Laki-laki pemberani itu terbujur kaku dengan dada tercabik-cabik. Sadis! Itulah jasad Hamzah bin Abdul Muththalib, paman dan saudara sepersusuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) yang syahid dalam Perang Uhud. Tangis Rasul SAW pun pecah untuk “Bapak Para Syuhada” itu. Isak tangisnya terdengar seperti rintihan. “Tidak pernah beliau terlihat sedih sesedih itu. Tidak juga pernah terlihat beliau menangis sekeras itu,” kata Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat beliau.
Panorama para syuhada Uhud itu memang sangat mengiris hati. Di sana terbaring 65 orang sahabat beliau dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan seorang dari kaum Yahudi yang telah memeluk Islam.
Angka 70 orang syuhada itu terlalu banyak. Bandingkanlah dengan syuhada Perang Badar yang hanya berjumlah 14 orang, atau de¬ngan jumlah korban tewas dari kaum Musyrikin yang ha¬nya berjumlah 37 orang.
Akibat musibah menyakitkan itu, usai pertempuran, kaum Muslim pulang dalam keadaan terpukul seperti kehilangan harapan. Pada sebagian sahabat sempat muncul sikap apatis, masa bodoh, tidak peduli lagi dengan cita-cita jihad.
Mereka merasa tidak bisa lagi memikirkan kemenangan. Bahkan ada yang sempat mempertanyakan eksistensi kerasulan Nabi SAW. Mereka memandang bahwa seorang Rasul seharusnya tidak boleh kalah.
Dalam perjalanan pulang ke Madinah, mereka sempat larut dalam keputusasaan. Sukses yang dicapai dalam Perang Badar tahun sebelumnya, yang membangun harapan begitu besar akan keberhasilan dakwah Islam, bagai tak memiliki arti lagi.
Membalik Derita
Boleh dibilang kekalahan kaum Muslim di Perang Uhud memang musibah terbesar dalam sejarah awal Islam. Rasulullah SAW sendiri sampai menangis tersedu-sedu akibat derita yang dialami kaum Muslim, sebuah tangis yang tidak pernah diulanginya sepanjang hidupnya.
Namun, hebatnya, setragis-tragisnya musibah itu ternyata hanya mampir sesaat. Dengan bimbingan wahyu ilahiyah serta kepemimpinan efektif Rasulullah SAW, kaum Muslim segera bangkit dari perasaan lemah dan putus asa. Sehingga setiba di Madinah mereka kembali giat beraktivitas seperti biasa. Bahkan diriwayatkan dalam sirah bahwa mereka seperti tidak pernah mengalami kekalahan dalam perang apapun sebelumnya. Sungguh luar biasa!
Apakah gerangan yang dilakukan Rasulullah SAW dan para Sahabat ketika itu sehingga derita batin akibat kekalahan sirna dalam sekejap? Bahkan, perasaan sakit itu malah berbalik menjadi gelombang energi positif yang mengantarkan mereka pada berbagai kemenangan yang teramat fantastis di masa-masa berikutnya?
Yang mereka lakukan adalah berupaya menangkap pesan positif di balik musibah itu dengan menyelami wahyu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) turunkan terkait dengan peristiwa monumental tersebut. Di tengah deraan kesedihan itu Allah SWT memang menurunkan bimbingan-Nya dalam 60 ayat dalam al-Qur`an, yakni yang terdapat dalam surah Ali ‘Imran dari ayat 121 hingga ayat 179.
Pesan Allah SWT tersebut diawali dengan sebuah rekonstruksi tentang latar belakang psiko-historis Perang Uhud (ayat 121). Berikutnya mereka juga menghayati tuntunan Allah SWT di ayat 137 tentang pentingnya rasionalitas dalam memandang masalah. Dalam ayat ini Allah SWT memang mengingatkan bahwa kalah dan menang adalah wajar. Itulah sebabnya pada ayat 140 Allah SWT juga menghibur mereka agar tidak perlu risau dengan kekalahan, karena pihak musuh juga pernah kalah, bahkan lebih parah. Mereka menyadari bahwa kemenangan dan kekalahan adalah piala yang dipergilirkan kepada semua umat. Tak ada umat yang ditakdirkan untuk selalu memenangkan pertarungan, dan tak ada juga umat yang dipaksa kalah selama-lamanya.
Yang tak kalah penting adalah mereka terus memelihara kepercayaan diri agar tidak sampai melorot habis. Mereka sadar bahwa di antara hal yang harus segera dijaga ketat adalah rasa percaya diri. Bagaimana pun keadaannya, baik kalah maupun menang, kaum Muslimin tetap berada pada derajat yang paling tinggi karena mereka beriman.
