerintah pusat di utara yang terus menayangkan film dan acara-acara yang mengulas tentang sejarah, persatuan dan kebudayaan Sudan, nampaknya tak mampu mempengaruhi rakyat di Sudan selatan yang memilih opsi bersatu.
Ketika wawancara ini berlangsung, di Sudan selatan masih sibuk melakukan perhitungan suara. Hanya saja, perolehan sementara menunjukkan, Sudan akan terpecah dua bagian. Kemungkinan, Sudan selatan akan menjadi negara termuda di dunia. Referendum ini merupakan perwujudan dari kesepakatan perdamaian menyeluruh utara-selatan pada 2005.
Sebagaimana diketahui, negara di timur laut Afrika ini adalah salah satu negara termiskin di dunia. Meski demikian, siapapun tahu, Sudan sebenarnya memiliki sumber daya sangat besar yang bisa menggerakkan roda perekonomian. Pemerintah pusat di utara pimpinan Presiden Umar Hasan al-Basyir selama ini tegas mendasarkan pemerintahannya pada syariat Islam dan persatuan Sudan. Sementara di pihak Selatan, dari tujuh juta warganya, mayoritasnya non-Muslim dan menginginkan agar Republik Sudan dibangun di atas dasar sekuler.
Di tengah ketidaksamaan pandangan, rupanya, negara-negara asing –termasuk Israel—ikut khawatir dengan kokohnya syariat Islam di negara berpenduduk 42 juta jiwa ini. Mendagri Israel Avraham Avi Dichter, kepada salah satu media Israel, pada Oktober 2008, pernah membeberkan motif di balik krisis Sudan, di mana ada desain mengobarkan perang sipil. Menurutnya, Sudan memiliki sumber daya alam melimpah, wilayah luas, dan jumlah penduduk yang banyak. Israel khawatir, Sudan bisa menjelma menjadi negara kuat, yang bisa melindungi negara-negara Arab lainnya. “Sudan harus dipecah menjadi negara-negara kecil. Hal ini untuk menjamin dominasi kita terhadap kekayaan alam, sekaligus mengikis pengaruh Islam di sana,” sambung Avi Dichter.
Benarkah opsi referendum adalah bagian dari cara Barat dan Israel melemahkan syariat Islam? Kali ini, kontributor Majalah Suara Hidayatullah M. Nurkholis Ridwan mewawancarai Duta Besar Republik Sudan untuk Indonesia, H.E. Ibrahim Bushra Mohamed Ali, di sela-sela acara National Day Sudan di Hotel Shangrila, Jakarta, yang digelar beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:
Benarkah ada tekanan kuat dari Amerika Serikat?
Ya, terdapat tekanan besar dari Amerika Serikat (AS). Anda tahu Senator AS John Kerry, kini berada di Juba. Dia ikut menyaksikan dimulainya referendum di pusat suara. Ada juga artis George Coloney. Kami mengharapkan agar intervensi negara besar hendaknya dimaksudkan untuk kepentingan keamanan dan stabilitas Sudan. Bukan untuk memisahkan selatan dan mengancam persatuan dan ketentraman Sudan.
Memang adakah usaha semacam itu?
Pastilah. Banyak pihak yang mengincar Sudan. Ada pihak-pihak yang berupaya memecah-belah dengan mengarahkan agar referendum berujung pada pemisahan. Jika pun hasilnya adalah persatuan, maka hasil ini akan membuat gerah pihak-pihak yang selama ini mengincar Sudan. Sebab konspirasi dan makar tak pernah padam.
Benarkah Referendum akan menyelesaikan masalah?
Konspirasi terhadap Sudan sudah lama dan akan terus belanjut, sebab Sudan kaya akan sumber daya dan hasil alam. Sudan, jika diserahkan kepada rakyatnya untuk dikelola maka ia akan kaya, berkembang, dan kuat. Masalahnya, konspirasi ini terus berlanjut terhadap Sudan utara, bahkan kalaupun hasilnya berpisah. Tapi sikap sudah diambil, pemerintah berjanji menerima apa pun hasil dengan baik.
Meskipun, sesungguhnya kami (dari pemerintah) berharap agar warga selatan memilih tetap bersatu dengan Sudan. Sudan adalah negara multietnis, budaya, wawasan dan agama, di mana dapat hidup saling toleran dan kuat, insya Allah.
