Saturday, April 2, 2011

Didalam ombak ada kebenaran al-Quran

Dalam al-Qur’an surat An-Nuur [24] : 40 Allah berfirman:
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”
Ayat ini di antaranya menjelaskan adanya dua ombak di lautan. Pembahasan mengenai ombak atau gelombang dalam oseanografi, secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian: gelombang permukaan dan gelombang internal. Gelombang permukaan adalah fenomena yang bisa kita temui ketika mengamati permukaan air laut, dan biasa disebut sebagai ombak.
Penyebab terjadinya ombak permukaan adalah hembusan angin dan pasang surut air laut yang terjadi akibat adanya gaya tarik bulan dan matahari.
Ombak dalam tidak bisa dilihat secara kasat mata. Namun, keberadaannya telah diakui oleh para ilmuwan yang menemukan pada 1955 M. Keberadaan ombak ini berada pada kedalaman 1000 M, yang disebut ombak dalam (internal waves).
Ombak dalam terjadi pada permukaan lapisan air di kedalaman lautan, sebab ia memiliki kepekatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan air di atasnya.
Ombak dalam terbentuk akibat adanya perbedaan rapat massa atau densitas air laut dengan gaya pembangkit yang dapat berasal dari angin, pasang surut atau bahkan gerakan kapal laut.
Densitas air laut dipengaruhi oleh tiga parameter yaitu salinitas, temperatur, dan tekanan. Perbedaan densitas akan mengakibatkan air laut menjadi berlapis-lapis, dimana air dengan densitas yang lebih besar akan berada di bawah air dengan densitas yang lebih kecil. Kondisi ini akan menyebabkan adanya lapisan antar muka (interface) dimana jika terjadi gangguan dari luar (oleh gaya pembangkit yang ada) akan timbul gelombang antar lapisan yang tidak mempengaruhi gelombang di permukaan.
Ombak dalam berperilaku mirip ombak permukaan. Ia juga bisa pecah seperti ombak di permukaan laut. Bahkan ia lebih besar daripada ombak yang ada di permukaan, dengan ratusan kali lipat dalam panjang dan tinggi gelombangnya.
Gelombang internal tidak akan bisa kita lihat, karena ia terjadi di lapisan dalam. Ia hanya dapat dideteksi dengan cara melakukan pengamatan atau pengukuran langsung piknoklin atau termoklin dengan menggunakan sensor-sensor pengukuran temperatur dan salinitas air laut, kecepatan arus laut, atau peralatan akustik seperti sonar. Atau bisa dideteksi melalui peralatan canggih dengan mempelajari perubahan suhu dan kandungan garam pada suatu lokasi tertentu.
Piknoklin adalah lapisan yang densitas air lautnya berubah secara cepat terhadap kedalaman, sedangkan termoklin ialah lapisan yang temperatur air lautnya berubah secara cepat terhadap kedalaman.
Secara visual, gelombang dalam baru bisa dilihat jika kita melakukan percobaan di laboratorium atau mengamatinya dari udara atau ruang angkasa dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.
Fenoman alam yang hanya bisa dideteksi dengan peralatan canggih ini, ternyata sudah tertulis secara jelas dan eksplisit dalam al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa Kitab Suci itu benar-benar berasal dari pencipta alam ini yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.*

"Proyek" terorisme, untuk siapa?

Tak kurang dari 100 orang dari berbagai Ormas Islam se-Jatim dan pengurus MUI Gerbangkertosusilo (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, dan Lamongan), hadir memenuhi undangan MUI Jatim dalam acara “Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme”. Acara serupa, rupanya juga diselenggarakan di enam kota besar Indonesia, meliputi Jakarta (11 Nopember), Solo ( 21 Nopember), Surabaya (28 Nopember), Palu (12 Desember) dan rencana terakhir di Medan (30 Desember).
Penggagas acara ini adalah MUI Pusat dan Forum Komunikasi Praktisi Media Nasional (FKPMN) yang diketuai oleh Wahyu Muryadi (Pimred Majalah Tempo). Tema acara itu sendiri adalah “Peranan Ulama dalam Mewujudkan Pemahaman Keagamaan yang Benar”.
Selain MUI, acara juga dihadiri Deputi Badan Intelejen Negara dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, dan Kapolda Jatim.
Namun, dari tiga kali pelaksanaan agenda ini, Jakarta, Solo dan Surabaya, terungkap pandangan yang ambigu dari pihak BNPT. Saat di Jakarta misalnya, Ansyaad Mbai berujar, ”Penyusupan ajaran radikal semakin luas, sudah masuk hingga ke perguruan-perguruan tinggi elite, bukan perguruan tinggi pinggiran. Bahkan, menyusup ke perkantoran dan mempengaruhi karyawan.”
Menurutnya, distorsi pemahaman yang menjadi fondasi terorisme itu perlu dicegah melalui pendekatan lunak dengan mengedepankan peran ulama untuk meluruskan pemahaman yang menyimpang itu.
Di Solo, terpapar ada sebuah upaya masif untuk memasukkan para ulama dalam pusaran proyek kontra-terorisme ini. Karena terungkap pandangan bahwa bagian dari soft strategi melawan radikalisme dan “terorisme.” Caranya adalah melibatkan ulama yang langsung bersentuhan dengan masyarakat akar rumput secara aktif dalam upaya deradikalisasi ajaran agama.
Sementara itu, Wakil Ketua Tim Penanggulangan Terorisme MUI, Atho Mudzhar mengatakan, pemahaman keliru yang perlu diluruskan antara lain penyempitan makna jihad dan menyamakan konsep inghimas (jibaku) dengan bom bunuh diri. Kekeliruan lain, kata Atho, Daulat Utsmaniyyah dianggap paling ideal sehingga ketika jatuh dianggap sebagai kejatuhan Islam. Padahal, daulat ini juga mewujudkan imperialisme sehingga bukan yang paling ideal.
”Banyak yang bermimpi kembali tegaknya khilafah seperti masa Daulat Utsmaniyyah. Mereka juga hanya mau mendengarkan ulama yang mengangkat senjata, seperti Usama bin Ladin, dan menepikan ulama yang dianggapnya hanya duduk-duduk,” kata Atho. Saya merasa pandangan dosen UIN Jakarta dan Kepala Badan Litbang dan Diklat Depertemen Agama ini nyeleneh.
Mereduksi Jihad dan Syariat Islam
Dari pengamatan di lapangan, setiap agenda “Halaqah Nasional” pasti dihadiri para petinggi Polri, BIN dan pejabat BNPT, sekalipun acara tersebut digagas MUI bersama FKPMN. Karenanya, sulit rasanya kalau acara ini tidak dikaitkan dengan sebuah “proyek”.
Jika ditelisik, terasa ganjil kenapa MUI dalam surat keputusannya tanggal 19 Oktober 2010 tentang pembentukan panitia “Halaqah Nasional” ini menggandeng FKPMN. Siapa mereka dalam konteks Islam? Bahkan fakta di lapangan yang dihadirkan adalah orang-orang yang hanya merepresentasikan kepentingan BNPT atau aparat saja.
Di beberapa tempat, “Halaqah Nasional “ tampak ada upaya untuk redefinisi jihad dan syariat Islam.
Salah satu materi Ansyaad Mbai di Jakarta (6 Nopember 2010) dan di Surabaya (28 Nopember 2010), dalam makalah berjudul, “Terorisme dan Strategi Penanganannya”, mencantumkan kesimpulan yang berbahaya. Makalahnya tertulis, “…dari hasil investigasi telah diketahui dengan jelas bahwa tujuan terorisme adalah dua hal. Pertama, Khilafah Islamiah (Daulah Islamiah/(JI)), Kedua, syariat Islam.”
Tak disebutkan secara rinci, apakah ini pandangan pribadi beliau atau ada keterangan lain. Jika ini kesimpulan pribadi, setidaknya, ia telah mencurigai semua umat Islam di Indonesia. Sebab, tak satu pun umat Islam yang tak menerapkan syariat Islam dalam kehidupannya.
Namun jika ini membutuhkan keterangan lain, setidaknya, makalah seperti itu tak dikirim dan sampai ke mana-mana. Sebab, itu bisa merugikan kalangan pemerintah dan aparat sendiri yang selama ini tindakannya masih diragukan masyarakat.
Di sisi lain, pertemuan ini juga telah membatasi definisi tertentu terhadap terorisme. Padahal persoalan definisi terorisme saja, hingga saat ini tidak ada satu pun kesepakatan di dunia. Tapi mengapa arah “Halaqah Nasional” ini diarahkan ke umat Islam. Misal; siapa tak tahu kejahatan yang dilakukan Israel dan Amerika? Tapi apakah forum ini juga menyebut itu sebagai terorisme?
Karenanya “Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme” ini, seolah menjadi bagian dari legitimasi atas “stigmasi terorisme” yang dilakukan oleh Densus 88 tanpa ada koreksi.
Kontra-terorisme yang berjalan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari proyek War on Terorrism (WOT) buatan Amerika. Sudah mafhum, bagaimana AS menjadi biang kerok instabiltas sosial-politik-ekonomi dan keamanan di berbagai belahan dunia Islam dengan GWOT (global war on terrorism)-nya dan menjadi acuan dari proyek WOT di level lokal, termasuk di Indonesia.
Bocoran dokumen dari Wikileaks terbaru cukup menjadi bukti. Bagaimana kejahatan AS atas dunia Islam –dengan menggunakan instrument dan jargon melawan terorisme— untuk melumpuhkan Islam.
Kawat yang dibocorkan Wikileaks di antaranya adalah; fakta bagaimana AS membuat stasitun TV, menciptakan film dan ide kebebasannya masuk ke Saudi Arabia dan dunia Islam yang lain.
Film-film seperti serial TV “Desperate Housewives”, dinilai lebih ampuh membujuk kaum muda Saudi Arabia untuk menolak seruan jihad daripada program TV propaganda pemerintah AS yang menghabiskan jutaan dolar.
Acara seperti “Desperate Housewives”, “Late Show With David Letterman” dan serial sitcom “Friends” diizinkan mengudara di Saudi nyaris tanpa sensor. Menurut Wikileaks, selain sebagai bagian dari “perang ide” program ini dilancarkan guna mengikis paham ekstrem.
Menurut kabel diplomatik rahasia berjudul “David Letterman: Agent of Influence”, acara-acara khas Amerika itu terbukti lebih efektif dibandingkan alat propaganda utama AS.
Karenanya, bagaimana kita bisa percaya begitu saja, bahwa agenda “Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme” sama War on Terorrism buatan Amerika? Amat mustahil rasanya.
Alih-alih ingin mengikis paham radikal, “Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme” justru melahirkan akar masalah baru.
Lantas acara “Halaqah Nasional” ini sesungguhnya untuk siapa?
Selain itu, seharusnya para ulama –yang seharusnya mampu menjadi penengah masalah— seharusnya tidak ikut terjebak dalam arus “proyek” ini. Wallahu a’lam.

Tsunami, proses penyempurnaan ciptaan ALLAH

Tsunami terjadi akibat adanya gelombang laut dengan periode panjang, yang disebabkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut yang menimbulkan gelombang besar ke daerah pantai.
Menurut teori, gangguan implusif bentuknya adalah gempa tektonik, erupsi vulkanik, dan longsoran (land slide) akibat pergerakan kulit lempeng bumi. Pergerakan lempeng ini dalam al-Qur`an dijelaskan dalam surat Al Ghosyiyah ayat 20 yakni, “Apakah mereka (orang-orang kafir) tidak melihat bagaimana bumi (daratan) dibentangkan (dipisahkan) satu dengan yang lainnya”.
Pergerakan lempeng itu disebabkan struktur bumi yang tidak padat, terdiri dari tujuh lapis. Itu sebagaimana dijelaskan al-Qur`an dalam surat Ath Thalaaq ayat 12 yang berbunyi “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”
Pergerakan lempeng ada yang saling mendekat dan pula yang saling menjauh, dengan kecepatan pergerakan berbeda satu dengan yang lainnya (rata-rata 6-12 cm pertahunnya). Pergerakan lempeng yang saling mendekat inilah yang menyebabkan terjadinya pertemuan 2 (dua) lempeng. Posisi lempeng benua lebih di atas, bila dibandingkan lempeng samudera (karena perbedaan berat jenis), sewaktu terjadi penghujaman ujung lempeng samudera menuju ke arah pusat bumi. Sedangkan ujung lempeng benua bertumpu pada lempeng samudera.
Pada kondisi ini akan terjadi dua situasi. Pertama, pada ujung lempeng benua akan timbul tekanan disebabkan pergerakan perlahan-lahan lempeng-lempeng benua. Pergerakan ini selanjutnya akan menimbulkan retakan (patahan = terbentuk karena adanya batuan rapuh). Di saat tekanan semakin meningkat pada tingkat tertentu, akan terjadi pergerakan mendadak. Energi yang dilepaskan menyebabkan batuan di sekitarnya bergetar, sehingga terjadi gempa bumi.
Kedua, pergerakan lempeng samudera, yang ujungnya menuju pusat bumi mengalami peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunung api di tepi benua.
Pada pergerakan lempeng yang saling menjauh secara horizontal, akan menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan inilah yang menyebabkan adanya perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba, sehingga mengubah gelombang laut. Gelombang yang disebut tsunami ini dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami ini tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya.
Di laut dalam, gelombang ini dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam dengan ketinggian gelombang hanya sekitar 1 meter. Ketika mendekati pantai, kecepatannya menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang tsunami ini bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai.
Dari berbagai tinjauan yang disampaikan di atas, terjawablah bahwa gempa bumi dan tsunami merupakan proses dari Allah untuk penyempurnaan ciptaan-Nya. Penyempurnaan ciptaannya ini, bukan hanya berlaku kepada bumi, tetapi juga kepada penghuninya.*

