(Sebuah Catatan Untuk Film Ayat-Ayat Cinta)
“Belum baca? Waah…ketinggalan dong,” demikan komentar seorang kawan ketika pertama kali menawarkan novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada saya. Raut mukanya menunjukkan keheranan. Ia seolah tidak menyangka, kalau saya yang punya minat besar di dunia komunikasi dan tulis menulis, ternyata belum membaca novel yang sejak launchingnya hingga saat ini terus menjadi best seller.
Bukannya apa-apa, sejak lama, saya agak muak dengan fiksi-fiksi percintaan gaya Indonesia yang mengumbar nafsu bertabur kata cinta di mana-mana. Namun, seperti pada banyak fiksi islami yang membuka wacana cinta yang berbeda (dalam arti cinta pada Allah), kata “cinta” yang dikolaborasikan dengan kata “ayat” oleh Habiburrahman El Shirazy atau dikenal dengan sebutan Kang Abik, cukup membuat saya tertarik. Maka saya mulai membaca novel dengan sampul depan gambar perempuan bercadar itu.
Itu terjadi kira-kira setahun lalu. Sekarang, novel itu sudah dinikmati penggemarnya dalam bentuk layar lebar. Film AAC, garapan sutradara Hanung Bramantyo yang tayang perdana Februari 2008, membuat semua orang harus antri di mana-mana karena kehabisan tiket.
Ada satu hal yang saya khawatirkan seusai membaca novel AAC. Dan kekhawatiran itu semakin besar saat AAC akan di film-kan. Satu hal mencolok yang saya pikir –juga akan menjadi perhatian dari Kang Abik– sebagai penulis novel AAC. Maklum, dia seharusnya jauh lebih mengerti dari saya yang awam. Sebab, bagaimanapun, dia adalah alumni Al-Azhar. Dalam perspektif Muslimah, novel ini membawa pesan yang tidak mendukung idealisme Muslimah tangguh. Karakter gadis-gadis dalam AAC semakin menguatkan stereotype lemah, khususnya bagi gadis yang jatuh cinta.
Diceritakan bahwa Fachri, aktor utama AAC, setidaknya dicintai oleh empat gadis sekaligus: Maria, Naora, Nurul dan Aisyah. Meskipun tidak salah bagi seorang gadis menyukai seorang pria dan sebaliknya, namun perhatian lebih dari keempat gadis sekaligus menunjukkan betapa cinta pada pria (saja?) telah membuat mereka berkorban luar biasa.
Maria, gadis Kristen koptik yang cerdas memendam rindunya hingga kurus kering; sedang Naora gadis Mesir belia dengan backgroud hidup yang suram berjuang mendapat cinta Fachri dengan cara pengecut, memfitnah Fachri.
Disamping itu, ada Nurul dan Aisyah, keduanya aktivis dakwah dengan karakter Islam yang kuat, dengan tegas menyampaikan cintanya pada Fachri melalui orang lain. Pada perantara tersebut, kedua gadis itu “menawarkan diri” untuk menjadi istri Fachri. Sebuah perbuatan –yang sekali lagi, memang tidak salah– namun sangat naif ditemukan pada aktivis Muslimah saat ini.
Dalam Islam, rasa cinta terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang wajar. Karenanya, pernikahan menjadi satu-satunya cara yang dianjurkan untuk memenuhi fitrah itu. Seorang Muslimah yang merasa siap menikah, dianjurkan berikhtiar dan berdoa sebelum Allah menghendaki ia menyempurnakan diennya. Ikhtiar dan doa itu seharusnya sudah merupakan langkah klimaks perjuangannya memenuhi fitrahnya.
Di sisi lain, ia bisa terus leluasa mengisi hari-harinya dengan ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Bukannya larut memikirkan pria yang ia cintai sehingga mengorbankan fisiknya, perasaannya, waktunya serta kesempatan-kesempatan amal shalih lainnya. Hal inilah mungkin yang lepas dari perhatian Kang Abik yang cenderung melekatkan karakter lemah pada tokoh-tokoh gadis dalam AAC. Inilah yang nampaknya tak dipahami (atau memang tak dimengerti?) oleh Kang Abik dan sutradara.
