Hingga saat ini kehidupan manusia terus bertambah canggih. Gedung-gedung bertingkat dibangun semakin tinggi. Rekornya saat ini dipegang oleh Burj Khalifah, Dubai, yang mencapai ketinggian 828 meter atau 6 kali tinggi Tugu Monas, lengkap dengan balutan teknologi terhebat di muka bumi. Dengan kehebatan teknologinya, manusia juga sudah bisa membuat pesawat yang bisa mengangkut 1.000 penumpang (Airbus A380-900), setara penumpang 200 bis, lengkap dengan segala kemewahan dan kecanggihannya.
Belum lagi teknologi informasi yang bisa membuat manusia di seluruh dunia terhubung dalam hitungan detik. Hidup terasa lebih mudah dan nyaman.
Sayangnya, berbagai kehebatan itu bukannya membuat manusia bertambah bahagia, malah membuat sengsara. Di beberapa negara maju, seperti Jepang, angka bunuh diri justru sangat tinggi. Begitu juga angka kriminalitas dan berbagai penyakit sosial sangat memprihatinkan, meroket di mana-mana.
Meski hidup berbalut kemewahan, manusia tetap gundah gulana tak tertahankan. Hidup mereka terasa kosong. Ada sesuatu yang hilang dari jiwa. Mengapa manusia modern sekarang ini gelisah tak terperikan?
Petaka Peradaban Materi
Biang keladi penderitaan manusia di zaman modern ini adalah hegemoni peradaban materi, yakni peradaban yang menjadikan materi sebagai orientasi dasar. Ukuran kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan selalu dinilai dengan materi. Akibatnya, manusia terus berlomba-lomba mengejar materi.
Peradaban itulah yang telah membuat manusia hanya memiliki satu logika, yakni ketamakan. Mereka selalu bertanya-tanya, “Apa yang bisa saya ambil sebanyak-banyaknya untuk memuaskan diri saya?”
Setelah banyak memiliki, bukannya bertambah puas, malah bertambah haus untuk mengambil dan mengambil lebih banyak lagi. Persis seperti yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), “Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya,” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dalam peradaban materi, yang ditanam memang ‘biji’ keserakahan. Biji inilah yang kemudian tumbuh kian besar, menjelma dalam diri, masyarakat, negara, sampai ke penjuru dunia. Segala aspek selalu termanifestasi dari energi cinta materi. Sedihnya, justru kebanyakan manusia telah menjadi bagian dari peradaban ini.
Padahal, materi adalah dimensi paling rendah dalam kehidupan manusia. Materi adalah alat, bukan tujuan. Tapi, dalam peradaban materi, potensi-potensi yang dimiliki manusia justru digunakan untuk mengabdi pada materi. Tenaga dan umurnya untuk materi. Akal pikirannya untuk materi. Manusia sebagai makhluk ruhani justru terbelenggu potensi spiritualnya.
Jadi sesungguhnya, kegelisahan yang melanda manusia modern saat ini adalah akibat tidak tercukupinya kebutuhan ruhani. Dan, bodohnya, untuk menghilangkan kegelisahan itu mereka malah mencari kepuasan materi yang tak pernah ada habisnya. Alih-alih terbebaskan, mereka malah kian tepenjara.
Sayangnya, umat Islam belum bisa memberi solusi terhadap krisis kemanusiaan itu. Bahkan, bukannya menawarkan jalan keluar, kita malah banyak ang mengikuti kaum yang melahirkan peradaban bobrok itu.
Keadaan kita bahkan lebih menyedihkan dari mereka. Keunggulan teknologi dan materi belum dikuasai, tapi efek negatifnya telah meracuni umat ini. Akibatnya umat ini pun menjadi bulan-bulanan umat lain.
Kondisi seperti ini sejak jauh hari telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Tidak ada dua ekor srigala yang dikirimkan ke kelompok kambing akan lebih banyak membuat kerusakan melebihi kerusakan agama seorang Muslim yang ditimbulkan oleh terlampau cintanya seseorang kepada kehormatan, harta, dan pangkat,” (Riwayat Nasa’i).