10 langkah meraih cinta ALLAH

Tujuan hidup seorang Muslim adalah memperoleh ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memasuki surga-Nya. Tujuan ini akan tercapai hanya jika ia menjalani hidup secara mulia, baik sebagai hamba Sang Khalik maupun sebagai makhluk sosial, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.
Adapun tujuan hidup orang kafir hanya untuk memenuhi syahwatul bathn (syahwat perut) dan syahwatul farj (syahwat seks). Maka, aktivitas hidupnya pun hanya untuk memburu sesuatu yang menyenangkan sesaat, tapi kemudian membuat dirinya sendiri kecewa.
Allah Ta’ala berfirman, ”Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun, dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur [24] : 39)
Jika sudah demikian, mereka lebih rendah dari binatang. Sebab, sebagai makhluk yang memiliki kebihan akal dan kemampuan spiritual, seharusnya mereka tidak berbuat seperti itu. Panca indera mereka sudah tak lagi berinteraksi dengan ayat-ayat-Nya.
Allah Ta’ala berfiman, ”Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf [7] : 179)
Kiat Meraih Cinta-Nya
Seorang Muslim tidak boleh terjebak pada tujuan memburu kenikmatan sesaat sebagaimana yang diderita oleh kaum yang tidak beragama.
Apa pun keadaannya seorang Muslim harus menggunakan karunia-Nya secara maksimal untuk mencapai kenikmatan yang bersifat permanen (akhirat).
Bagaimana mewujudkannya? Bagaimana meraih cinta-Nya? Berikut langkah-langkahnya.
1. Selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ibadah mahdhah secara istiqamah.
Allah Ta’ala berfirman, ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2] : 185)
Dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman, ”Aku dalam sangkaan hamba-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kemudian apabila ia ingat Aku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia ingat kepada-Ku dalam satu kaum, maka Aku akan mengingatnya dalam kaum yang lebih banyak dari pada kaum itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, aku akan datang kepadanya dengan lari-lari kecil.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Kecintaan Allah Ta’ala bisa diperoleh dengan menjalankan ibadah nawafil (tambahan/sunnah).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, ”Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal lebih Aku sukai daripada jika ia mengerjakan amal yang Kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, sebagai tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Ku-beri dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku pasti Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari)
3. Kecintaan Allah Ta’ala juga bisa diperoleh dengan mencintai para kekasih-Nya. Merekalah orang-orang yang senantiasa ditolong, dilindungi, dan dibela oleh-Nya.
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu (Ra), Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman, ”Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Ku-izinkan ia diperangi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
4. Mengikuti ajaran Rasulullah SAW (ittiba’) sebagai bukti kecintaan kepada beliau.
Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran [3] : 31)
5. Berperang di jalan Allah Ta’ala dengan shaf yang rapi.
Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff [61] : 4)
6. Sabar ketika diuji dengan penderitaan dan syukur ketika diuji dengan kelapangan.
Allah Ta’ala berfirman, ”Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran [3]: 146)
7. Selalu berbuat baik dan suka menolong sesama.
Allah Ta’ala berfirman, ”Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Maidah[5]: 93)
Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA, juga bersabda, “Barangsiapa melepaskan seorang Mukmin dari penderitaan-penderitaan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya penderitaan-penderitaan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup aib seorang Muslim maka Allah akan menutup aibnya di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (Riwayat Muslim)
8. Bertakwa dan berbuat adil.
Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah [9]: 7).
Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah [60[: 8)
9. Ikhlas dalam beramal.
Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang meninggalkan dunia dalam keadaan ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat, menunaikan zakat, (lalu) ia wafat, maka Allah ridha kepadanya.” (Riwayat Ibnu Majah)
10. Bertobat dengan tulus.
Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah [2] : 222)

Cinta ALLAH diatas segalanya

Dalam perspektif kaum sufi, puncak pencapaian seseorang dalam beragama adalah mahabbatullah atau cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang lebih tinggi dari itu.
Menurut perspektif yang lain, cinta kepada Allah Ta’ala adalah kebergantungan hati kepada Sang Khaliq sehingga melahirkan kenyamanan di hati saat merasa di dekat-Nya, atau perasaan gelisah manakala merasa jauh dari-Nya.
Abdullah Nasih Ulwan, ulama terkenal dari Syria, mengatakan cinta merupakan fitrah sekaligus anugerah dari Allah Ta’ala yang sangat besar kepada manusia. Karena cinta itulah manusia terus berkembang dan tetap eksis di dunia.
Dua Cinta
Ada dua bentuk cinta yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada manusia. Pertama, cinta yang bersifat materi (duniawi), yaitu cinta terhadap apa saja yang diingini. Dalam bahasa al-Qur`an disebut hubbusy-syahawat.
Allah Ta’ala berfirman, Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang disenangi dan diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Namun di sisi Allah lah tempat kembali yang paling baik. (Ali Imran [3]: 14)
Apakah manusia dilarang mencintai hal-hal yang disebutkan dalam ayat di atas? Tidak! Islam sama sekali tidak melarang umatnya untuk mendapatkan kenikmatan hidup di dunia. Bahkan, secara tegas Allah Ta’ala memerintahkan manusia untuk tidak melupakannya. Kenikmatan dunia merupakan hak semua orang yang hidup di muka bumi.
Allah Ta’ala berfirman, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kesenangan dan kebahagiaan negeri akhirat, namun janganlah kamu melupakan bagianmu dari kesenangan dan kebahagiaan (kenikmatan) hidup duniawi. (Al-Qashash [28]: 77)
Hanya saja, Islam mengingatkan bahwa kebahagiaan hidup di dunia itu bersifat sementara. Kesenangan di dunia itu bersifat temporer. Sebentar saja!
Itulah sebabnya Allah Ta’ala memberi tawaran kepada kita dalam firman-Nya, ”Katakanlah, inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.” (Ali Imran [3]: 15)
Itulah kebahagiaan akhirat yang abadi. Bagaimana manusia bisa mendapatkan kebahagian di akhirat? Jawabnya, berikan cinta yang amat mendalam kepada Allah Ta’ala. Itulah mahabbah jenis kedua yang bersifat ukhrawi, atau disebut mahabbatul iman.
Jika perasaan cinta yang amat mendalam ini tertaman dalam diri seseorang, maka itulah anugerah Allah Ta’ala yang sangat besar. Bersyukurlah mereka yang telah mendapatkannya.
Allah Ta’ala berfirman, Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus; sebagai karunia dan nikmat (yang besar) dari Allah SWT. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (Al-Hujuraat [49]: 7 – 8)
Pecinta Sejati
Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) adalah tokoh yang patut diteladani dalam ber-mahabbah kepada Allah Ta’ala. Ibrahim AS adalah orang yang menempatkan cinta kepada Allah Ta’ala di atas semuanya. Tidak ada cinta yang melebihi cintanya kepada Allah Ta’ala.
Ketika harus memilih antara Allah Ta’ala dengan orangtuanya, Ibrahim AS memilih Allah Ta’ala sekalipun konsekuensinya beliau harus terusir dari keluarganya.
Ketika diuji untuk mengorbankan hartanya, beliau tak ragu-ragu untuk menghabiskan seluruhnya hingga tak sedikit pun yang tersisa.
Ibrahim AS juga sangat menyintai anaknya, Ismail. Akan tetapi, ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyembelihnya, lagi-lagi beliau sanggup melaksanakannya. Cintanya kepada anaknya diletakkan di bawah cintanya kepada Allah Ta’ala.
Keteladanan Ibrahim AS dalam mencintai Allah Ta’ala itulah yang diperagakan ulang oleh jutaan kaum Muslim yang menjalankan ibadah haji maupun yang melaksanakan syariat kurban. Mereka berupaya mengikuti jejak Ibrahim AS dengan meletakkan cinta kepada Allah Ta’ala di atas segala-galanya.
Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petujuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah [9]: 24)
Cinta Allah, Segalanya
Allah Ta’ala tidak menuntut hamba-Nya untuk hanya mencintai-Nya dan mengabaikan cintanya kepada yang lain. Ini karena perasaan cinta merupakan fitrah sekaligus anugerah.
Allah Ta’ala tidak menghalang-halangi perasaan cinta kita kepada apa pun dan kepada siapa pun, asal sejalan dengan kehendak-Nya.
Cinta kita kepada isteri bukannya dilarang, bahkan diperintahkan agar senantiasa dipelihara dan ditumbuhsuburkan. Allah Ta’ala hanya memberi batasan jangan sampai cinta kita kepada isteri melebihi cinta kita kepada-Nya.
Cinta kita kepada sesama Muslim juga harus tumbuh karena kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Semakin dalam cinta kita kepada Allah Ta’ala, kian besar pula rasa saling mencintai di antara saudara-saudara seiman.
Allah Ta’ala menegaskan hal ini dalam Hadits Qudsy, ”Pasti akan mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku. Pasti mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang menyambung hubungan silaturrahim karena Aku.” (Riwayat Ahmad)
Jadi, Allah Ta’ala hanya menuntut agar cinta kita kepada selain-Nya tidak lebih besar dari cinta kita kepada diri-Nya. Letakkanlah cinta kepada yang lain di bawah cinta kepada Allah Ta’ala!
Seorang yang mencintai Allah Ta’ala tentu ingin selalu dekat dengan-Nya, merasa tentram saat menyebut nama-Nya, merasa akrab saat meminta ampunan kepada-Nya, merasa aman saat meminta pertolongan kepada-Nya, dan merasa nyaman saat beribadah kepada-Nya.
Jika Allah Ta’ala memanggil lewat kumadang azan, semua pekerjaan seketika akan ia tinggalkan. Ia akan bergegas pergi ke masjid dan melaksanakan shalat.
Ketika Allah Ta’ala memanggilnya ke Baitullah, maka dengan jerih payah ia sisihkan uang untuk bisa berangkat memenuhi undangan-Nya. Itulah wujud kongkrit cinta kepada Allah Ta’ala.
Wallahu a’lam ***

Mencintai untuk dicintai ALLAH

Kebanyakan manusia memiliki visi hanya sebatas kehidupan dunia saja. Pikiran, hati, dan tindak tanduk mereka cuma untuk mengejar kesenangan lahiriah saja.
Sementara orang-orang yang beriman, memiliki visi yang melampaui kehidupan dunia. Mereka sadar bahwa dunia dan seisinya akan punah pada masanya.
Visi mereka tidak berhenti hanya pada dunia melainkan lebih dari itu. Visi mereka mencapai Sang Mahapencipta. Itulah visi akhirat.
Pikiran, hati, dan tindak tanduk mereka tidak diabdikan untuk mereguk kesenangan dunia saja, tetapi ingin meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka sadar bahwa yang abadi hanyalah Allah Ta’ala. Dunia dan seisinya akan mereka tinggalkan lalu hancur binasa.
Kita pun seharusnya demikian. Janganlah cinta kita terhenti oleh kesenangan dunia. Teruskanlah perjalanan cinta tersebut hingga menuju Sang Pencipta. Allah Ta’ala berfirman, ”Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa’ [4]: 134)
Memang tidak mudah mengajak diri mencintai Allah Ta’ala. Pesona dunia sangat menggoda dan melalaikan. Namun, manusia bukannya tak mampu melampauinya. Sebab, mencintai Allah Ta’ala itu adalah fitrah.
Fitrah Mencintai Allah
Saat kita menengadahkan kepala ke langit, atau berjalan di hamparan bumi nan luas, atau berlayar di samudera yang tak bertepi, maka hati kita akan tergetar.
Begitu juga ketika kita mempelajari fenomena air yang mampu menyuburkan tanah, berbagai jenis hewan yang tersebar di seluruh permukaan bumi, bahkan sampai ke dasar samudera, angin bertiup yang tak terlihat sumbernya, awan yang menaungi laksana payung tampa tiang, membuat hati kita terkagum-kagum.
Tapi, orang yang hanya melihat semua itu dari mata lahiriah, akan berhenti sampai pada sesuatu yang tampak secara inderawi saja. Padahal kita diperintahkan agar tidak hanya menyaksikan sesuatu yang tampak saja, melainkan juga memikirkan di balik yang tampak tersebut. Dialah Sang Pencipta.
Al-Qur`an bahkan memuat anjuran ini pada ayat yang turun pertama kali. “Iqra` bismirabbikalladzi khalaq.” Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan.”
Ketika kita menyadari bahwa Allah Ta’ala adalah pencipta diri dan kehidupan kita maka secara fitrah kita akan cinta dan rindu kepada-Nya. Ini sama seperti fitrah cinta kita kepada kedua orang tua yang menjadi “sumber” keberadaan kita.
Bahkan, cinta kita kepada Allah Ta’ala akan berlipat kali cinta kita kepada kedua orang tua. Sebab, pemberian dan kasih sayang yang diberikan Allah Ta’ala jauh melebihi pemberian dan kasih sayang kedua orang tua kita.
Allah Cinta Sejati
Ingatlah! Segala sesuatu yang ada di dunia ini, juga segala yang kita cintai, pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah Ta’ala. Dalam hal apa pun kita mencintai sesuatu, baik keindahannya, kasih sayangnya, kebaikannya, sesungguhnya Allah Ta’ala melebihi semua itu.
Jika kita mencintai seseorang karena merasakan kasih sayangnya, maka bandingkanlah dengan kasih sayang Allah Ta’ala. Jika kita merasa kagum dengan segala kebaikan seseorang maka bandingkanlah dengan kebaikan Allah Ta’ala. Semua perbandingan itu akan menyadarkan kita bahwa Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, melebihi apa pun.
Jadi, jangan berhenti hanya sampai mencintai sesuatu yang tampak di depan mata. Teruskan perjalanan cinta itu hingga sampai kepada Allah Ta’ala.
Begitulah karakter orang-orang yang beriman sebagaimana firman Allah Ta’ala, ”Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah,” (Al-Baqarah [2]: 165).
Meraih Cinta Allah
Tentu saja kita berharap cinta kita kepada Allah Ta’ala adalah cinta yang berbalas, bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kita tidak boleh egois dalam mencintai Allah Ta’ala. Kita tak boleh mencintai semau kita sendiri.
Bagaimana caranya agar Allah Ta’ala juga mencintai kita? Untuk menjawab ini maka tanyakan kepada diri kita terlebih dahulu, apakah pantas kita dicintai oleh Allah Ta’ala?
Jika belum maka buatlah agar diri kita pantas. Nilailah diri kita, bukan dari seberapa banyak kenikmatan yang telah kita dapatkan, tetapi seberapa besar manfaat yang telah kita perbuat selama hidup. Kita bekerja bukan untuk bermegahmegahan, tetapi untuk memberi manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain.
Nilai pula diri kita apakah selama ini kita telah mengikuti tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya secara benar? Sebab, secara jelas Allah Ta’ala berfirman, ”Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran [3]: 31)
Apabila kita merasa banyak dosa, segeralah bertobat dengan menyucikan diri agar kita kembali mendapat cintaNya. Allah Ta’ala berfirman, ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah [2]: 222)
Meraih cinta-Nya juga dengan cara memperbanyak amalan kebaikan, menjalankan amalan yang difardhukan, dan mengistiqamahi amalan yang disunnahkan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada kewajiban yang Aku fardhukan padanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, kecuali Aku mencintainya.” (Riwayat Bukhari)
Kita semua pasti akan kembali kepada Allah Ta’ala. Saat kita kembali nanti, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Apa saja yang kita cintai akan terlepas. Hanya ridha Allah Ta’ala yang menjadi harapan.
Kita ingin kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan ridha dan diridhai. Kita senang kembali kepadaNya dan Allah Ta’ala juga senang menerima kita. Itulah visi akhir hidup yang harus kita raih.
Manusia yang paling sengsara di akhirat adalah manusia yang paling kuat cintanya kepada dunia. Sedangkan manusia yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat cintanya kepada Allah Ta’ala.
Berbahagialah mereka yang dipanggil Allah Ta’ala dalam keadaan hati yang ridha lagi diridhai. Firman Allah Ta’ala, ”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al Fajr [89]: 27-30).
Wallahu a’lam.