Tapi kita menyadari, persoalan persatuan tidak bisa dipaksakan kepada warga selatan. Jika warga selatan ingin bersatu, mereka harus rela. Demikian pula sebaliknya.
Bagaimana dengan Darfur?
Masalah Darfur tetap ada sejak awal muncul pada 2003. Pemerintah terus mengupayakan secara politik, keamanan dan ekonomi untuk menyelesaikan masalah ini. Sudan mendorong proses dialog di dalam dan luar negeri untuk menyelesaikan masalah ini. Sebagian milisi telah bergabung kembali dengan pemerintah. Sebagian lagi masih berdialog untuk mewujudkan perdamaian. Kami berharap agar tahun ini masalah Darfur dapat selesai.
Selama ini, di media massa, Darfur terkesan sangat menyeramkan, banyak pembantaian massal, apakah benar?
Itu sama sekali tidak betul. Tidak ada pembantaian massal di Darfur. Dan tidak ada program dari pemerintah untuk membunuhi manusia. Gerakan bersenjata yang bergerak di Darfur merupakan persoalan utama di Darfur, karena mereka mengangkat senjata melawan pemerintah, mengancam rakyat sipil dan merampok warga. Karena itu, menjadi hak pemerintah secara konstitusional untuk berupaya mengembalikan keamanan dan mewujudkan situasi kondusif di Darfur bagi warganya.
Ada banyak informasi bias. Misalnya, PBB mengatakan 300 ribu jiwa terbunuh di sana. Ini dusta. Siapa yang bisa menghitung mereka? Kita katakan, jika ada satu orang yang tewas di Darfur ini masalah. Angka yang disebut oleh PBB dan lembaga-lembaga yang memusuhi Sudan adalah informasi yang keliru dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Angka itu untuk memancing permusuhan terhadap Republik Sudan. Ini memang upaya dunia Barat menggangu ketentraman Sudan.
Andai itu kita sebut sebagai konspirasi, tujuannya untuk apa?
Tujuannya agar Sudan menjadi wilayah terancam, tidak stabil dan tak dapat mengolah sumber daya alamnya, serta tidak menjadi pegangan bagi Afrika, dunia Arab dan rekan-rekan di Asia, agar Sudan selalu menjadi negara lemah.
Mereka (Barat) tahu betul bahwa Darfur menyimpan lautan minyak dan potensi alam yang kaya, utamanya uranium. Mereka tidak ingin Sudan damai hingga dapat menikmati potensi alamnya. Karenanya, mereka berupaya memisahkan Darfur setelah bagian selatan mereka acak-acak. Sebab, Sudan adalah wilayah strategis.
Apa faktor lain yang membuat Sudan harus terpecah?
Salah satu faktor yang sangat penting karena Sudan menegakkan syariat Islam.
Seandainya pemerintah Sudan berhaluan liberal atau sekuler?
Kalau kita punya kebijakan yang dekat dengan Barat atau membela Israel, maka keputusannya mungkin akan berbeda. Namun, seluruh pemerintah Sudan –dengan berbagai kecenderungan politiknya– tak pernah mengubah pendapatnya dalam membela rakyat Palestina. Ini berlaku mutlak sejak kemerdekaan Sudan hingga hari ini.
Bagaimana Anda menggambarkan kerjasama Indonesia-Sudan?
Saya sangat bahagia dengan meningkatnya hubungan yang sangat pesat antara Indonesia dan Sudan di berbagai lini. Volume perdagangan bilateral, kunjungan pebisnis, industri, kelautan, peternakan, sampai pertukaran beasiswa S1 dan pascasarjana, budaya dan media, dan lainnya terus meningkat.
Ketika wawancara ini berlangsung, di Sudan selatan masih sibuk melakukan perhitungan suara. Hanya saja, perolehan sementara menunjukkan, Sudan akan terpecah dua bagian. Kemungkinan, Sudan selatan akan menjadi negara termuda di dunia. Referendum ini merupakan perwujudan dari kesepakatan perdamaian menyeluruh utara-selatan pada 2005.