Tentu saja, Kang Abik sangat berhak untuk menentukan seperti apa alur cerita dan karakter tokoh-tokoh yang akan dimainkan dalam novelnya. Seperti dikatakan Ustadz Abu Ridho dalam sambutannya di halaman depan novel AAC, novel ini bukan hanya novel cinta tapi juga membawa pesan budaya, politik, dan tentu saja pesan-pesan Islam yang indah.
Sayangnya, semua pesan itu harus rela tergeser oleh kuatnya pesan cinta horisontal yang ditampilkan lewat penokohan keempat gadis yang berburu cinta Fachri, dengan caranya masing-masing. Hal inilah yang tidak dapat dipungkiri, menjadi pesan utama yang terekam dalam memori para perempuan dan remaja putri sebagai mayoritas penggemar novel AAC.
Hal ini pula agaknya yang membuat sutradara muda yang sedang naik daun seperti Hanung, tanpa berpikir panjang bertekad menampilkan “dahsyatnya” fenomena cinta novel laris ini dalam layar lebar. Fenomena inilah yang begitu kuat ditonjolkan dalam film Hanung yang juga menyutradarai Get Married. Kenyataannya, di Indonesia, film bergenre drama romantis selalu diserbu penonton.
Sementara Fachri yang dalam novel digambarkan sebagai mahasiswa Islam miskin yang militan dan haus ilmu, yang hari-harinya dipenuhi dengan perjuangan mencari ilmu, menyambung hidup dengan bekerja sebagai penerjemah dan aktivitas dakwah lainnya, justru nyaris tidak tampak dalam film AAC. Yang nampak adalah gadis-gadis berjilbab “berburu” seorang pemuda bernama Fachri.
Benarkah Islami?
Fenomena pragmatis ini agaknya perlu dicermati dan dijadikan pertimbangan oleh penulis Islam yang karya tulisnya diminati orang untuk di audio visual-kan. Dan bagi kita juga, target konsumennya. Supaya nilai-nilai Islam yang ingin mereka sampaikan tidak memudar dan menjadi ambigu ketika pesan tulisan berpindah menjadi pesan audio visual.
Hanung benar, ketika dalam sebuah tayangan infotaintment mengatakan, “Bagaimapun berbeda karya novel aslinya dengan film AAC”. Meski demikian, Kang Abik dan Hanung, harusnya lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat. Seorang Muslimah sejati, mustahil secara sporadis “berburu” pria yang ia sukai. Sebab itu bukan jiwa seorang Muslimah.
Dan jangan keliru, secara psikologis, bagi sebagaian orang, karya foto dan audio-visual, selain menciptakan efek dramatis, juga melahirkan pencitraan “imagery” bagi orang yang menontonnya. Akan jauh berbeda bagi orang yang membaca novel Herry Potter dengan melihat sendiri film nya.
Begitu juga dengan film AAC ini. Dalam novel, tak pernah diceritakan bagaimana cara pengungkapan rasa cinta secara fisik seorang Muslimah dengan seorang pria. Dengan menunjukkan adegan sentuhan lawan jenis, apalagi sampai terjadi adegan ciuman, langsung menunjukkan itu bukan tipe dan model gadis-gadis Muslim yang sesungguhnya.
Dengan menampilkan adegan –yang katanya islami itu— maka, efek visual film ini akan memberikan citra barunya kepada para penonton remaja bahwa pacaran bagi Muslimah itu boleh. Mau tahu caranya? Lihatlah film AAC.
Tanpa mengurangi rasa kagum saya pada Kang Abik maupun Hanung, saya tetap menyampaikan ucapan selamat atas kesuksesan mencoba menghasilkan karya –yang ia anggap– sebagai islami itu. Tapi maaf, saya tetap merasa agak kecewa. Sebab istilah ‘islami” yang ia maksud tak saya lihat, kecuali hanya ada gadis-gadis Muslim berjilbab. Yang dominan hanya kemesraan dan sensasi melankolis. Lalu, ke mana lagi saya bisa berharap ada film-film lebih islami, yang menceritakan khasanah kekayaan Islam tanpa harus kehilangan rasa kreativitasnya?