Berkah Peradaban Rabbani
Kalau kita menanam biji buah yang pahit, maka yang tumbuh pasti pohon yang akan berbuah pahit juga. Kalau kita ingin memetik buah yang manis, yang kita tanam haruslah pohon yang berbuah manis pula.
Kalau kita menanam ‘biji’ cinta dunia, maka yang akan tumbuh adalah peradaban materi. Tapi jika ingin peradaban Rabbani yang tumbuh, ‘biji’ imanlah yang harus ditanam dan dirawat.
‘Biji’ iman yang bisa membuahkan peradaban Rabbani itu sebenarnya telah ada dalam diri setiap manusia, yakni berupa potensi fitrah. Tapi, seringkali potensi ini tidak mendapat aktualisasi yang semestinya, sehingga ‘biji-biji’ cinta dunialah yang ditaburkan oleh setan dalam diri manusia.
Kesadaran bahwa peradaban Rabbani harus ditanam dari ‘biji’ iman itulah yang dimiliki Rasulullah SAW. Dengan gigih dan penuh kasih, beliau menanamnya ke dalam lubuk hati para Sahabat melalui kalimat agung laa ilaaha illallah.
Dengan perawatan yang sempurna, kian hari dan kian waktu, ‘biji’ iman ini tumbuh dan kian besar. Ia tumbuh dalam diri, dalam keluarga, dan masyarakat.
Sampai suatu saat beliau akhirnya diperintahkan berhijrah, karena Makkah tak memungkinkan lagi menjadi tempat berseminya iman dalam komunitas kaum Muslim yang jumlahnya sudah kian besar. Maka, dengan izin Allah, di Madinahlah bersemi dan tumbuh peradaban Rabbani dalam masyarakat yang lebih luas.
Sejak itu, peradaban Islam kian berkembang meliputi berbagai aspek kehidupan. Pada masa kejayaannya, peradaban ini memayungi penjuru bumi. Ibarat pohon, akarnya menghujam ke bumi, dan batang serta cabangnya menjulang rindang ke langit. Buahnya lebat dan dipetik setiap saat.
Bila penganut peradaban materi berpikir, ‘apa yang bisa saya ambil’, maka peradaban Rabbani berpikir, ‘apa yang bisa saya berikan’. Mengapa? Karena, sebaik-baik manusia bukannya yang mengambil banyak tapi yang memberi banyak. Banyak menolong dan memberi manfaat. Jadi, bukan nafas serakah yang digunakan, melainkan sikap qanaah dan zuhud.
Dengan qanaah akan tumbuh rasa syukur atas karunia Allah Ta’ala dan menggunakan sebesar-besarnya nikmat itu untuk menyebar kebaikan. Dengan zuhud, hati akan menguasai harta untuk alat kebaikan, bukan malah diperbudaknya.
Inilah yang membuat jiwa seorang mukmin akan berdaya dan mampu berbagi dengan sesama. Semua ini merupakan wujud takwa kepada Allah Ta’ala. Spirit inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sosial kita.
Teguhkanlah iman! Jangan terpenjara oleh materi dunia! Lepaskan belenggu dunia dengan berkorban harta dan jiwa di jalan Allah Ta’ala. Inilah perniagaan yang lebih baik dan menyelamatkan, sekaligus mengundang ampunan dan surga-Nya, serta pertolongan dan kemenangan dari-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Ash-Shaaf [61]: 10-13)
Bukalah hati dan jiwa kita untuk menerima bimbingan-Nya! Ingatlah, tujuan perjalanan jiwa lebih tinggi dari materi duniawi!
Karena itu, peradaban yang harus kita hidupkan adalah peradaban Rabbani, peradaban yang lebih tinggi dari peradaban materi. Umat manusia yang sedang mengalami nestapa menunggu kehadiran peradaban Rabbani.
Mari bebaskan diri dari perbudakan materi. Mari nikmati kebebasan jiwa memasuki dimensi yang tertinggi demi mengabdi pada Ilahi.Wallahu a’lam bish shawab.*
No comments:
Post a Comment