Adab cemburu

Kata orang, cemburu itu perlu. Sebaliknya, tak sedikit yang menolak dikatakan sebagai pencemburu. Itulah sifat cemburu. Layaknya mata uang, ia memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Dengannya sebuah rumahtangga bisa bertambah rekat. Namun, tak jarang justru ia menjadi awal sebuah kehancuran hidup seseorang. Berikut ini beberapa pandangan Islam mengenai sifat cemburu.
Pilihlah yang Disukai Allah
Dalam sebuah riwayat, rupanya sifat cemburu itu terbagi menjadi dua. Ada yang dicintai Allah, namun ada pula yang tak disenangi oleh-Nya. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Cemburu itu ada dua macam. Ada cemburu yang dicintai Allah dan ada juga yang dibenci-Nya. Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah cemburu yang disukai Allah itu?” Beliau menjawab, “Jika kedurhakaan-kedurhakaan kepada-Nya dan jika hal-hal yang diharamkan-Nya dilanggar.” Kami bertanya lagi, “Lalu apakah cemburu yang dibenci Allah?” Beliau menjawab, “Kecemburuan salah seorang di antara kalian di luar kadarnya.”
Allah pun Bisa Cemburu
Cemburu adalah salah satu sifat Allah, namun ia tak termasuk dalam Asma al-Husna (Nama-nama indah Allah). Nabi bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih cemburu selain daripada Allah. Karena itu Dia mengharamkan berbagai kekejian, yang tampak maupun yang tersembunyi.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Cemburu Para Nabi
Terhadap sebuah kemungkaran, Nabi Muhammad sangatlah pencemburu. Hal ini tergambar dalam kisah Sa’ad ibn Ubadah. Suatu ketika ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saran engkau jika saya mendapati istriku berzina dengan seorang laki-laki? Apakah saya harus menangguhkan balasan hingga mendapatkan empat orang saksi?” Nabi menjawab, “Benar!” Sa’ad berkata lagi, “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, bagaimana jika saya memukulnya dengan punggung pedang?” Nabi menjawab, “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada dirinya.” (Riwayat Bukhari)
Cemburu Itu Manusiawi
Saking cintanya kepada –sang suami- Rasulullah, ‘Aisyah pun tak luput dari rasa cemburu. ‘Ummu al-Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bercerita, aku tak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Karena Nabi seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau menyebut namanya, lalu aku berkata, “Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadamu.” Nabi bersabda, “Demi Allah, Dia tidak memberikan ganti yang lebih baik daripadanya kepadaku.” (Riwayat Bukhari)
Stop Cemburu Buta
Cemburu yang dibangun di atas imajinasi dan buruk sangka hanyalah akan merusak sebuah hubungan. Ia tak lebih dari mengikuti hawa nafsu semata. Padahal ia sendiri tak mengetahui persoalan kecuali menuruti perasaan dan emosi sesaat saja. Bahkan boleh jadi cemburu tersebut lalu ditunggangi oleh pihak ketiga yang ingin merusak keutuhan rumah tangga seseorang.
Jalin Komunikasi
Menjalin komunikasi yang sehat bisa menjadi jembatan yang merekatkan kembali rumahtangga yang lagi renggang. Saling terbuka dalam segala urusan niscaya semakin memudahkan dalam menyelesaikan suatu persoalan rumahtangga.*

Segenggam iman di rumah kita

Apa yang salah pada Nabi Nuh ‘Alaihissalam (AS)? Ia seorang Nabi sekaligus utusan Allah ‘Azza wa Jalla. Imannya jangan ditanya, sudah tentu sangat terjaga. Tidak mungkin ada Nabi yang imannya meragukan. Hidupnya selalu dalam petunjuk karena Allah Ta’ala sendiri yang membimbingnya. Akhlaknya? Pasti mulia.
Seorang Nabi sudah jelas amat kuat penjagaannya dari hal-hal yang meragukan (syubhat). Apalagi dari yang haram. Tetapi apakah semua kemuliaan itu menjadikan anaknya berada dalam barisan orang-orang yang beriman? Tidak. Justru sebaliknya, putra Nabi Nuh menjadi pendurhaka. Hingga detik-detik terakhir hidupnya, ia masih diseru oleh ayahnya –Nabi Nuh—untuk masuk dalam barisan orang beriman. Tetapi ia menolak.
Marilah kita kenang percakapan Nabi Nuh dengan putranya sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an:
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’
“Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (Huud [11]: 42-43).
Apa yang bisa kita renungkan dari ayat tersebut? Banyak hal. Salah satunya adalah pelajaran berharga betapa kita tidak kuasa untuk menggenggam jiwa anak-anak kita sendiri. Betapa pun amat besar keinginan kita untuk menjadikan anak-anak kita termasuk golongan orang beriman, tetapi kita tidak punya kekuatan untuk menggerakkan jiwa mereka. Kita hanya bisa mempengaruhi mereka, mendorong mereka dan menyeru mereka kepada kebaikan. Kita hanya dapat bermunajat kepada Allah Ta’ala yang jiwa mereka dalam genggaman-Nya.
Dari ayat ini kita juga belajar tentang tulusnya cinta seorang ayah kepada anak. Betapa pun anaknya telah melakukan kedurhakaan yang nyata, seorang ayah tetap masih memiliki tabungan harapan yang sangat besar agar anaknya kembali kepada jalan takwa. Betapa pun tampaknya sudah hampir tak mungkin, seorang ayah masih akan berusaha memanfaatkan detik-detik terakhir kesempatannya untuk mengingatkan, menasehati, dan menyelamatkan anaknya. Meskipun telah jelas kekufuran melekat kuat pada anaknya, masih ada harapan yang besar agar ia kembali ke jalan Allah. Masih ada doa-doa yang terucap untuk memohon pertolongan-Nya.
Ada yang perlu kita renungkan. Ada yang perlu kita telusuri untuk menemukan jawaban.
Siapkan Calon Ibu Saleh
Lalu apa sebabnya iman tercerabut dari rumah utusan Allah ini? Istri yang tidak memiliki kendali iman dalam dirinya. Allah Ta’ala jadikan istri Nabi Nuh (juga istri Nabi Luth) sebagai contoh bahwa iman tak bisa ditegakkan, anak-anak tak bisa diharapkan, kebaikan tak bisa hadir di rumah kita jika istri rapuh imannya dan lemah pendiriannya. Segigih apa pun kita mendidik anak, awalnya harus menyiapkan istri kita untuk mampu menjadi ibu yang belaian tangannya dipenuhi pengharapan terhadap pahala dari Allah Ta’ala; yang tutur katanya dipenuhi keinginan untuk menjadikan anak-anak mencintai dien; yang doanya menembus kegelapan malam demi mengharap pertolongan Allah Ta’ala agar hati anak-anaknya diterangi oleh iman yang kuat di atas akidah yang lurus.
Karenanya, kunci pertama melahirkan anak-anak saleh adalah menyiapkan calon ibu bagi anak-anak kita. Kunci untuk mencetak generasi yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah dengan mencintai istri kita sepenuh hati. Sebab dialah yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Bukan sekadar sebagai ibu kandung yang melahirkan dan sesudah itu orang lain yang mengurus anak-anaknya.
Sesungguhnya, setiap anak kita memerlukan ‘tiga ibu’. Setiap bapak harus menjamin bahwa anak-anaknya memiliki tiga ibu, yakni ibu kandung, ibu susu yang memberi makan kepada bayinya dengan air susunya sendiri (bukan susu sapi), dan ibu asuh yang menjadi madrasah pertama bagi anak kita. Seyogyanya, tiga fungsi ibu ini berada dalam satu pribadi, yakni istri yang melahirkan anak-anak kita. Tetapi sekiranya tidak bisa, masih ada jalan yang Allah Ta’ala berikan, yakni mengangkat ibu susuan dengan segala kehormatannya. Adapun pengasuhan, ada berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan.
‘Alaa kulli haal, mari kita renungkan kembali bahwa berpayah-payah dalam berdakwah tidak cukup untuk mengantarkan anak-anak kita agar memiliki iman yang kuat dan Akidah yang lurus. Khusyuknya doa kita tidak cukup untuk menjadikan anak kita ahli ibadah. Penuhnya luka di sekujur badan karena memperjuangkan agama Allah ‘Azza wa Jalla, yakni al-Islam ini, tidak cukup untuk melahirkan generasi mujahid yang siap mengorbankan hidup dan hartanya untuk menolong agama Allah. Begitu pula banyaknya ilmu yang kita dapat melalui usaha sungguh-sungguh, tidak cukup untuk membawa anak kita dekat dengan agama. Apalagi jika bekal kita sekedar power point. Bukan ilmu yang dikejar dengan penuh kesungguhan.
Lalu apa yang menjadikan cukup? Istri kita; apakah hatinya dipenuhi iman atau disesaki keinginan mengejar dunia? Istri kita; apakah orientasi hidupnya untuk mengejar akhirat ataukah mendesak-desak kita untuk bersibuk mendakwahkan agama demi merebut dunia? Jika hidup kita dipenuhi kegelisahan untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, tetapi istri terlepas dari iman, maka sulit bagi kita untuk berharap akan lahirnya anak-anak saleh yang mendoakan sesudah kita tiada. Mungkin ada yang mengundang orang untuk mendoakan kita, tetapi mereka tidak ikut berdoa. Sementara kesalehan tidak melekat dalam diri mereka. Na’udzubillahi min dzaalik.
Mari kita ingat firman Allah Ta’ala tentang istri yang durhaka, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (At-Tahriim [66]: 10)
Dalam keadaan berselisih iman, bisa saja istri tetap cinta sepenuh hati. Bukankah sudah banyak contoh seorang istri yang tetap setia kepada suami meskipun telah nyata durhakanya kepada Allah? Ini berarti cinta saja tidak cukup.
Nah, sudahkah Anda memberi nasehat kepada istri Anda hari ini?*