“Belum baca? Waah…ketinggalan dong,” demikan komentar seorang kawan ketika pertama kali menawarkan novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) pada saya. Raut mukanya menunjukkan keheranan. Ia seolah tidak menyangka, kalau saya yang punya minat besar di dunia komunikasi dan tulis menulis, ternyata belum membaca novel yang sejak launchingnya hingga saat ini terus menjadi best seller.
Bukannya apa-apa, sejak lama, saya agak muak dengan fiksi-fiksi percintaan gaya Indonesia yang mengumbar nafsu bertabur kata cinta di mana-mana. Namun, seperti pada banyak fiksi islami yang membuka wacana cinta yang berbeda (dalam arti cinta pada Allah), kata “cinta” yang dikolaborasikan dengan kata “ayat” oleh Habiburrahman El Shirazy atau dikenal dengan sebutan Kang Abik, cukup membuat saya tertarik. Maka saya mulai membaca novel dengan sampul depan gambar perempuan bercadar itu.
Itu terjadi kira-kira setahun lalu. Sekarang, novel itu sudah dinikmati penggemarnya dalam bentuk layar lebar. Film AAC, garapan sutradara Hanung Bramantyo yang tayang perdana Februari 2008, membuat semua orang harus antri di mana-mana karena kehabisan tiket.
Ada satu hal yang saya khawatirkan seusai membaca novel AAC. Dan kekhawatiran itu semakin besar saat AAC akan di film-kan. Satu hal mencolok yang saya pikir –juga akan menjadi perhatian dari Kang Abik– sebagai penulis novel AAC. Maklum, dia seharusnya jauh lebih mengerti dari saya yang awam. Sebab, bagaimanapun, dia adalah alumni Al-Azhar. Dalam perspektif Muslimah, novel ini membawa pesan yang tidak mendukung idealisme Muslimah tangguh. Karakter gadis-gadis dalam AAC semakin menguatkan stereotype lemah, khususnya bagi gadis yang jatuh cinta.
Diceritakan bahwa Fachri, aktor utama AAC, setidaknya dicintai oleh empat gadis sekaligus: Maria, Naora, Nurul dan Aisyah. Meskipun tidak salah bagi seorang gadis menyukai seorang pria dan sebaliknya, namun perhatian lebih dari keempat gadis sekaligus menunjukkan betapa cinta pada pria (saja?) telah membuat mereka berkorban luar biasa.
Maria, gadis Kristen koptik yang cerdas memendam rindunya hingga kurus kering; sedang Naora gadis Mesir belia dengan backgroud hidup yang suram berjuang mendapat cinta Fachri dengan cara pengecut, memfitnah Fachri.
Disamping itu, ada Nurul dan Aisyah, keduanya aktivis dakwah dengan karakter Islam yang kuat, dengan tegas menyampaikan cintanya pada Fachri melalui orang lain. Pada perantara tersebut, kedua gadis itu “menawarkan diri” untuk menjadi istri Fachri. Sebuah perbuatan –yang sekali lagi, memang tidak salah– namun sangat naif ditemukan pada aktivis Muslimah saat ini.
Dalam Islam, rasa cinta terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang wajar. Karenanya, pernikahan menjadi satu-satunya cara yang dianjurkan untuk memenuhi fitrah itu. Seorang Muslimah yang merasa siap menikah, dianjurkan berikhtiar dan berdoa sebelum Allah menghendaki ia menyempurnakan diennya. Ikhtiar dan doa itu seharusnya sudah merupakan langkah klimaks perjuangannya memenuhi fitrahnya.
Di sisi lain, ia bisa terus leluasa mengisi hari-harinya dengan ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Bukannya larut memikirkan pria yang ia cintai sehingga mengorbankan fisiknya, perasaannya, waktunya serta kesempatan-kesempatan amal shalih lainnya. Hal inilah mungkin yang lepas dari perhatian Kang Abik yang cenderung melekatkan karakter lemah pada tokoh-tokoh gadis dalam AAC. Inilah yang nampaknya tak dipahami (atau memang tak dimengerti?) oleh Kang Abik dan sutradara.