Sebagaimana diketahui, negara di timur laut Afrika ini adalah salah satu negara termiskin di dunia. Meski demikian, siapapun tahu, Sudan sebenarnya memiliki sumber daya sangat besar yang bisa menggerakkan roda perekonomian. Pemerintah pusat di utara pimpinan Presiden Umar Hasan al-Basyir selama ini tegas mendasarkan pemerintahannya pada syariat Islam dan persatuan Sudan. Sementara di pihak Selatan, dari tujuh juta warganya, mayoritasnya non-Muslim dan menginginkan agar Republik Sudan dibangun di atas dasar sekuler.
Di tengah ketidaksamaan pandangan, rupanya, negara-negara asing –termasuk Israel—ikut khawatir dengan kokohnya syariat Islam di negara berpenduduk 42 juta jiwa ini. Mendagri Israel Avraham Avi Dichter, kepada salah satu media Israel, pada Oktober 2008, pernah membeberkan motif di balik krisis Sudan, di mana ada desain mengobarkan perang sipil. Menurutnya, Sudan memiliki sumber daya alam melimpah, wilayah luas, dan jumlah penduduk yang banyak. Israel khawatir, Sudan bisa menjelma menjadi negara kuat, yang bisa melindungi negara-negara Arab lainnya. “Sudan harus dipecah menjadi negara-negara kecil. Hal ini untuk menjamin dominasi kita terhadap kekayaan alam, sekaligus mengikis pengaruh Islam di sana,” sambung Avi Dichter.
Benarkah opsi referendum adalah bagian dari cara Barat dan Israel melemahkan syariat Islam? Kali ini, kontributor Majalah Suara Hidayatullah M. Nurkholis Ridwan mewawancarai Duta Besar Republik Sudan untuk Indonesia, H.E. Ibrahim Bushra Mohamed Ali, di sela-sela acara National Day Sudan di Hotel Shangrila, Jakarta, yang digelar beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:
Benarkah ada tekanan kuat dari Amerika Serikat?
Ya, terdapat tekanan besar dari Amerika Serikat (AS). Anda tahu Senator AS John Kerry, kini berada di Juba. Dia ikut menyaksikan dimulainya referendum di pusat suara. Ada juga artis George Coloney. Kami mengharapkan agar intervensi negara besar hendaknya dimaksudkan untuk kepentingan keamanan dan stabilitas Sudan. Bukan untuk memisahkan selatan dan mengancam persatuan dan ketentraman Sudan.
Memang adakah usaha semacam itu?
Pastilah. Banyak pihak yang mengincar Sudan. Ada pihak-pihak yang berupaya memecah-belah dengan mengarahkan agar referendum berujung pada pemisahan. Jika pun hasilnya adalah persatuan, maka hasil ini akan membuat gerah pihak-pihak yang selama ini mengincar Sudan. Sebab konspirasi dan makar tak pernah padam.
Benarkah Referendum akan menyelesaikan masalah?
Konspirasi terhadap Sudan sudah lama dan akan terus belanjut, sebab Sudan kaya akan sumber daya dan hasil alam. Sudan, jika diserahkan kepada rakyatnya untuk dikelola maka ia akan kaya, berkembang, dan kuat. Masalahnya, konspirasi ini terus berlanjut terhadap Sudan utara, bahkan kalaupun hasilnya berpisah. Tapi sikap sudah diambil, pemerintah berjanji menerima apa pun hasil dengan baik.
Meskipun, sesungguhnya kami (dari pemerintah) berharap agar warga selatan memilih tetap bersatu dengan Sudan. Sudan adalah negara multietnis, budaya, wawasan dan agama, di mana dapat hidup saling toleran dan kuat, insya Allah.
Tapi kita menyadari, persoalan persatuan tidak bisa dipaksakan kepada warga selatan. Jika warga selatan ingin bersatu, mereka harus rela. Demikian pula sebaliknya.
Bagaimana dengan Darfur?
Masalah Darfur tetap ada sejak awal muncul pada 2003. Pemerintah terus mengupayakan secara politik, keamanan dan ekonomi untuk menyelesaikan masalah ini. Sudan mendorong proses dialog di dalam dan luar negeri untuk menyelesaikan masalah ini. Sebagian milisi telah bergabung kembali dengan pemerintah. Sebagian lagi masih berdialog untuk mewujudkan perdamaian. Kami berharap agar tahun ini masalah Darfur dapat selesai.