Sengsara karena tidak memberi

Siapa yang menanam, dia akan menuai. Inilah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan manusia.
Seorang yang banyak memberi, ia pasti akan banyak menerima. Kita bisa menyaksikan fenomena ini pada orang-orang di sekitar kita.
Biasanya, mereka yang dermawan hidupnya terasa damai, lapang, dan banyak kemudahan. Mereka dekat di hati orang-orang di sekitarnya.
Harta mereka berkah dan membawa kebaikan bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Kalau pun suatu saat mereka menghadapi kesulitan, ada sekian banyak pintu yang terbuka siap memberikan pertolongan.
Karena itu bila ingin banyak jalan kemudahan, orang harus banyak memberi. Terlebih, dengan memberi kita akan selalu dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surga, serta jauh dari neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, Sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat pada Allah, dekat pula pada manusia dan dekat dengan surga, jauh dari neraka. (Riwayat Tirmidzi dan Daruquthni)
Tamak Bikin Sengsara
Sayangnya saat ini banyak orang yang berkecukupan tapi masih saja mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bila kebutuhan makan sudah terpenuhi, sandang dan papan pun bisa dibeli, seharusnya ia sudah bisa berbagi.
Tapi orang sering diperbudak keinginannya yang bermacam-macam. Apa yang diterima tidak disyukuri. Yang dirasakan selalu kurang.
Kalau sikap serakah ini yang dikembangkan, maka kita akan terpuruk. Kita akan dikuasai syahwat duniawi. Menjadi budak nafsu. Nabi SAW menasehati:
Andaikata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Seorang yang serakah seperti itu, di samping tidak bersyukur, sebenarnya ia telah mengingkari bahwa Allah Ta’ala telah melimpahkan karunia kepada dirinya. Padahal alam semesta sesungguhnya telah dirancang oleh Allah Ta’ala untuk banyak memberi. Matahari yang tanpa batas memancarkan cahayanya. Berapa uang yang harus kita keluarkan andai harus membayarnya?
Di tangan manusia yang serakah, karunia yang berlimpah itu bukan disebarkan, tapi ingin dikuasai sendiri. Bahkan banyak pula yang mengomersialkannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Mungkin andai matahari bisa dikuasai, cahayanya pun akan dimonopoli untuk diambil keuntungannya.
Padahal, orang yang serakah pada akhirnya akan kecewa saat apa yang diambilnya itu ternyata sama sekali tidak membahagiakan dirinya. Bahkan, penyesalan itu kadang datang lebih cepat sebelum ia menikmati keserakahannya.
Sebanyak apapun harta yang dimiliki, kalau harta itu akan memperbudak dirinya sampai melalaikan Allah Ta’ala, pastilah kerugian yang akan diterima. Allah Ta’ala berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun [63]: 9)
Bagi orang-orang yang tamak, harta yang direbut dengan segala cara tidak bisa menyelamatkannya dari siksa neraka. Ia akan terpisah dari harta yang dicintainya itu ketika ajal sudah menjemput.
Bahkan, harta yang ditimbunnya itu akan menjelma menjadi beban yang teramat berat. Pertanggungjawaban di hadapan Ilahi telah menanti. Niat bersedekah dan berbagi pun terlambat. Firman Allah Ta’ala:
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”(Al-Munafiqun [63]: 10)
Karena itu, bersegeralah bersedekah sebelum terlambat. Jangan sampai harta membuat kita terhalang mendekat pada Allah Ta’ala. Kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan Dia ridha sesungguhnya tujuan hidup kita.
Tulus Karena Allah
Makna hidup bukanlah apa yang telah kita terima, tetapi apa yang telah kita berikan. Inilah cara berpikir yang mesti kita jadikan pegangan.
Cobalah merenung sejanak! Siapa orang yang kita kenang dalam hati kita? Bayangkan wajahnya dan apa yang telah ia lakukan?
Pasti kita akan menyadari, nama baik mereka bukan dari seberapa banyak yang telah mereka dapatkan, tapi apa yang telah mereka berikan.
Para pahlawan, orang-orang yang harum namanya, adalah orang yang telah banyak memberi, bukan orang yang banyak memperoleh. Mereka yang banyak memperoleh dari pada memberi, akan memiliki nilai negatif.
Seorang yang memberi dengan tulus ikhlas karena Allah Ta’ala semata, sebenarnya selaras dengan sunnatullah. Apa yang ia berikan bukan terbuang percuma. Tetapi menjadi tabungan positif di dunia ini sampai kelak di akhirat.
Ia bisa memanen saat dibutuhkan. Allah Yang Maha Pemberi Karunia, tak akan membiarkan hidup dalam kesempitan bagi hamba-Nya yang mau berbagi. Dia Yang Maha Mengatur.
Karena itu, jangan sampai malakukan hal yang justru mengundang murka-Nya. Firman Allah Ta’ala:
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Baqarah [2]: 243)
Agar bisa memberi, kita hendaknya bersikap qanaah. Rasakan betapa cukup dan banyaknya karunia Allah Ta’ala dilimpahkan kepada kita. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, tiada terhitung nikmat Allah Ta’ala. Setiap tarikan dan hembusan nafas adalah karunia-Nya.
Sejauh mata memandang dan hamparan bumi yang membentang adalah pemberian-Nya. Rezeki dan penghasilan yang telah kita terima adalah rezeki dari-Nya.
Orang yang merasakan berkelimpahan seperti ini akan berpikir, “Betapa banyaknya karunia Allah. Apa yang bisa kita berikan kepada orang lain?”
Sikap memberi lebih cocok dengan fitrah nurani kita. Kita mungkin pernah menyaksikan tayangan tentang orang yang mendapat pertolongan atau pemberian. Saat ada orang yang peduli dan mau berbagi, ia demikian terharu. Kita yang menyaksikan juga ikut tergetar. Nikmat rasanya. Terjadi resonansi.
Itu menunjukkan lubuk sanubari kita sesungguhnya juga memiliki getaran yang sama ingin memberi. Memberi selaras dengan karakter suci kita ini.
Apa yang membahagiakan orang lain itu akhirnya memantul menjadi kebahagiaan kita. Jiwa kita selaras dengan sunnatullah yang berkelimpahan ini.
Berbagai karunia pasti akan diterima oleh orang yang mau memberi. Jiwa pun kian sehat dan teguh dengan berbagi. Firman Allah Ta’ala,”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah [2]: 265)
Wallahu a’lam bish-Shawab.***

menjadi ummat bermartabat

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imron (3) : 110 Ketika Yerusalem ditaklukkan, Khalifah Umar bin Khattab datang ditemani seorang pelayannya, mengendarai seekor unta secara bergantian. Umar mengenakan pakaian biasa yang begitu sederhana, lusuh dan berdebu, karena ia telah menempuh perjalanan yang amat jauh. Sementara penguasa Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja dan pemuka kota, siap menyambut Umar untuk menyerahkan kedaulatan Yerusalem ke tangan kaum Muslimin. Masing-masing mengenakan pakaian kebesaran sebagaimana layaknya para penguasa Romawi. Melihat hal itu kaum Muslimin sempat berkecil hati dan meminta Umar berganti pakaian yang pantas. Umar menolak dan mengatakan, “Cukuplah Islam itu yang menjadikan kita mulia!”
Begitulah kata Umar, dan begitu pula seharusnya cara pandang kita. Islam ini yang menjadikan kita mulia, bukan yang lain. Kita patut bersyukur bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah memilih kita di antara 6,5 milyar umat manusia yang hidup sekarang ini untuk memeluk agama yang mulia, yang mengajarkan kepada kita untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Islam menuntun kita menjadi manusia bermartabat dan beradab, bukan dari pakaiannya, bukan karena kekayaan dan kedudukannya, tetapi karena keunggulan sifat-sifat kemanusiannya. Di sisi lain kita melihat kehidupan manusia yang hanya mempertontonkan selera yang rendah. Allah menggambarkan kehidupan mereka dalam al-Qur`an Surat Muhammad {47}: 12 :
“Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang, dan neraka Jahannam adalah tempat tinggal mereka.”
Begitulah mereka mengisi kehidupan dunia ini. Bagi mereka hidup hanya berarti 3 hal: wine, dine, entertain. Hidup hanya sekadar makan, minum, pesta, fashion, musik, film, hiburan, tak ubahnya kehidupan binatang.
Kita patut bangga menjadi pemeluk Islam, satu-satunya agama yang dijamin kebenarannya oleh Allah. Tidak ada jalan kebenaran di luar Islam. Perjalanan panjang peradaban Barat sejak Yunani kuno adalah perjalanan manusia-manusia yang senantiasa terombang-ambing dalam kebingungan. Tidak ada kebenaran yang pasti bagi mereka. Jika ada yang mengatakan sesuatu itu benar, maka yang lain sah-sah saja jika mengatakan itu salah. Semuanya relatif.
Walaupun banyak diikuti manusia dewasa ini, pandangan hidup Barat tidak menjanjikan apapun selain keraguan. Kita patut bersyukur memiliki kitab suci yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, sementara yang lain hanya berpedoman pada prasangka dan tulisan-tulisan tangan manusia yang senantiasa harus dikoreksi dan dibongkar kembali. Kita tidak perlu ragu melangkah dalam hidup, sebagaimana jaminan Allah : “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al-Baqarah {2} : 147.
Kita juga patut bangga, karena Islam inilah satu-satunya agama yang telah terbukti memberi rahmat bagi seluruh alam. Sejarah menunjukkan, ketika umat Islam berkuasa di belahan bumi manapun maka di sana akan kita jumpai kedamaian dan ketentraman bagi seluruh umat manusia. Hal sebaliknya terjadi ketika orang-orang kafir yang berkuasa. Ketika gabungan tentara Salib dari Eropa menaklukkan Yerusalem, lebih dari 70 ribu manusia tidak berdosa dibantai sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki. Sebaliknya, ketika kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi merebut kembali Yerusalem, para penjahat kemanusiaan itu dipersilakan meninggalkan Yerusalem dengan aman. Tujuh ratus tahun lamanya orang-orang Kristen dan Yahudi di Eropa hidup tentram dalam kekuasaan Khilafah Bani Umayyah yang berpusat di Andalusia, tetapi ketika kekuasaan jatuh ke tangan penguasa Kristen, tak sedikitpun umat Islam disisakan untuk hidup. Hari ini kita juga menyaksikan ketika Amerika dan sekutunya menguasai dunia, kehancuran peradaban dan tragedi kemanusiaan susul-menyusul terjadi di berbagai belahan dunia. Hanya dengan Islam, kehidupan dunia yang penuh rahmat bisa diwujudkan. “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” QS Al-Anbiya’ (21) : 107.
Menyadari betapa beruntungnya kita menjadi pemeluk Islam ini, mari kita tampil dalam arena kehidupan ini dengan penuh percaya diri. Isyahduu bi annaa muslimun, saksikan bahwa kami orang-orang Islam. Kita dakwahkan Islam ini kepada seluruh manusia dengan penuh kebanggaan, karena kita mengajarkan kemuliaan, mengajak kepada satu-satunya jalan kebenaran, membebaskan manusia dari kebingungan dan keraguan, dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sikap seperti inilah yang ada pada diri para sahabat Nabi sejak pertama kali mereka mengenal Islam.
Abu Bakar Ash-Shiddiq misalnya, begitu menerima kebenaran ajaran Islam dari Nabi, segera ia teriakkan kalimat tauhid di tengah-tengah mayoritas orang kafir Quraisy. Walaupun kemudian babak-belur dihajar orang-orang kafir, Abu Bakar sama sekali tidak menyesali apa yang menimpa dirinya. Demikian juga ketika Umar bin Khattab masuk Islam dan melihat Nabi mendakwahkan Islam ini secara sembunyi-sembunyi, Umar menemui Nabi dan berkata : “ Ya Rasulullah, bukankah Islam ini yang hak dan mereka itu batil, mengapa tidak kita sampaikan saja Islam ini terang-terangan.” Begitulah gelora yang ada dalam diri para sahabat Nabi untuk mendakwahkan Islam karena mereka telah merasakan kemuliaannya.
Begitulah gambaran generasi terbaik dari umat ini sebagaimana firman Allah : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imron {3} : 110)
Ciri utama generasi terbaik itu adalah mereka senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Keimanan mereka mendorong mereka untuk senantiasa mengajak manusia untuk beriman dan senantiasa melakukan kebaikan. Mereka akan sangat gelisah manakala kemaksiatan tersebar di muka bumi dan selalu berusaha untuk menghapuskannya.
Kita mewarisi agama yang sama dan kitab suci yang sama. Kita juga bisa menjadi umat terbaik itu. Sungguh memprihatinkan ketika orang-orang kafir bangga dengan kekafirannya, kita malu-malu menampakkan keislaman kita. Orang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan di depan mata kita, sementara kita lebih sering berdiam diri bahkan ciut nyali untuk mengingatkannya. Padahal Nabi memerintahkan kepada kita : “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah mereka merubah dengan tangannya. Kalau tidak mampu, maka hendaklah mengubah dengan lisannya. Kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya. Adapun yang demikian itu selemah-lemah iman.”
Yang lebih memprihatinkan lagi manakala segala kemaksiatan itu tidak menjadikan kita terusik. Jika demikian, kita bukan lagi berada dalam selemah-lemah iman, bisa jadi kita telah kehilangan iman itu sendiri.