Tentu saja, Kang Abik sangat berhak untuk menentukan seperti apa alur cerita dan karakter tokoh-tokoh yang akan dimainkan dalam novelnya. Seperti dikatakan Ustadz Abu Ridho dalam sambutannya di halaman depan novel AAC, novel ini bukan hanya novel cinta tapi juga membawa pesan budaya, politik, dan tentu saja pesan-pesan Islam yang indah.
Sayangnya, semua pesan itu harus rela tergeser oleh kuatnya pesan cinta horisontal yang ditampilkan lewat penokohan keempat gadis yang berburu cinta Fachri, dengan caranya masing-masing. Hal inilah yang tidak dapat dipungkiri, menjadi pesan utama yang terekam dalam memori para perempuan dan remaja putri sebagai mayoritas penggemar novel AAC.
Hal ini pula agaknya yang membuat sutradara muda yang sedang naik daun seperti Hanung, tanpa berpikir panjang bertekad menampilkan “dahsyatnya” fenomena cinta novel laris ini dalam layar lebar. Fenomena inilah yang begitu kuat ditonjolkan dalam film Hanung yang juga menyutradarai Get Married. Kenyataannya, di Indonesia, film bergenre drama romantis selalu diserbu penonton.
Sementara Fachri yang dalam novel digambarkan sebagai mahasiswa Islam miskin yang militan dan haus ilmu, yang hari-harinya dipenuhi dengan perjuangan mencari ilmu, menyambung hidup dengan bekerja sebagai penerjemah dan aktivitas dakwah lainnya, justru nyaris tidak tampak dalam film AAC. Yang nampak adalah gadis-gadis berjilbab “berburu” seorang pemuda bernama Fachri.
Benarkah Islami?
Fenomena pragmatis ini agaknya perlu dicermati dan dijadikan pertimbangan oleh penulis Islam yang karya tulisnya diminati orang untuk di audio visual-kan. Dan bagi kita juga, target konsumennya. Supaya nilai-nilai Islam yang ingin mereka sampaikan tidak memudar dan menjadi ambigu ketika pesan tulisan berpindah menjadi pesan audio visual.
Hanung benar, ketika dalam sebuah tayangan infotaintment mengatakan, “Bagaimapun berbeda karya novel aslinya dengan film AAC”. Meski demikian, Kang Abik dan Hanung, harusnya lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat. Seorang Muslimah sejati, mustahil secara sporadis “berburu” pria yang ia sukai. Sebab itu bukan jiwa seorang Muslimah.
Dan jangan keliru, secara psikologis, bagi sebagaian orang, karya foto dan audio-visual, selain menciptakan efek dramatis, juga melahirkan pencitraan “imagery” bagi orang yang menontonnya. Akan jauh berbeda bagi orang yang membaca novel Herry Potter dengan melihat sendiri film nya.
Begitu juga dengan film AAC ini. Dalam novel, tak pernah diceritakan bagaimana cara pengungkapan rasa cinta secara fisik seorang Muslimah dengan seorang pria. Dengan menunjukkan adegan sentuhan lawan jenis, apalagi sampai terjadi adegan ciuman, langsung menunjukkan itu bukan tipe dan model gadis-gadis Muslim yang sesungguhnya.
Dengan menampilkan adegan –yang katanya islami itu— maka, efek visual film ini akan memberikan citra barunya kepada para penonton remaja bahwa pacaran bagi Muslimah itu boleh. Mau tahu caranya? Lihatlah film AAC.
Tanpa mengurangi rasa kagum saya pada Kang Abik maupun Hanung, saya tetap menyampaikan ucapan selamat atas kesuksesan mencoba menghasilkan karya –yang ia anggap– sebagai islami itu. Tapi maaf, saya tetap merasa agak kecewa. Sebab istilah ‘islami” yang ia maksud tak saya lihat, kecuali hanya ada gadis-gadis Muslim berjilbab. Yang dominan hanya kemesraan dan sensasi melankolis. Lalu, ke mana lagi saya bisa berharap ada film-film lebih islami, yang menceritakan khasanah kekayaan Islam tanpa harus kehilangan rasa kreativitasnya?
No comments:
Post a Comment