Selama ini, di media massa, Darfur terkesan sangat menyeramkan, banyak pembantaian massal, apakah benar?
Itu sama sekali tidak betul. Tidak ada pembantaian massal di Darfur. Dan tidak ada program dari pemerintah untuk membunuhi manusia. Gerakan bersenjata yang bergerak di Darfur merupakan persoalan utama di Darfur, karena mereka mengangkat senjata melawan pemerintah, mengancam rakyat sipil dan merampok warga. Karena itu, menjadi hak pemerintah secara konstitusional untuk berupaya mengembalikan keamanan dan mewujudkan situasi kondusif di Darfur bagi warganya.
Ada banyak informasi bias. Misalnya, PBB mengatakan 300 ribu jiwa terbunuh di sana. Ini dusta. Siapa yang bisa menghitung mereka? Kita katakan, jika ada satu orang yang tewas di Darfur ini masalah. Angka yang disebut oleh PBB dan lembaga-lembaga yang memusuhi Sudan adalah informasi yang keliru dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Angka itu untuk memancing permusuhan terhadap Republik Sudan. Ini memang upaya dunia Barat menggangu ketentraman Sudan.
Andai itu kita sebut sebagai konspirasi, tujuannya untuk apa?
Tujuannya agar Sudan menjadi wilayah terancam, tidak stabil dan tak dapat mengolah sumber daya alamnya, serta tidak menjadi pegangan bagi Afrika, dunia Arab dan rekan-rekan di Asia, agar Sudan selalu menjadi negara lemah.
Mereka (Barat) tahu betul bahwa Darfur menyimpan lautan minyak dan potensi alam yang kaya, utamanya uranium. Mereka tidak ingin Sudan damai hingga dapat menikmati potensi alamnya. Karenanya, mereka berupaya memisahkan Darfur setelah bagian selatan mereka acak-acak. Sebab, Sudan adalah wilayah strategis.
Apa faktor lain yang membuat Sudan harus terpecah?
Salah satu faktor yang sangat penting karena Sudan menegakkan syariat Islam.
Seandainya pemerintah Sudan berhaluan liberal atau sekuler?
Kalau kita punya kebijakan yang dekat dengan Barat atau membela Israel, maka keputusannya mungkin akan berbeda. Namun, seluruh pemerintah Sudan –dengan berbagai kecenderungan politiknya– tak pernah mengubah pendapatnya dalam membela rakyat Palestina. Ini berlaku mutlak sejak kemerdekaan Sudan hingga hari ini.
Bagaimana Anda menggambarkan kerjasama Indonesia-Sudan?
Saya sangat bahagia dengan meningkatnya hubungan yang sangat pesat antara Indonesia dan Sudan di berbagai lini. Volume perdagangan bilateral, kunjungan pebisnis, industri, kelautan, peternakan, sampai pertukaran beasiswa S1 dan pascasarjana, budaya dan media, dan lainnya terus meningkat.
HIASI CINTA DENGAN SENYUM
Sejatinya senyum adalah jendela hati. Dari senyuman kita bisa mengetahui suasana dan isi hati seseorang. Senyuman yang terkembang berarti juga sebuah sinyal bagi orang lain untuk diterima kehadirannya dan diperbolehkan untuk bersama. Karena itu, mari mencoba mengingat-ingat berapa kali sehari kita tersenyum pada pasangan.
Keberadaan pasangan dalam hidup tentu menghadirkan begitu banyak kebaikan yang hadir. Kebaikan yang mungkin telah kita ketahui macamnya dan telah menjadi bagian dari rutinitas hidup. Akan menjadi sangat mungkin, kebaikan itu jadi tak berwarna dan tak bervariasi. Karena itu, senyum adalah sebuah awal untuk membuat kedekatan semakin erat dan penyubur kebaikan-kebaikan lainnya menjelma.
Awal Kebaikan
Sejenak, mari mengingat bahwa kasih sayang yang terjalin antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabat semakin kokoh dari hari ke hari, tak lain karena senyum yang senantiasa terkembang. Jarir bin Abdillah RA berkata, “Sejak aku masuk Islam, Nabi tidak pernah menghalangiku untuk menemuinya. Dan setiap kali berjumpa denganku, beliau selalu tersenyum padaku.” (Riwayat Al-Bukhari).