Merindukan islamya film islam

 
(Sebuah Catatan Untuk Film Ayat-Ayat Cinta)

“Belum baca? Waah…ketinggalan dong,” demikan komentar seorang kawan ketika pertama kali menawarkan novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada saya. Raut mukanya menunjukkan keheranan. Ia seolah tidak menyangka, kalau saya yang punya minat besar di dunia komunikasi dan tulis menulis, ternyata belum membaca novel yang sejak launchingnya hingga saat ini terus menjadi best seller.
Bukannya apa-apa, sejak lama, saya agak muak dengan fiksi-fiksi percintaan gaya Indonesia yang mengumbar nafsu bertabur kata cinta di mana-mana. Namun, seperti pada banyak fiksi islami yang membuka wacana cinta yang berbeda (dalam arti cinta pada Allah), kata “cinta” yang dikolaborasikan dengan kata “ayat” oleh Habiburrahman El Shirazy atau dikenal dengan sebutan Kang Abik, cukup membuat saya tertarik. Maka saya mulai membaca novel dengan sampul depan gambar perempuan bercadar itu.
Itu terjadi kira-kira setahun lalu. Sekarang, novel itu sudah dinikmati penggemarnya dalam bentuk layar lebar. Film AAC, garapan sutradara Hanung Bramantyo yang tayang perdana Februari 2008, membuat semua orang harus antri di mana-mana karena kehabisan tiket.
Ada satu hal yang saya khawatirkan seusai membaca novel AAC. Dan kekhawatiran itu semakin besar saat AAC akan di film-kan. Satu hal mencolok yang saya pikir –juga akan menjadi perhatian dari Kang Abik– sebagai penulis novel AAC. Maklum, dia seharusnya jauh lebih mengerti dari saya yang awam. Sebab, bagaimanapun, dia adalah alumni Al-Azhar. Dalam perspektif Muslimah, novel ini membawa pesan yang tidak mendukung idealisme Muslimah tangguh. Karakter gadis-gadis dalam AAC semakin menguatkan stereotype lemah, khususnya bagi gadis yang jatuh cinta.
Diceritakan bahwa Fachri, aktor utama AAC, setidaknya dicintai oleh empat gadis sekaligus: Maria, Naora, Nurul dan Aisyah. Meskipun tidak salah bagi seorang gadis menyukai seorang pria dan sebaliknya, namun perhatian lebih dari keempat gadis sekaligus menunjukkan betapa cinta pada pria (saja?) telah membuat mereka berkorban luar biasa.
Maria, gadis Kristen koptik yang cerdas memendam rindunya hingga kurus kering; sedang Naora gadis Mesir belia dengan backgroud hidup yang suram berjuang mendapat cinta Fachri dengan cara pengecut, memfitnah Fachri.
Disamping itu, ada Nurul dan Aisyah, keduanya aktivis dakwah dengan karakter Islam yang kuat, dengan tegas menyampaikan cintanya pada Fachri melalui orang lain. Pada perantara tersebut, kedua gadis itu “menawarkan diri” untuk menjadi istri Fachri. Sebuah perbuatan –yang sekali lagi, memang tidak salah– namun sangat naif ditemukan pada aktivis Muslimah saat ini.
Dalam Islam, rasa cinta terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang wajar. Karenanya, pernikahan menjadi satu-satunya cara yang dianjurkan untuk memenuhi fitrah itu. Seorang Muslimah yang merasa siap menikah, dianjurkan berikhtiar dan berdoa sebelum Allah menghendaki ia menyempurnakan diennya. Ikhtiar dan doa itu seharusnya sudah merupakan langkah klimaks perjuangannya memenuhi fitrahnya.
Di sisi lain, ia bisa terus leluasa mengisi hari-harinya dengan ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Bukannya larut memikirkan pria yang ia cintai sehingga mengorbankan fisiknya, perasaannya, waktunya serta kesempatan-kesempatan amal shalih lainnya. Hal inilah mungkin yang lepas dari perhatian Kang Abik yang cenderung melekatkan karakter lemah pada tokoh-tokoh gadis dalam AAC. Inilah yang nampaknya tak dipahami (atau memang tak dimengerti?) oleh Kang Abik dan sutradara.
Tentu saja, Kang Abik sangat berhak untuk menentukan seperti apa alur cerita dan karakter tokoh-tokoh yang akan dimainkan dalam novelnya. Seperti dikatakan Ustadz Abu Ridho dalam sambutannya di halaman depan novel AAC, novel ini bukan hanya novel cinta tapi juga membawa pesan budaya, politik, dan tentu saja pesan-pesan Islam yang indah.
Sayangnya, semua pesan itu harus rela tergeser oleh kuatnya pesan cinta horisontal yang ditampilkan lewat penokohan keempat gadis yang berburu cinta Fachri, dengan caranya masing-masing. Hal inilah yang tidak dapat dipungkiri, menjadi pesan utama yang terekam dalam memori para perempuan dan remaja putri sebagai mayoritas penggemar novel AAC.
Hal ini pula agaknya yang membuat sutradara muda yang sedang naik daun seperti Hanung, tanpa berpikir panjang bertekad menampilkan “dahsyatnya” fenomena cinta novel laris ini dalam layar lebar. Fenomena inilah yang begitu kuat ditonjolkan dalam film Hanung yang juga menyutradarai Get Married. Kenyataannya, di Indonesia, film bergenre drama romantis selalu diserbu penonton.
Sementara Fachri yang dalam novel digambarkan sebagai mahasiswa Islam miskin yang militan dan haus ilmu, yang hari-harinya dipenuhi dengan perjuangan mencari ilmu, menyambung hidup dengan bekerja sebagai penerjemah dan aktivitas dakwah lainnya, justru nyaris tidak tampak dalam film AAC. Yang nampak adalah gadis-gadis berjilbab “berburu” seorang pemuda bernama Fachri.
Benarkah Islami?
Fenomena pragmatis ini agaknya perlu dicermati dan dijadikan pertimbangan oleh penulis Islam yang karya tulisnya diminati orang untuk di audio visual-kan. Dan bagi kita juga, target konsumennya. Supaya nilai-nilai Islam yang ingin mereka sampaikan tidak memudar dan menjadi ambigu ketika pesan tulisan berpindah menjadi pesan audio visual.
Hanung benar, ketika dalam sebuah tayangan infotaintment mengatakan, “Bagaimapun berbeda karya novel aslinya dengan film AAC”. Meski demikian, Kang Abik dan Hanung, harusnya lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat. Seorang Muslimah sejati, mustahil secara sporadis “berburu” pria yang ia sukai. Sebab itu bukan jiwa seorang Muslimah.
Dan jangan keliru, secara psikologis, bagi sebagaian orang, karya foto dan audio-visual, selain menciptakan efek dramatis, juga melahirkan pencitraan “imagery” bagi orang yang menontonnya. Akan jauh berbeda bagi orang yang membaca novel Herry Potter dengan melihat sendiri film nya.
Begitu juga dengan film AAC ini. Dalam novel, tak pernah diceritakan bagaimana cara pengungkapan rasa cinta secara fisik seorang Muslimah dengan seorang pria. Dengan menunjukkan adegan sentuhan lawan jenis, apalagi sampai terjadi adegan ciuman, langsung menunjukkan itu bukan tipe dan model gadis-gadis Muslim yang sesungguhnya.
Dengan menampilkan adegan –yang katanya islami itu— maka, efek visual film ini akan memberikan citra barunya kepada para penonton remaja bahwa pacaran bagi Muslimah itu boleh. Mau tahu caranya? Lihatlah film AAC.
Tanpa mengurangi rasa kagum saya pada Kang Abik maupun Hanung, saya tetap menyampaikan ucapan selamat atas kesuksesan mencoba menghasilkan karya –yang ia anggap– sebagai islami itu. Tapi maaf, saya tetap merasa agak kecewa. Sebab istilah ‘islami” yang ia maksud tak saya lihat, kecuali hanya ada gadis-gadis Muslim berjilbab. Yang dominan hanya kemesraan dan sensasi melankolis. Lalu, ke mana lagi saya bisa berharap ada film-film lebih islami, yang menceritakan khasanah kekayaan Islam tanpa harus kehilangan rasa kreativitasnya?

Mengeratkan cinta dengan privasi

FOTO: profiles.friendster.com
Berprivasi sering dianggap tidak terbuka. Sejatinya, privasi malah menumbuhkan percaya dan saling menghargai Setelah pernikahan dilangsungkan, agenda selanjutnya yang dijelang oleh setiap pasangan adalah adaptasi. Meski sudah mengenal bahkan telah berteman sekian tahun, pasti ada saja masalah yang harus diadaptasikan. Salah satunya adalah masalah privasi.
Bagi yang terbiasa menggunakan barang bersama-sama di rumah, mungkin akan terkaget-kaget ketika harus menyesuaikan diri dengan pasangan yang terbiasa menggunakan barang atas nama pribadi. Seperti buku harian, telepon genggam, alat tulis pribadi, bahkan gelas pribadi. Yang terbiasa “bersama” akan merasa sangat direpotkan dan yang terbiasa berprivasi merasa dilangkahi.
Banyak orang yang berpendapat bahwa setelah menikah, tidak ada lagi privasi yang mesti dijaga dengan pasangan. Bahkan ada yang mengatakan setelah menikah maka apa yang ada adalah milik bersama. Termasuk juga masa lalu pasangan, harus setransparan mungkin diketahui bersama.
Hargai dan Negosiasi
Namun, benarkah privasi kontradiksi dengan keterbukaan? Sesungguhnya privasi dan keterbukaan adalah dua hal yang berbeda dan tak memiliki hubungan sebab akibat, sehingga tak dapat kontradiksi di ranah yang sama. Privasi sejatinya timbul dari naluri untuk memiliki. Keterbukaan adalah kondisi ketika kita tidak menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Berprivasi bukan berarti kita menyembunyikan sesuatu dari pasangan dan bermain belakang darinya.
Setiap orang pastinya memiliki pribadi yang berbeda dan kecenderungan yang berbeda. Menghormati perbedaan inilah sesungguhnya arti privasi. Kita menghormati bahwa pasangan kita memiliki hobi yang berbeda dan menginginkan waktu untuk menikmati hobi tersebut sendiri saja, inilah yang disebut dengan privasi.
Karena privasi sejatinya adalah naluri, maka kita pun dituntut untuk senantiasa berhati-hati dalam menjaga yang satu ini. Layaknya saat kita menyatakan bahwa “ini suamiku”, “ini rumahku”, atau “ini tanggung jawabku” maka bila ada yang mencoba mengusiknya tentu kita akan merasa terganggu. Dengan demikian, ketika sudah menikah, perlu disepakati batas-batas wilayah privasi masing-masing orang yang tak boleh dilanggar.
Negosiasikanlah dengan pasangan secara jelas, apa yang disukai dan tidak disukai oleh masing-masing orang. Ini akan membantu kita memetakan mana yang bisa diakui sebagai wilayah bersama, mana yang secara utuh merupakan milik perorangan. Bernegosiasi dalam masalah-masalah unik seperti ini pun dibolehkan dalam Islam.
“Kaum Muslimin berada dalam persyaratan yang ditetapkan di kalangan mereka sendiri, kecuali persyaratan yang menghalalkan yang haram, atau mengharamkan yang halal.” (Riwayat At-Tirmidzi).
Memetakan wilayah privasi akan sangat menguntungkan kedua belah pihak dalam mengeratkan hubungan. Misalkan saja, Anda tidak menyukai pasangan Anda membuka SMS di hand phone Anda. Bukan karena alasan yang “nyeleneh”, tetapi karena Anda termasuk orang yang tidak mengetahui ada SMS yang masuk kecuali dengan melihat pemberitahuan yang ada di layar. Namun, bila pasangan sudah tahu masalah Anda tersebut sekaligus juga mengetahui bahwa Anda tidak berkeberatan bila ia mengangkat telepon saat Anda tak dapat menjawabnya, tentu kesepahaman ini justru bermanfaat bagi Anda berdua.
Di sinilah justru peran penting keterbukaan. Bila tidak saling terbuka pada pasangan, maka akan sulit diperoleh kesepahaman untuk dapat memetakan wilayah privasi kita.
Privasi vs Percaya
Jangan salah mengartikan wilayah privasi sebagai wilayah yang menyimpan hal-hal rahasia. Bila ternyata dia tidak menyukai Anda membuka email-nya, mungkin di dalamnya terdapat sejumlah beban pekerjaannya yang dikhawatirkan dapat membuat Anda cemas. Cobalah untuk memaklumi apa yang menurutnya baik untuk Anda ketahui.
Semangat untuk memaklumi dan mengerti ini akan timbul dengan satu syarat, yaitu Anda dan pasangan telah saling memercayai. Bila rasa percaya ini telah begitu melekat pada kita, lantas apa perlunya mencari tahu apa yang tidak diungkapkan pasangan pada kita.
Tak selamanya blak-blakan dan jujur apa adanya, baik untuk kehidupan berumahtangga. Mari menyimak sejenak, apa yang pernah Rasulullah lakukan terhadap istri-istrinya manakala mereka menanyakan kepada Rasulullah siapakah istri yang paling disayanginya. Lelaki yang penuh kasih ini tidak lantas menjawab dengan “jujur” siapa yang paling disayanginya. Ia hanya tersenyum dan menjawab, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.”
Setelah itu dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah kemudian menggenggamkan sebuah cincin pada masing-masing istrinya seraya berpesan pada setiap istri bahwa cincin ini adalah tanda cinta mereka yang terlalu indah untuk dibagikan kabarnya pada orang lain.
Di kemudian hari ketika para istri berkumpul kembali dan menagih jawaban dari suami terbaik ini, lisannya berucap, “Yang paling aku sayangi adalah dia yang kuberikan cincin kepadanya.” Maka setiap istri pun berbunga hatinya dan merasa bahwa ialah yang terindah.
Inilah teladan yang diberikan oleh Rasulullah bahwa kejujuran tak selalu berarti membuka apa adanya semua hal. Percaya pun tidak selamanya dibangun dari kejujuran, apabila kejujuran tersebut tidak ditempatkan dalam sikap yang bijak. Yakinlah bahwa setiap orang diberkahi naluri untuk melindungi orang yang disayanginya dalam keadaan baik. Karena itu, jangan ragukan pasangan Anda sebagai seorang khalifah Allah yang senantiasa menjaga amanah-Nya dalam kebaikan, yaitu Anda.
Mengapa Harus Berprivasi
Rasa tidak dipercaya, rasa selalu menjadi tersangka, atau malah terluka akan senantiasa menjadi benalu dalam hubungan kita dengan pasangan. Rasanya mungkin tak ada salahnya bila kita membiarkan ia sejenak sibuk dengan rencana-rencana barunya dengan sahabat lamanya. Bahkan, mungkin kita justru akan merasa lebih aman dan tentram bila ia memilih untuk tidak membiarkan kita membaca buku harian yang telah ditulisnya semenjak SMP.
Privasi akan membuat kita dan pasangan belajar untuk saling mempercayai dan menghargai. Kita akan lebih ringan untuk menerima setiap sikap yang dipilihnya bila memang berdasarkan itikad untuk membahagiakan. Kita pun menjadi orang yang senantiasa menyadari bahwa Allahlah Yang Maha membolak-balikkan dan menjaga hati pasangan kita. Segigih apa pun kita berusaha, keputusan Allah adalah final dari setiap harapan kita. Karenanya, senantiasa berprasangka baiklah kita pada Allah dan pasangan kita.
Privasi pun akan membuat kita dengan tulus menerima kenyataan bahwa dirinya adalah seseorang yang terbentuk dari masa lalu dan dunia yang berbeda. Memaksanya untuk memasuki dunia yang sama hanya akan membuat salah satu diantara Anda dan dia tersiksa. Bukankah menjadikan dunia kita dan dunianya berdampingan akan lebih baik? Kita akan tetap merasa nyaman sekaligus tetap terikat dalam ketergantungan yang membuat kita kehilangan manakala berjauhan.
Karena, setiap pilar yang menopang tegaknya sebuah rumah pun tak selalu berada di tempat yang sama. Justru karena berada di tempat yang berbeda, ia dapat membuat rumah tersebut berdiri dengan kokoh. Itulah indahnya privasi. Insya Allah.