Itulah yang terjadi pada episode terakhir Perang Uhud. Dengan rasa percaya diri yang tinggi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin tetap berani menantang lawan di Hamraul Asad untuk meredam gejolak yang muncul akibat kekalahan mereka. Dan, dalam riwayat tercatat, pasukan Quraisy akhirnya pulang dengan perasaan cemas kalau-kalau kaum Muslimin akan balik menyerang mereka lebih dahsyat lagi. Ini lantaran tersiar kabar bahwa pasukan Rasulullah SAW mendapat bala bantuan dari Madinah.
Dalam runtutan penjelasan panjang itu, Allah SWT hendak mengajarkan kaum Muslim cara yang tepat untuk menghadapi dan menyikapi musibah. Bahwasanya, musibah yang lebih besar dari kekalahan adalah apabila kita kehi¬langan kemampuan menentukan sikap dalam menghadapi kekalahan itu sendiri.
Penjelasan itu diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut. Allah SWT berfirman:
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihat-kan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran [3]: 179)
Kemenangan di Balik Jeruji
Penjara Mageddo, Israel. Di tempat isolasi yang gelap, sempit, dan kumuh, 1500-an pejuang Pelestina mendekam. Sebanyak 71 persen di antaranya berasal dari HAMAS, 13 persen dari Fatah, dan 8 persen dari kelompok Jihad Islami.
Yahudi terkutuk, yang menjebloskan mereka selama berpuluh tahun, melakukan berbagai tekanan dan penyiksaan. Bangsa biadab itu berusaha mengahancurkan mental dan membunuh karakter mereka. Negara teroris itu ingin membuat mereka stres dan gila.
Tapi alih-alih terpukul depresi, para pejuang justru menjadi semakin kuat. Jeruji besi, dengan aneka penderitaannya, malah melipatgandakan semangat hidup mereka. Apa yang mereka lakukan?
Ammar Ahmad Khalil, remaja 22 tahun, masuk Mageddo ketika meletus intifadha 2001. Tapi, tubuhnya yang lumpuh ditambah berbagai kesengsaraan penjara, sama sekali tak meredupkan jiwanya karena ia hidup dalam telaga kasih sayang dan persaudaraan antar sesama pejuang.
Yang menakjubkan, setelah 14 bulan di penjara, ia malah menjadi hafizh (hafal) al-Qur`an penuh! Lantaran itu, Lembaga Tahfizh al-Qur`an Pusat Palestina mengirimkan penghargaan ke balik jeruji besinya.
Ammar tidak sendirian. Ada 30 puluh tahanan lain yang mendapat penghargaan serupa. Menurut Jama Abdur Rahim Al-Masyani, salah satu alumni Mageddo, setidaknya penjara tersebut telah meluluskan 89 orang hafizh. Ia sendiri, selama 7 bulan mencicipi jeruji, berhasil menghapal 6 juz. Tapi, sebelum gelar hafizh diraihnya, ia keburu dibebaskan.
Seperti Ammar dan Al-Masyani, hampir seluruh tahanan Mageddo mengahabiskan sebagian besar waktunya dengan membaca, mengkaji, dan menghapal al-Qur`an. Karenanya, hampir tidak terdengar suara lolongan kesakitan dan teriakan putus asa di penjara itu. Yang setiap hari terdengar adalah gemuruh bacaan al-Qur`an di seantero penjara Semangat berlomba-lomba mengejar hapalan benar-benar menyala di sana.
Kesibukan menghidupkan penjara dengan al-Qur`an itulah yang membentengi mental dan membakar ruh jihad para pejuang. Kesibukan itu belum termasuk berbagai kegiatan lain seperti daurah dan seminar keislaman, kajian fiqih, tafsir-Hadits dan kajian sirah.
Para pejuang telah betul-belul menyulap Mageddo menjadi pesantren yang penuh keindahan.Tak heran muncul sebutan baru bagi Mageddo sebagai Universitas Yusuf, diambil dari perjalanan Nabi Yusuf AS yang melewati sebagian masa perjuangannya dalam penjara.
Begitulah respon positif dan kreatif para penegak kebenaran dan peniti jalan dakwah di Palestina dalam meyikapi musibah kezaliman yang menimpa mereka. Seperti kaum Muslim pasca Perang Uhud, mereka bisa menyulap segala hal yang negatif dan penuh madharat menjadi serba positif dan penuh manfaat. Afalaa tatadzakkarun, maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Wallahu a’lam bish shawab.
No comments:
Post a Comment