Alangkah indahnya bila pertalian hati ini pun menjelma dalam hubungan dengan pasangan kita. Senyum yang berarti penerimaan kita atas kehadirannya, sekaligus perlambang rasa cinta kita atas kebaikan yang selalu dihadirkannya dalam kebersamaan, akan menghapus berbagai prasangka dan menghadirkan kebaikan yang bertambah-tambah.
Karena itu, Rasulullah khusus berpesan agar setiap umatnya senantiasa berwajah cerah dan tersenyum pada suaminya atau istrinya. Bagi para istri, Nabi bersabda, “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu istri salehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi istrinya akan menjaga harta dan keluarganya.” Sabda ini pun berlanjut pada kewajiban seorang suami, yaitu, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yg paling baik akhlak dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.”
Rasulullah mewasiatkan perkara tersenyum dan berakhlaq yang baik pada pasangan sejak berbelas abad yang lalu. Terbukti, senyum memang perkara yang begitu penting dalam kehidupan berumahtangga sekarang ini. Berapa banyak orang yang mudah tersenyum pada orang lain, tetapi tingkah lakunya sangat tak menyenangkan di dalam rumah. Berapa banyak kini orang yang sangat sigap berbuat baik pada orang lain, tetapi sangat malas dan berat tangan ketika harus membantu pekerjaan istrinya. Tentu semua kondisi ini sangat mengganggu keharmonisan hubungan suami dan istri.
Padahal, bila setiap pasangan memahami betapa pentingnya berbuat baik disertai wajah yang cerah dan senyum yang dikembangkan, tentu banyak masalah yang terselesaikan dengan baik. Kita bisa rasakan, saat pekerjaan tengah bertumpuk, bila uluran tangan tak datang untuk meringankan, seulas senyum dan perhatian yang menyenangkan tentu sudah sangat berarti untuk melepaskan beban yang memberat dalam hati. Karena itu, Rasulullah bahkan mewasiatkan pada setiap Muslim untuk tersenyum sebagai sedekahnya pada sesama Muslim. “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (Riwayat Tirmidzi)
Peringan Beban
Senyum memang sangat besar efeknya bagi kondisi psikologis seseorang. Bisa dibayangkan bila seseorang tengah merasakan kegelisahan yang sangat, tentu senyum yang datang seakan memberi kesempatan baginya untuk menemukan jalan keluar dari masalah.
Kita tentu bisa merasakan ketika harus berangkat menuju kantor atau melakukan perjalanan menuju suatu tempat di pagi hari. Suasana jalan yang padat, berdesakan di dalam angkutan umum, dan kemacetan pastinya membuat perjalanan itu terasa sangat melelahkan. Seulas senyum yang kita lihat dari orang lain, meski ia tak sedang tersenyum pada kita tentu sudah memberi warna yang berbeda. Apalagi bila senyum itu datang dari orang yang seperjalanan dan “sependeritaan” dengan kita. Senyum bisa menjadi awal percakapan yang menyenangkan atau paling tidak bisa sejenak melupakan kepenatan.
Inilah pula yang dirasakan oleh pasangan kita manakala pagi hari menyapa. Sang suami sibuk berkemas berangkat kerja. Bersiap menyambut kemacetan jalan dan bersiap berjibaku dengan beban pekerjaan yang belum tentu sesuai dengan keinginannya. Begitu juga seorang istri. Pagi bagi seorang istri sekaligus ibu adalah waktu yang paling sibuk. Begitu banyak pekerjaan telah menanti, belum lagi permintaan untuk melakukan ini dan itu yang datang dari suami dan si buah hati.
Sungguh, semua rutinitas ini sangat melelahkan jiwa. Alangkah indahnya, bila semua rutinitas yang membelit itu dijalani dengan keceriaan dan senyum yang mengembang. Dampaknya begitu terasa. Bagi seorang suami, bila berangkat kerja dengan diiringi doa dan senyum; beban yang menggelayut rasanya sudah terkurangi separuh di rumah. Berganti semangat untuk mewujudkan harapan-harapan istri dan anak di rumah. Begitupun dengan sang istri yang harus berjibaku dengan pekerjaan rumah yang tak pernah berganti dan berhenti. Senyum dari suami pasti akan membuat hati akan terasa lebih ringan dan suasana pun menjadi nyaman. Senyum, paling tidak, akan melegakan dan sebuah bentuk pengertian.