Mereguk nikmat dibalik musibah

FOTO: .com/empire-of-fai...-musibah Inform
Laki-laki pemberani itu terbujur kaku dengan dada tercabik-cabik. Sadis! Itulah jasad Hamzah bin Abdul Muththalib, paman dan saudara sepersusuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) yang syahid dalam Perang Uhud. Tangis Rasul SAW pun pecah untuk “Bapak Para Syuhada” itu. Isak tangisnya terdengar seperti rintihan. “Tidak pernah beliau terlihat sedih sesedih itu. Tidak juga pernah terlihat beliau menangis sekeras itu,” kata Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat beliau.
Panorama para syuhada Uhud itu memang sangat mengiris hati. Di sana terbaring 65 orang sahabat beliau dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan seorang dari kaum Yahudi yang telah memeluk Islam.
Angka 70 orang syuhada itu terlalu banyak. Bandingkanlah dengan syuhada Perang Badar yang hanya berjumlah 14 orang, atau de¬ngan jumlah korban tewas dari kaum Musyrikin yang ha¬nya berjumlah 37 orang.
Akibat musibah menyakitkan itu, usai pertempuran, kaum Muslim pulang dalam keadaan terpukul seperti kehilangan harapan. Pada sebagian sahabat sempat muncul sikap apatis, masa bodoh, tidak peduli lagi dengan cita-cita jihad.
Mereka merasa tidak bisa lagi memikirkan kemenangan. Bahkan ada yang sempat mempertanyakan eksistensi kerasulan Nabi SAW. Mereka memandang bahwa seorang Rasul seharusnya tidak boleh kalah.
Dalam perjalanan pulang ke Madinah, mereka sempat larut dalam keputusasaan. Sukses yang dicapai dalam Perang Badar tahun sebelumnya, yang membangun harapan begitu besar akan keberhasilan dakwah Islam, bagai tak memiliki arti lagi.
Membalik Derita
Boleh dibilang kekalahan kaum Muslim di Perang Uhud memang musibah terbesar dalam sejarah awal Islam. Rasulullah SAW sendiri sampai menangis tersedu-sedu akibat derita yang dialami kaum Muslim, sebuah tangis yang tidak pernah diulanginya sepanjang hidupnya.
Namun, hebatnya, setragis-tragisnya musibah itu ternyata hanya mampir sesaat. Dengan bimbingan wahyu ilahiyah serta kepemimpinan efektif Rasulullah SAW, kaum Muslim segera bangkit dari perasaan lemah dan putus asa. Sehingga setiba di Madinah mereka kembali giat beraktivitas seperti biasa. Bahkan diriwayatkan dalam sirah bahwa mereka seperti tidak pernah mengalami kekalahan dalam perang apapun sebelumnya. Sungguh luar biasa!
Apakah gerangan yang dilakukan Rasulullah SAW dan para Sahabat ketika itu sehingga derita batin akibat kekalahan sirna dalam sekejap? Bahkan, perasaan sakit itu malah berbalik menjadi gelombang energi positif yang mengantarkan mereka pada berbagai kemenangan yang teramat fantastis di masa-masa berikutnya?
Yang mereka lakukan adalah berupaya menangkap pesan positif di balik musibah itu dengan menyelami wahyu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) turunkan terkait dengan peristiwa monumental tersebut. Di tengah deraan kesedihan itu Allah SWT memang menurunkan bimbingan-Nya dalam 60 ayat dalam al-Qur`an, yakni yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran dari ayat 121 hingga ayat 179.
Pesan Allah SWT tersebut diawali dengan sebuah rekonstruksi tentang latar belakang psiko-historis Perang Uhud (ayat 121). Berikutnya mereka juga menghayati tuntunan Allah SWT di ayat 137 tentang pentingnya rasionalitas dalam memandang masalah. Dalam ayat ini Allah SWT memang mengingatkan bahwa kalah dan menang adalah wajar. Itulah sebabnya pada ayat 140 Allah SWT juga menghibur mereka agar tidak perlu risau dengan kekalahan, karena pihak musuh juga pernah kalah, bahkan lebih parah. Mereka menyadari bahwa kemenangan dan kekalahan adalah piala yang dipergilirkan kepada semua umat. Tak ada umat yang ditakdirkan untuk selalu memenangkan pertarungan, dan tak ada juga umat yang dipaksa kalah selama-lamanya.
Yang tak kalah penting adalah mereka terus memelihara kepercayaan diri agar tidak sampai melorot habis. Mereka sadar bahwa di antara hal yang harus segera dijaga ketat adalah rasa percaya diri. Bagaimana pun keadaannya, baik kalah maupun menang, kaum Muslimin tetap berada pada derajat yang paling tinggi karena mereka beriman.
Itulah yang terjadi pada episode terakhir Perang Uhud. Dengan rasa percaya diri yang tinggi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin tetap berani menantang lawan di Hamraul Asad untuk meredam gejolak yang muncul akibat kekalahan mereka. Dan, dalam riwayat tercatat, pasukan Quraisy akhirnya pulang dengan perasaan cemas kalau-kalau kaum Muslimin akan balik menyerang mereka lebih dahsyat lagi. Ini lantaran tersiar kabar bahwa pasukan Rasulullah SAW mendapat bala bantuan dari Madinah.
Dalam runtutan penjelasan panjang itu, Allah SWT hendak mengajarkan kaum Muslim cara yang tepat untuk menghadapi dan menyikapi musibah. Bahwasanya, musibah yang lebih besar dari kekalahan adalah apabila kita kehi¬langan kemampuan menentukan sikap dalam menghadapi kekalahan itu sendiri.
Penjelasan itu diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut. Allah SWT berfirman:
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihat-kan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran [3]: 179)
Kemenangan di Balik Jeruji
Penjara Mageddo, Israel. Di tempat isolasi yang gelap, sempit, dan kumuh, 1500-an pejuang Pelestina mendekam. Sebanyak 71 persen di antaranya berasal dari HAMAS, 13 persen dari Fatah, dan 8 persen dari kelompok Jihad Islami.
Yahudi terkutuk, yang menjebloskan mereka selama berpuluh tahun, melakukan berbagai tekanan dan penyiksaan. Bangsa biadab itu berusaha mengahancurkan mental dan membunuh karakter mereka. Negara teroris itu ingin membuat mereka stres dan gila.
Tapi alih-alih terpukul depresi, para pejuang justru menjadi semakin kuat. Jeruji besi, dengan aneka penderitaannya, malah melipatgandakan semangat hidup mereka. Apa yang mereka lakukan?
Ammar Ahmad Khalil, remaja 22 tahun, masuk Mageddo ketika meletus intifadha 2001. Tapi, tubuhnya yang lumpuh ditambah berbagai kesengsaraan penjara, sama sekali tak meredupkan jiwanya karena ia hidup dalam telaga kasih sayang dan persaudaraan antar sesama pejuang.
Yang menakjubkan, setelah 14 bulan di penjara, ia malah menjadi hafizh (hafal) al-Qur`an penuh! Lantaran itu, Lembaga Tahfizh al-Qur`an Pusat Palestina mengirimkan penghargaan ke balik jeruji besinya.
Ammar tidak sendirian. Ada 30 puluh tahanan lain yang mendapat penghargaan serupa. Menurut Jama Abdur Rahim Al-Masyani, salah satu alumni Mageddo, setidaknya penjara tersebut telah meluluskan 89 orang hafizh. Ia sendiri, selama 7 bulan mencicipi jeruji, berhasil menghapal 6 juz. Tapi, sebelum gelar hafizh diraihnya, ia keburu dibebaskan.
Seperti Ammar dan Al-Masyani, hampir seluruh tahanan Mageddo mengahabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca, mengkaji, dan menghapal al-Qur`an. Karenanya, hampir tidak terdengar suara lolongan kesakitan dan teriakan putus asa di penjara itu. Yang setiap hari terdengar adalah gemuruh bacaan al-Qur`an di seantero penjara Semangat berlomba-lomba mengejar hapalan benar-benar menyala di sana.
Kesibukan menghidupkan penjara dengan al-Qur`an itulah yang membentengi mental dan membakar ruh jihad para pejuang. Kesibukan itu belum termasuk berbagai kegiatan lain seperti daurah dan seminar keislaman, kajian fiqih, tafsir-Hadits dan kajian sirah.
Para pejuang telah betul-belul menyulap Mageddo menjadi pesantren yang penuh keindahan.Tak heran muncul sebutan baru bagi Mageddo sebagai Universitas Yusuf, diambil dari perjalanan Nabi Yusuf AS yang melewati sebagian masa perjuangannya dalam penjara.
Begitulah respon positif dan kreatif para penegak kebenaran dan peniti jalan dakwah di Palestina dalam meyikapi musibah kezaliman yang menimpa mereka. Seperti kaum Muslim pasca Perang Uhud, mereka bisa menyulap segala hal yang negatif dan penuh madharat menjadi serba positif dan penuh manfaat. Afalaa tatadzakkarun, maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Wallahu a’lam bish shawab.

Cara mudah menikmati musibah

FOTO; gamaisonline.wordpress.com
Musibah selalu datang dan pergi, menghiasi hari-hari dalam kehidupan manusia. Ada yang menghadapi dan menyikapinya secara arif, sehingga musibah itu mendatangkan berbagai kebaikan. Tapi tidak sedikit yang keliru menyikapinya, sehingga musibah justru semakin memperpanjang penderitaan.
Tentu kita ingin sekali mengetahui dan menguasai sikap positif dalam menghadapi musibah. Tapi sebelumnya, mari kita waspadai dahulu beberapa sikap yang keliru menghadapi mesibah.
1. Memandang musibah sebagai kekejaman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) atau kebencian Allah SWT terhadap manusia. Seakan-akan Allah SWT tidak memiliki kasih sayang. Maka musibah tidak membuatnya menjadi sadar serta menyesali kekhilafannya, tetapi membuatnya semakin membenci dan menjauhi Allah SWT. Inilah yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya: “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (Al-Fajr [89]: 16)
2. Tidak mau mengambil pelajaran. Bisa jadi sesungguhnya musibah datang akibat sikap dan perbuatan kita yang lalai atau banyak berbuat zalim karena mengikuti hawa nafsu. Karena itu musibah sebenarnya berfungsi untuk menyadarkan kita dari kesalahan ini. Tapi, banyak di antara manusia yang mengabaikannya. Fiman Allah SWT:
“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (Al-Baqarah [2]: 12)
3. Merasa kecewa dan sedih yang mendalam dan berlarut-larut. Inilah yang menjadi respon otomatis kebanyakan orang ketika tertimpa musibah. Mereka mengeluh sepanjang waktu dan menyalahkan orang lain. Bahkan tidak sedikit yang berputus asa. Padahal sikap seperti ini tidak sedikitpun bisa mengubah musibah yang telah berlalu. Firman Allah SWT:
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih” (Hud [11]: 9)
4. Menolak musibah dengan berbuat syirik. Sering kali kita saksikan kejahilan terjadi di tengah masyarakat yang terkadang dilakukan bukan oleh orang-orang awam saja, tetapi juga orang-orang berpendidikan. Misalnya tradisi memulai pembangunan gedung atau jembatan dengan menanam kepala kerbau, sedekah bumi, nyadran, larung sesaji, dan sejenisnya untuk menghindari bencana.
Padahal semua itu jelas-jelas tindakan bodoh karena tidak ada yang dapat memberikan manfaat serta madharat selain Allah SWT. Permohonan keselamatan kepada selain Allah SWT merupakan perbuatan syirik yang sangat dibenci-Nya. Alih-alih dapat menyelamatkan musibah, malah justru mengundang kemurkaan Allah SWT.
5. Menyesal ketika musibah datang, tetapi mengulang kembali kesalahan yang sama setelah waktu berlalu. Banyak di antara kita yang begitu ketakutaan, memohon pertolongan dan ampunan Allah SWT saat-saat musibah itu datang. Tetapi setelah beberapa saat musibah itu berlalu kita melupakannya, dan kembali seperti semula. Firman Allah SWT:
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan” (Yunus [10]: 12)
Tips Praktis menikmati Musibah
1. Muhasabah Diri
Lakukan muhasabah (evaluasi diri) mengapa musibah itu terjadi? Adakah itu merupakan ujian yang diberikan Allah SWT untuk kita sebagai peningkatan kualitas keimanan? Atau musibah tersebut merupakan teguran atas kekeliruan kita dalam mengelola serta memanfaatkan sumber-sumber daya yang diamanahkan kepada kita, serta atas kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan kepada Allah SWT? Muhasabah ini sangat penting agar kita menyadari titik kesalahan dan kekeliruan kita. Sehingga kita dapat bertindak lebih baik di masa-masa selanjutnya.
2. Menerima dengan Ridha
Terimalah musibah yang kita hadapi dengan hati yang ridha. Jikapun kita tidak ridha dengan apa yang terjadi, hal itu tidak akan bisa mengubah apa yang telah berlalu. Dengan keridhaan justru hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih dan lapang untuk menemukan solusi. Sehingga kita dapat bangkit dengan penuh ketegaran melewati musibah tersebut. Sikap ridha juga akan mendatangkan keridhan serta rahmat Allah SWT atasnya. Firman Allah SWT:
“Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (At-Taubah [9]: 59)
3. Bersabar
Musibah itu selalu terasa pahit dan tidak menyenangkan. Tetapi orang yang sabar akan berusaha menahan perasaan pahit itu dengan ketegaran dan keteguhan hati. Ia menahan diri untuk tidak mengeluh, bersedih yang berkepanjangan atau meratapinya. Hal ini akan berbuah kecintaan Allah SWT, di mana Dia kemudian akan menggantinya dengan pertolongan serta ganjaran Surga. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Setiap sesuatu yang menimpa seorang muslim, seperti kelelahan dan penyakit, juga kegelisahan dan kesedihan, serta aniaya atau kegalauan; hingga duri yang mengenainya, niscaya Allah hapuskan dosa-dosanya.”
4. Bertaubat jika Bersalah
Adakalanya musibah itu diberikan oleh Allah SWT untuk mengingatkan kita atas kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan. Maksudnya adalah agar kita segera sadar dan kembali ke jalan yang benar. Jika kita telah menyadari bahwa ada kekhilafan yang telah kita lakukan, maka bersegeralah untuk bertaubat, yaitu dengan menyesali kesalahan tersebut, berjanji untuk tidak mengulanginya dan berusaha untuk menggantinya dengan amal yang lebih baik.
5. Memahami Sunnatullah
Boleh jadi ibadah kita sudah mantap, akhlak juga sudah baik, tetapi jika perilaku kita terhadap lingkungan di sekitar kita tidak sesuai dengan sunnatullah, maka musibah pun akan tetap datang. Maka kita harus memperbaiki perilaku kita agar tidak bertentangan dengan sunnatullah.
6. Besyukur
Seorang mukmin yang memiliki kualitas iman yang tinggi bukan saja menerima musibah yang datang dengan sabar serta ridha, bahkan dia dapat bersyukur. Dia menyadari bahwa sesungguhnya musibah yang ditimpakan kepadanya sesungguhnya masih belum seberapa dibandingkan dengan yang diterima orang lain. Ini akan menjadikan ia terus bersyukur, karena merasa Allah SWT masih sayang kepadanya. Ia yakin masih ada nikmat iman dan Islam yang lebih berharga dari dunia dan seluruh isinya.
7. Tetap Optimis
Tidak ada alasan untuk berputus asa, harapan hari esok lebih baik selalu terbuka. Kesenangan itu tidak akan terasa jika tidak ada kesedihan. Sehat juga tidak akan terasa jika tidak ada sakit. Harapan yang baik pasti diberikan Allah SWT kepada setiap orang, sebagaimana dijanjikan oleh-Nya:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Al-Insyirah [94]: 5-6).
8. Mendekatkan diri kepada Allah
Puncak dari semua ikhtiar yang kita lakukan untuk menghindari dan menerima musibah itu dengan sebaik-baiknya adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita sadar bahwa Dia mencintai dan menyayangi kita. Maka, apa pun yang diberikan, kita tidak akan menolak-Nya. Dan kita akan tetap setia untuk mencintai-Nya, mentaati perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.
Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman, karena seluruh urusannya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi pada orang-orang yang beriman. Yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesulitan maka iapun bersabar; dan itu menjadi kebaikan baginya.

Alih kepemimpinan ala khulafaur rasidin

FOTO: independen.wordpress
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tak pernah menjelaskan secara rinci tata cara mengangkat seorang pemimpin. Namun, para khalifah setelah beliau, khususnya Khulafa` ar-Rasyidin, telah berijtihad untuk memperoleh format terbaik memilih dan mengangkat pemimpin. Kita perlu meneladani tata cara mereka mengganti seorang pemimpin. Sebab, kata Rasulullah SAW, mereka adalah generasi terbaik. Bahkan, Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya agar mengikuti sunnah para khalifah tersebut.
Nah, dalam Ihwal edisi ini, kami suguhkan paparan sejarah mengenai proses pergantian khalifah yang terjadi di masa Khulafa` Ar Rasyidin dan bagaimana para ulama memetik pelajaran dari proses itu.
Dengan demikian, mudah-mudahan, kita bisa memahami dan mengambil pelajaran. Selamat menikmati. *Thoriq/Suara HidayatullaH MEI 2009
“Konferensi Politik” di Saqifah
Kaum Anshar dan Muhajirin berdebat soal pengganti Rasulullah.
Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) tidak hanya menyisakan duka yang mendalam buat umat Islam, namun juga kehilangan sosok pemimpin yang bisa diterima seluruh kalangan. Apalagi, pengaruh Madinah saat itu sudah demikian meluas. Tak heran, umat Islam harus melalui proses yang ”berat” untuk menentukan siapa pengganti sosok yang sempurna itu.
Sebelum jenazah Rasulullah SAW dikebumikan, kaum Anshar sudah mengadakan pertemuan di Saqifah Banu Sa’idah. Tanpa diketahui pihak Muhajirin, mereka membahas siapa yang hendak menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin.
Hal ini bisa dimaklumi karena beberapa kali kaum Anshar merasa ”ditinggalkan”. Salah satu contoh, ketika Rasulullah SAW memberikan ghanimah (harta rampasan) perang Hunain lebih banyak kepada para ”muallaf” Makkah daripada kaum Anshar. Ini membuat kaum Anshar “marah” karena cemburu.
Untunglah, perasaan cemburu itu hilang setelah Rasulullah SAW memberi nasihat. Kata beliau, sengaja ini dilakukan karena iman kaum Anshar lebih kokoh daripada muallaf Makkah.
”Wahai saudara-saudara Anshar, tidakkah kalian rela jika orang-orang itu pulang membawa kambing dan onta sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian?” Ucapan Rasulullah SAW itu membuat kaum Anshar merasa terharu.
Namun, setelah Rasul wafat, kaum Anshar tidak ingin perlakuan yang bisa membuat cemburu itu terulang. Mereka pun berkumpul. Begitu pentingnya pertemuan itu hingga Sa’ad bin Ubadah, pemimpin kaum Khazraj yang saat itu sedang sakit, diminta hadir.
Dalam pertemuan itu, Sa’ad berpidato di hadapan kaum Anshar. Dia bilang, merekalah yang lebih mulia dibanding Muhajirin karena merekalah yang melindungi Rasulullah SAW selama sepuluh tahun di saat kaum Muhajirin tidak mampu berbuat apa-apa.
Mereka yang hadir pun sependapat dengan Sa’ad. Mereka mengatakan, ”Kami serahkan persoalan ini ke tanganmu. Demi kepentingan kaum Muslim, engkaulah pemimpin kami.”
Namun, pernyataan itu belum final, sehingga bai’at terhadap Sa’ad belum dilakukan.
Sebenarnya, di pihak Anshar sendiri masih ada perselisihan antara kabilah Aus dan Khazraj. Dan, Sa’ad adalah orang yang dicalonkan oleh Khazraj.
Sebelum mereka memeluk Islam, terjadi persaingan keras antara dua kabilah ini. Namun, setelah Islam datang, perseteruan itu sirna, berganti dengan ukhuwwah. Kali ini, semangat persaingan itu muncul kembali.
Datangi Saqifah
Abu Bakar, Umar, serta Abu Ubaidah segera pergi menuju Saqifah setelah mendengar kabar bahwa kaum Anshar telah memperbincangkan masalah kepemimpinan.
Begitu datang, Umar berinisiatif hendak berbicara. Namun, Abu Bakar menahannya. Beliau memahami sifat Umar yang keras.
”Sabarlah! Aku yang akan berbicara. Sesudah itu silakan engkau berbicara sesukamu,” kata Abu Bakar.
Abu Bakar kemudian berpidato. Beliau menjelaskan kelebihan kaum Muhajirin. Merekalah yang lebih dahulu beriman dan berjuang bersama Rasulullah SAW. Mereka pula yang menanggung penderitaan karena membelanya, dan mereka termasuk kerabat dan para sahabatnya, sehingga merekalah yang berhak memegang kepemimpinan.
Tapi, di sisi lain, Abu Bakar juga menyebutkan kelebihan Anshar. Mereka telah membela kaum Muhajirin bersama Rasulullah SAW, hingga jika Muhajirin memimpin maka Anshar pun diikut sertakan. ”Kami amir dan tuan-tuan adalah wazir.”
Perkataan Abu Bakar mampu membuat situasi lebih tenang. Mereka pikir, terpilihnya Muhajirin membuat persaingan antara kaum Aus dan Khazraj melemah.
Akan tetapi, semangat mempertahankan Anshar masih ada. Mereka kukuh berpendapat, kaum Anshar lah yang berhak memimpin.
Abu Bakar mengulangi pernyataan sebelumnya: Muhajirin amir dan Anshar wazir.
Keadaan kembali memanas setelah Al Hubaib bin al-Munzir bin al-Jamuh mengajak Anshar untuk mempertahankan posisi. Umar, yang sebelumnya menahan diri untuk tidak berbicara, kini ikut berdiri dan berbicara, ”Orang-orang Arab tidak akan mengangkat kalian, jika nabinya bukan dari kalian!” Tak terelakkan, suasana di Saqifah menjadi tegang.
Al Hubaib kemudian berdebat sengit dengan Umar. Hingga Abu Ubaidah yang semula diam, angkat berbicara, ”Wahai saudara-saudara Anshar, kalian adalah pihak yang pertama memberikan bantuan, janganlah menjadi pihak pertama yang mengadakan perombakan.”
Basyir bin Sa’ad, salah satu pemimpin Khazraj, menyambut pernyataan Abu Ubaidah. Dia menyatakan, kaum Anshar tidak memiliki tujuan duniawi, juga tidak berhak untuk menyombongkan diri, sehingga hendaknya mereka jangan bertengkar dengan Muhajirin, karena mereka yang lebih berhak menjadi pemimpin.
Kata-kata Basyir membuat suasana Saqifah tenang kembali. Melihat situasi yang mendukung, Abu Bakar langsung mempersilakan para hadirin untuk memilih Umar bin Al Khattab atau Abu Ubaidah. Majelis kembali gaduh, hingga Umar berinisiatif untuk balik menawarkan bai’at kepada Abu Bakar Ash Siddiq.
Dengan suaranya yang lantang, Umar berkata, ”Abu Bakar! Bentangkan tanganmu! Bukankah Nabi menyuruhmu memimpin kaum Muslimin melaksanakan shalat? Engkaulah penggantinya. Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai Rasulullah SAW di antara kita semua.”
Tidak lama kemudian, Abu Ubaidah mengikuti langkah Umar, lalu disusul Basyir bin Sa’ad dari kaum Anshar. Kabilah Aus dan Khazraj juga ikut melakukan bai’at. Ruang Saqifah akhirnya menjadi sesak oleh manusia.
Selanjutnya, seluruh umat Islam membaiat beliau, tidak terkecuali Ali bin Abi Thalib. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009
Boks:
Umat Memilih, Syariat Pedomannya
Para ulama menilai, Abu Bakar dipilih oleh ahlu syura atau ahlu al halli wa al aqdi, yakni para tokoh yang menjadi wakil umat, yang berkumpul di Saqifah.
Karena itulah, mereka berkesimpulan, umat lah sesungguhnya yang mentukan siapa pemimpin. Sebab, ahlu al halli wa al aqdi adalah wakil umat. Sama persis yang dikatakan Khatib Al Baghdadi bahwa penetapan khalifah harus berdasarkan pilihan umat.
Bahkan, Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa kalau seandainya Umar dan beberapa kelompok saja yang membaiat Abu Bakar, sedangkan seluruh sahabat lain menolak, maka Abu Bakar tidak bisa menjadi khalifah. Beliau bisa menjadi khalifah setelah mayoritas sahabat melakukan baiat untuknya.
Tentu, hal ini berbeda dengan ideologi demokrasi, bahwa kekuasaan mutlak di tangan rakyat, dan kehendak rakyat berada di atas segalanya.
Dalam Islam tidak seperti itu. Dalam Islam, ”kehendak syariat” harus didahulukan. Adapun pemilihan pemimpin oleh umat adalah salah satu bentuk taklif (pembebanan) syariat kepada umat dan pemerintah untuk menjalankan salah satu perintah, yakni pemilihan pemimpin. Tapi itu bukan pemberian kekuasaan mutlak kepada rakyat.
Dari argumen Abu Bakar dan Umar, bahwa Muhajirinlah (Quraish) yang berhak memimpin, para ulama seperti Al Mawardi berpendapat bahwa pemimpin harus dari kaum Quraish
Akan tetapi, menurut para ulama kontemporer, seperti Dr Wahbah Az Zuhaili (pakar fikih dari Syiria) syarat ini bukan syarat yang disepakati ulama. Sebagaimana Dr Dziya’ Ar Rais (ahli politik Islam) menyebutkan bahwa syarat ini bukan syarat pokok. Yang penting, khalifah dipilih dengan cara yang syar’i. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009
Boleh Dipilih, Boleh Ditunjuk
Selain dipilih syura, calon khalifah juga bisa ditunjuk sendiri oleh khalifah sebelumnya.
Peristiwa perdebatan di Saqifah sangat melekat dalam pikiran Abu Bakar. Lebih-lebih setelah beliau jatuh sakit. Itulah yang melatarbelakangi ide untuk menunjuk penggantinya. Sebab, jika sewaktu-waktu beliau meninggal, dan belum ada kejelasan siapa penggantinya, ditakutkan kejadian yang lebih buruk dari peristiwa di Saqifah meletus.
Pagi itu, Abu Bakar memanggil Abdurrrahman bin Auf untuk meminta pendapat mengenai Umar. Abdurrahman menilai, Umar adalah orang terbaik, tapi sifat Umar yang keras membuatnya sangsi.
Abu Bakar menjelaskan, kekerasan Umar timbul karena merespon sikap dirinya yang terlalu lembut. ”Kalau saya menyerahkan masalah ini ke tangannya, tentu banyak sifatnya yang akan ditinggalkan,” jelasnya.
Tidak hanya mencukupkan diri dengan pendapat Abdurrahman, Abu Bakar juga memanggil Utsman. ”Isi hatinya lebih baik dari zahirnya, tak ada orang seperti dia di kalangan kita,” jawab Usman.
Abu Bakar juga berdiskusi dengan Sa’id bin Zaid dan Usaid bin Hudair serta beberapa sahabat kalangan Muhajirin dan Anshar. Beliau ingin agar mereka semua sepakat dengan usulan pencalonan Umar sebagai khalifah.
Akan tetapi, tidak seperti yang diharapkan, beberapa pihak merasa keberatan. Dengan meminta izin terlebih dahulu, mereka mendatangi Abu Bakar Ash Siddiq yang terbaring di tempat tidurnya.
Thalhah bin Ubaidillah yang bertugas sebagai juru bicara mengatakan. ”Apa yang hendak engkau katakan kepada Allah jika engkau ditanya mengenai keputusan untuk memilih Umar sebagai pengganti?” Intinya, mereka merasa keberatan, karena sifat keras Umar.
Abu Bakar merasa keberatan dengan kata-kata Thalhah itu. Beliau kemudian memanggil keluarganya dan minta untuk didudukkan. ”Untuk urusan Allah kalian mengancam saya? Demi Allah, saya telah menunjuk pengganti saya yang akan memimpin kalian, dialah yang terbaik di antara kalian!” Abu Bakar menjawab kata-kata Thalhah.
Tidak cukup meminta pendapat kepada para tokoh di kalangan kaum Muslimin, Abu Bakar juga meminta pendapat orang-orang yang berada di masjid kala itu. ”Saya sudah berijtihad untuk menentukan siapa pengganti saya, setujuhkah kalian?” ucap Abu Bakar dari kamar tempat beliau beristirahat. Mereka yang berada di dalam masjid pun menyetujui usulan beliau.
Pada Senin, setelah mata hari terbenam di bulan Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah, Abu Bakar wafat. Alhamdulillah, tidak ada perselisihan karena kaum Muslimin sudah mengetahui bahwa Umarlah yang bakal diangkat menjadi khalifah.
Keesokan harinya, seluruh umat Islam membaiat beliau. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009
Box
Tak Bisa Diwariskan
Kesimpulan para ulama, bahwa pemimpin, disamping ditunjuk oleh ahlu al halli wa al aqdi, bisa juga ditunjuk oleh imam sebelumnya, sebagaimana dilakukan Abu Bakar. Walau demikian, bukan berarti khalifah bisa menunjuk sembarang orang, karena syarat-syaratnya harus juga dipenuhi oleh calon penggantinya.
Penunjukan bisa langsung kepada yang bersangkutan atau hanya disebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh calon pengganti, baik dari kerabat dekat maupun bukan.
Cuma, apakah cukup dengan keputusan khalifah atau harus ada persetujuan dari ahlu al halli wa al aqdi?
Para ulama masih berbeda pendapat.
Imam Al Mawardi, yang sering menjadi rujukan ulama saat ini, memandang keputusan khalifah saja sudah cukup. Tak perlu ada persetujuan atau kerelaan anggota syura. Sebab, penunjukan Umar tidak tergantung pada persetujuan para sahabat.
Namun, para ulama Bashrah mensyaratkan adanya persetujuan anggota syura. Pendapat inilah yang dipilih oleh Dr Wahbah Az Zuhaili. Alasannya, pemilihan khalifah dan anggota syura telah mewakili keridhaan umat. Dan, dalam kenyataanya, ba’iat atas Umar juga mendapat persetujuan umat Islam.
Walau khalifah boleh menunjuk kerabat dan keluarganya, tidak berarti jabatan khalifah boleh diwariskan. Sebab, tidak otomatis anggota keluarga atau kerabat mendapatkan hak untuk menduduki tampuk kepemimpinan.
Ini disebabkan, calon harus ditunjuk terlebih dahulu oleh khalifah, lalu memenuhi syarat, serta mendapat persetujuan dari ahli syura. Begitulah pendapat para ulama Bashrah.
Ibnu Khaldun sendiri menjelaskan bahwa pewarisan tahta bukan termasuk tujuan Islam. Ibnu Hazm juga berpendapat sama, pewarisan tahta itu dilarang. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009