Penyelesai Masalah
Kesalahpahaman dan masalah yang membelit juga akan lebih mudah diselesaikan dengan senyum yang disertai dengan ketulusan. Abraham Lincoln pernah mengatakan, “Sebagian besar orang hampir sebahagian yang mereka pikirkan.” Perkataan ini menegaskan pada kita bahwa apa yang kita pikirkan sangat mempengaruhi tindakan bahkan kualitas diri kita. Bisa dibayangkan bila kita memiliki pikiran negatif terhadap orang lain, maka apapun tindakan kita yang berkaitan dengan orang tersebut pasti juga akan negatif. Termasuk pada pasangan. Dampak negatifnya pasti akan meluas pada segala hal. Cobalah untuk memutus rantai muatan negatif ini dengan senyum.
Senyum juga membawa dampak positif pada cara kita berpikir. Senyum yang berusaha kita hadirkan dalam kondisi seperti apapun akan membimbing kita dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Pikiran kita akan terdorong untuk memandang kemelut yang terjadi dari sisi yang positif dan menghindarkan kita dari stress. Otak pun akan mendorong tubuh mengeluarkan energi yang akan membangun imunitas di dalam dan di luar tubuh, memperbaiki kualitas darah, dan memperbaiki kualitas udara yang kita hirup.
Inilah luar biasanya teladan yang diberikan oleh Rasulullah. Inilah kebaikan yang tersimpan dalam sabdanya, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (Riwayat Muslim)
Karena itu, mulai saat ini, berusahalah untuk senantiasa tersenyum. Buatlah tiap ulasnya yang menghiasi wajah kita berarti kasih sayang dan kebaikan, terutama untuk pasangan kita.
dubes palestina bukan HAMAS
Dubes Palestina: Abu Sisi Bukan Anggota Hamas Sabtu, 02 April 2011
Hidayatullah.com--Duta Besar Palestina untuk Ukraina Muhammad Al-As'ad hari Jumat (01/4) mengatakan bahwa insinyur Gaza yang ditahan oleh Israel tidak memiliki hubungan dengan Hamas atau faksi manapun.
Dirar Abu Sisi, pimpinan satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza, menghilang di atas kereta api di Ukraina pada bulan Februari dan tiba-tiba muncul di pengadilan Israel pada hari Kamis (31/3) lalu.
Dalam sebuah konferensi pers, Al-As'ad mengatakan bahwa pihak Palestina menunggu tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina tentang penculikan Abu Sisi. Menurutnya, Ukraina sedang menyelidiki kasus tersebut.
Al-As'ad menyambut baik tindakan menteri luar negeri Ukraina yang akan memanggil duta besar Israel ke Kiev untuk menjelaskan masalah tersebut.
Pengadilah Petah Tikvah hari Kamis memperpanjang penahanan Abu Sisi dan menetapkan 4 April sebagai tanggal dakwaannya.
Selama ini Abu Sisi dikurung dalam penjara Shikma, sebelah selatan kota pelabuhan Ashkelon. Pihak Israel mengeluarkan perintah untuk tidak menyebarkan informasi apapun tentang penangkapan Abu Sisi.
Menurut keluarga, penangkapan Abu Sisi dilakukan Israel karena insinyur itu berusaha mencari jalan alternatif untuk pembangkit listrik satu-satunya di Gaza. Abu Sisi sedang melakukan percobaan untuk menjalankan generator dengan bahan bakar yang dimurnikan yang dibawa masuk ke Gaza lewat terowongan bawah tanah dari Mesir, agar pembangkit listrik itu tidak lagi tergantung pada mesin-mesin diesel dari Israel.
Terhambatnya pasokan bahan bakar dari Israel kerap membuat wilayah Jalur Gaza gelap gulita dalam waktu yang lama. Pembangkit listrik yang pernah dibom oleh Israel itu hanya bisa beroperasi dengan kemampuan minimal akibat kurangnya pasokan bahan bakar.
Israel menangkap Abu Sisi dengan alasan pria yang beristerikan wanita Ukraina itu adalah anggota kelompok pejuang Hamas.*
Keterangan foto: Abu Sisi muncul di pengadilan Petah Tikvah, Kamis (31/3). [AFP]
Sumber : maan/gn
Red: Dija
Hidayatullah.com--Duta Besar Palestina untuk Ukraina Muhammad Al-As'ad hari Jumat (01/4) mengatakan bahwa insinyur Gaza yang ditahan oleh Israel tidak memiliki hubungan dengan Hamas atau faksi manapun.
Dirar Abu Sisi, pimpinan satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza, menghilang di atas kereta api di Ukraina pada bulan Februari dan tiba-tiba muncul di pengadilan Israel pada hari Kamis (31/3) lalu.
Dalam sebuah konferensi pers, Al-As'ad mengatakan bahwa pihak Palestina menunggu tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina tentang penculikan Abu Sisi. Menurutnya, Ukraina sedang menyelidiki kasus tersebut.
Al-As'ad menyambut baik tindakan menteri luar negeri Ukraina yang akan memanggil duta besar Israel ke Kiev untuk menjelaskan masalah tersebut.
Pengadilah Petah Tikvah hari Kamis memperpanjang penahanan Abu Sisi dan menetapkan 4 April sebagai tanggal dakwaannya.
Selama ini Abu Sisi dikurung dalam penjara Shikma, sebelah selatan kota pelabuhan Ashkelon. Pihak Israel mengeluarkan perintah untuk tidak menyebarkan informasi apapun tentang penangkapan Abu Sisi.
Menurut keluarga, penangkapan Abu Sisi dilakukan Israel karena insinyur itu berusaha mencari jalan alternatif untuk pembangkit listrik satu-satunya di Gaza. Abu Sisi sedang melakukan percobaan untuk menjalankan generator dengan bahan bakar yang dimurnikan yang dibawa masuk ke Gaza lewat terowongan bawah tanah dari Mesir, agar pembangkit listrik itu tidak lagi tergantung pada mesin-mesin diesel dari Israel.
Terhambatnya pasokan bahan bakar dari Israel kerap membuat wilayah Jalur Gaza gelap gulita dalam waktu yang lama. Pembangkit listrik yang pernah dibom oleh Israel itu hanya bisa beroperasi dengan kemampuan minimal akibat kurangnya pasokan bahan bakar.
Israel menangkap Abu Sisi dengan alasan pria yang beristerikan wanita Ukraina itu adalah anggota kelompok pejuang Hamas.*
Keterangan foto: Abu Sisi muncul di pengadilan Petah Tikvah, Kamis (31/3). [AFP]
Sumber : maan/gn
Red: Dija
Pasukan Rusia Bantai 17 Muslim Kaukasus Dari Udara
Sumber-sumber berita mengungkapkan bahwa sekelompok pasukan Rusia awalnya berusaha untuk menyerbu desa kecil di mana ada pangkalan khusus bagi para pejuang Islam. Namun penyerbuan itu gagal. Bahkan pasukan penyerang menderita kerugian dengan tewasnya tiga tentara, termasuk dua anggota pasukan khusus.
Komite mengatakan: “Setelah operasi penyerbuan selesai, kemudian dilanjutkan dengan serangan udara terbatas yang menyebabkan hancurnya pangkalan yang digunakan oleh para pejuang untuk melatih tentaranya, dan juga melakukan berbagai serangan di Ossetia Utara dan Ingushetia.”
Sumber-sumber berita mengatakan bahwa menurut informasi awal, 17 Muslim telah meninggal dalam serangan itu, di tengah pemberitaan tentang penangkapan dua orang dengan dalih bahwa mereka terlibat dalam serangan di bandara Moskow.
Komite mengakui tentang tewasnya dua anggota pasukan khusus Rusia, dan satu orang di Departemen Dalam Negeri. Sementara Komisi tidak menentukan dengan pasti tempat pelaksanaan operasi.
Menurut Kantor berita Perancis (AFP), pelaksanaan operasi khusus ini telah dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri dan Pertahanan dalam konteks penyelidikan serangan, yang menargetkan beberapa bandara yang telah disebutkan pada tanggal 24 Januari lalu, dan menyebabkan 37 orang meninggal (islammemo.cc, 29/3/2011).
Subscribe to:
Posts (Atom)