Bisa Juga Diwakilkan Majelis Syura

Khalifah bisa langsung menunjuk penggantinya, bisa juga mewakilkan kepada mejelis syura
Pengangkatan Usman bin Affan
Setelah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu’lu’ah, umat Islam merasa cemas dan khawatir jika sewaktu-waktu Umar meninggal. Siapa kelak yang akan menggantikan kedudukannya? Itulah yang menyebabkan beberapa sahabat mengusulkan kepadanya agar menunjuk pengganti, seperti yang dilakukan Abu Bakar sebelum beliau wafat.
Akan tetapi Umar masih ragu, ”Kalau saya tidak menunjuk pengganti, itu disebabkan karena orang yang lebih baik dari saya sebelumnya tidak menunjuk pengganti. Kalau saya menunjuk pengganti, itu disebabkan orang yang lebih baik dari saya sebelumnya menunjuk pengganti,” Jawab beliau kepada para pengusul.
Namun, setelah berfikir kembali, Umar merasa perlu untuk melakukan sesuatu, hingga kelak kalau dirinya tiba-tiba dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), keadaan tidak kacau. Apalagi, kekuasaan kekhalifahan sudah semakin meluas. Jika terjadi kekacauan akibat kekosongan kepemimpinanan yang terlalau lama, tentu lebih susah untuk mengatasinya.
Sahabat yang bergelar Al Faruq itu akhirnya membentuk majelis syura yang beranggotakan 6 orang. Tugas majelis ini memilih salah satu di antara mereka sebagai khalifah.
Keenam orang tersebut adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas.
Tidak lupa Umar menunjuk Abu Thalhah Al Anshari bersama 50 orang Anshar untuk mengamankan proses musyawarah itu. Dalam waktu 3 hari, pertemuan itu diharapkan sudah membuahkan hasil.
Musyawarah berjalan cukup alot dan sengit hingga memakan waktu dua hari. Di tengah proses pengambilan keputusan, tanpa diduga Abdurrahman bin Auf menarik diri dari pencalonan. Selanjutnya, semua anggota diminta untuk memilih tiga nominator saja yang berhak menjadi khalifah.
Akhirnya, Zubair memberi kuasa kepada Ali, Sa’ad memberi kuasa kepada Abdurrahman, sedangkan Thalhah memberi kuasa kepada Utsman. Karena Abdurrahman tidak ikut serta dalam pencalonan, maka calon yang tersisa hanya tinggal Ali dan Utsman.
Meski tak ikut pencalonan, Abdurrahaman bin Auf tidak berhenti memikirkan siapa sesungguhnya yang layak menjadi khalifah. Abdurrahaman mengajak kaum Muslim Madinah, juga mereka yang tinggal di wilayah daulah Islam, bertukar pikiran mengenai hal itu.
Setelah diskusi panjang, di tengah malam Abdurrahman mendatangi rumah Miswar bin Makramah. Beliau minta dipanggilkan Utsman dan Ali. Kepada keduanya, beliau meminta agar keduanya berjanji, barang siapa kelak terpilih, ia harus berlaku adil, dan yang tidak terpilih, ia harus tetap taat.
Akhirnya, saat azan fajar berkumandang, Abdurrahman, Utsman, dan Ali, bersama-sama menuju masjid. Di saat masjid penuh sesak, Abdurrahman naik ke atas mimbar dan menyatakan bahwa sudah saatnya seluruh umat Islam mengetahui siapa pemimpin mereka kini.
Akhirnya, Abdrurrahman membaiat Utsman, ”Saya sudah melepaskan beban yang dipikulkan di bahu saya dan saya letakkan di bahu Utsman!”
Tak lama kemudian, mereka yang hadir beramai-ramai membaiat Utsman. Tidak terlihat di antara mereka menentang atas hal yang telah diputuskan oleh Abdurrahman bin Auf itu.
Pengangkatan Ali bin Abi Thalib
Pemilihan Utsman sebagai khalifah berbeda dengan pemilihan Ali. Sebab, belum sempat menunjuk pengganti atau membentuk ahli syura, Utsman sudah dibunuh. Sehingga, selama lima hari, umat Islam tidak memiliki pemimpin.
Walau demikian, proses pembaiatan khalifah tidak memakan waktu yang panjang dan tidak terlalu sulit sebagaimana yang terjadi di masa-masa pengangkatan para khalifah sebelumnya. Pasalnya, saat itu semua mata tertuju kepada Ali bin Abi Thalib.
Namun, para sahabat seperti Sa’ad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Umar, belum bersedia membai’at. Bukan tidak setuju, cuma mereka menunggu umat Islam yang lain melakukan bai’at.
Ali pun demikian, beliau berkali-kali didesak agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Karena jabatan bukanlah sesuatu yang dicari, beliau selalu menolak.
Namun desakan kaum Muslimin kepadanya semakin kuat, hingga akhirnya beliau menerima.
Apa yang dilakukan kaum Muslimin pada saat itu untuk mendesak pembai’atan Ali amat masuk akal, karena umat Islam tidak boleh berlama-lama tanpa pemimpin.
Akhirnya, para pembesar Muhajirin dan Anshar membaiat Ali, baik yang berada di Madinah, Mesir, ataupun dibeberapa wilayah lain, kecuali Syam, yang berada di bawah kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. *Thoriq/Suara Hidayatullah MEI 2009
Box
Penunjukan Bisa Diwakilkan
Imam Al Mawardi menilai, apa yang dilakukan Umar bin Khattab sebenarnya sama dengan apa yang telah dilakukan Abu Bakar, yakni sama-sama menunjuk pengganti. Bedanya, Abu Bakar langsung menunjuk Umar sabagai pengganti, sedangkan Umar mewakilkan penunjukan itu kapada syura.
Dari fakta sejarah di atas bisa disimpulkan, peran ahli syura tidak hanya mencalonkan, mereka juga bertugas untuk mencari calon pemimpin yang lebih memenuhi syarat dan paling mudah untuk ditaati oleh umat.
Sedangkan peristiwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib, hampir sama dengan pengangkatan Abu Bakar, yakni melalui proses pengangkatan pemimpin tanpa ada penunjukan dari khalifah sebelumnya.
Dari sejarah pengangkatan 4 khalifah di atas, Dr. Wahbah Az Zuhaili menyimpulkan, keridhaan umat benar-benar menjadi persyaratan yang amat penting terhadap keabsahaan sesorang untuk menjadi pemimpin. Mereka bisa benar-benar menjadi imam setelah mayoritas umat melakukan baiat.
Akan tetapi, di luar cara-cara di atas (penunjukkan imam dan bai’at ahlu syura) ada cara ke tiga yang diakui oleh fuqaha keempat mazhab, yakni khalifah bisa muncul melalui penaklukkan, jika si penakluk memenuhi syarat. Tapi, jika syarat-syarat sebagai khalifah tidak terpenuhi, maka tidak boleh tergesa-gesa memberontak, karena hal itu bisa menimbulkan bahaya yang lebih besar, seperti kekacauan atau pertumpahan darah, kecuali jika ia jelas-jelas kafir.